
Keesokan harinya rangga melakukan aktivitas seperti biasanya, mengantar Alea kemudian bekerja.
"Ini draft penawaran kerja sama dengan perusahaan pak setiadji, jika menurut loe udah oke, loe tanda tanganin agar bisa gue di follow up" Edwar menyerahkan berkas penawaran kerja sama kepada Rangga.
"Oke, gue pelajari dulu ya" Rangga membaca dengan teliti halaman demi halaman berkas tersebut sambil sesekali mendengarkan penjelasan Edward.
"Jika project ini berjalan, kita akan mendapatkan keuntungan 70% dari nilai kontrak dan itu cukup untuk menutup project yang terbengkalai kemarin" terang Edwar.
"Okay, silahkan loe follow up" rangga menandatanganinya dan memberikan kembali ke Edwar.
Edwar pun keluar dari ruang kerja Rangga dan mengerjakan sesuai dengan yang di perintahkan oleh Rangga.
Pukul 14.30 saat Rangga hendak menjemput putrinya, Edwar kembali masuk ke ruang kerja Rangga.
"Mau kemana loe?" tanya Edwar
"Biasa, jemput Alea" jawab Rangga datar.
"Sebentar, gue ada info penting buat loe" Edwar menahan Rangga pergi.
"Apa, buruan. Gue mau jemput Alea" Rangga semakin tidak sabar terhadap Edwar.
"Gue udah menghubungi pihak perusahaan Pak Setiadji, namun staffnya mengatakan jika Pak Setiadji ingin bertemu dengan loe."
"loh kenapa harus gue, bukankah urusan project biasanya cukup Alex manager project kita saja" ucap Rangga agak sedikit heran.
"Iya tapi beliau ingin bertemu dengan loe. Gimana mau gak?"
__ADS_1
Rangga berfikir sejenak, ia teringat akan janjinya dengan Nindy yang akan mengantarnya ke Surabaya.
"Ya sudah, suruh Edgar menjadwalkan pertemuanku dengan beliau" Rangga menepuk pundak Edwar, kemudian pergi menjemput putrinya.
Mendekat ke arah sekolah putrinya, dari kejauhan Rangga sudah melihat putrinya tengah menunggunya di depan gerbang, begitu Rangga menepikan kendaraannya di depan putrinya, Alea pun langsung masuk ke dalam.
"Sudah lama nunggunya?" tanya Rangga.
"Tidak kok Yah, aku baru saja keluar" Alea mencium tangan dan pipi ayahnya "Oh ia Yah, besok aku ajak teman-temanku ke rumah lagi ya untuk belajar bersama"
"Iya sayang, berapa orang?" tanya Rangga sambil mengemudikan kendaraannya.
"Cuma lima orang kok Yah"
"Ya sudah, semangat ya belajarnya" Rangga mengelus kepala putrinya dengan lembut.
Ia pun memperlambat laju kendaraannya agar motor tersebut menyalip ke depan kendaraannya. Dugaan Rangga benar, motor tersebut adalah motor yang mengantar Nindy dan Nindy pun ada di belakangnya.
Dengan rasa penasaran Rangga pun mengikuti Nindy dari belakang.
"Loh itu bukannya Kak Nindy?" tanya Alea yang menyadari jika di depannya adalah Nindy.
Rangga hanya menganggukan kepalanya, ia berkonsentrasi berkendara agar tak kehilangan jejaknya.
"Ayah mengejar Kak Nindy?" tanya Alea, saat menyadari Ayahnya tak belok ke arah kediamannya.
"Ayah ingin tahu saja sayang, kamu tidak keberatankan?" tanya Rangga.
__ADS_1
"Terserah Ayah sajalah!!" Alea yang lelah setelah pulang sekolah memilih untuk tidur di samping Ayahnya.
Saat Rangga melihat motor yang membawa Nindy pergi terparkir di pinggir jalan, Rangga pun menepikan mobilnya.
Rangga turun dari mobilnya berjalan masuk ke rumah-rumah kumuh yang berada di bawah kolong jembatan, samar-samar ia mendengar suara Nindy, Ranggga pun menghampirinya.
Dari kejauhan Rangga melihat Nindy dan teman prianya sedang mengajar anak-anak yang kurang beruntung yang tinggal di kawasan tersebut.
Secara kebetulan Nindy melihat Rangga yang tengah memperhatikannya.
"Sebentar ya anak-anak, Kak Nindy ke sana dulu" Nindy pun menghampiri rangga.
"Ada apa Pak Rangga kemari? Pak Rangga mengikuti saya?" tanya Nindy curiga.
"Ayo pulang!!!" Rangga menarik tangan Nindy, namun Nindy menepisnya.
"Bapak tidak lihat saya sedang mengajar?" tanya Nindy dengan kesal karena merasa Rangga seenaknya dengannya.
"Tapi kamu juga harus mengajar Alea!" ucap Rangga dengan nada tinggi.
"Ini masih sore Pak, saya pastikan jika saya tidak akan terlambat datang ke rumah Pak Rangga." ucap Nindy dengan tegas.
"Saya tidak ingin kamu salah bergaul lagi!!" bentak Rangga.
"Ooh itu." Nindy mulai mengerti arah pembicaraan Rangga.
"Dia Riyan, Ketua BEM di kampus. Dia orang yang sangat baik dan sopan, dia juga yang mengajak saya untuk mengajar di sini. Apa ada yang salah membagi sedikit ilmu terhadap anak-anak kurang beruntung? Saya tidak seburuk yang Pak Rangga fikirkan, setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah" Nindy kembali mengajar, meninggalkan Rangga.
__ADS_1