
Sebuah tangan kekar memegang bahu Cantika dari arah belalang, refleks membuat nya terlonjak kaget dan membalikkan tubuh
"Mau pergi ke mana sayang?"
Gilang menyeringai melihat wajah Cantika yang berubah ketakutan begitu melihat nya. dan menarik kasar tangan Cantika menuju kamar tidur nya.
"Kak Gilang tolong lepaskan aku, tanganku bisa patah" berusah terus memberontak meski tahu tenaganya kalah banyak dari tangan kekar Gilang.
Madam Jane mengintip dari balik dapur, ikut menangis melihat gadis malang itu, sambil mondar-mandir bingung harus berbuat apa, madam Jane merupakan orang kepercayaan keluarga Gilang yang ditugaskan untuk mengurus apartemen mereka yang dibelanda. Madam Jane sudah cukup lama mengenal keluarga Gilang, dia tidak habis pikir dengan perubahan sikap anak majikan nya itu sekarang.
Teriak Cantika semakin menjadi, membuat madam Jane terus memegang dadanya yang terasa sesak, tiba-tiba dia teringat sesuatu. dengan bersembunyi madam Jane menghubungi ibunya Gilang dengan suara sangat pelan.
"Hallo Jane kenapa dengan suara mu terdengar begitu pelan ? tidak terjadi sesuatu kan disana ? ibu Gilang mulai merasakan sesuatu gelagat yang aneh, apalagi pernah berdebat dengan putranya yang berniat pergi ke Belanda untuk menemui Cantika.
Madam Jane menceritakan semua nya, tanpa terkecuali, sambil sesekali melihat keluar ruangan tempat nya menginip takut Gilang akan memergoki.
__ADS_1
"Astaga Gilang, kenapa kamu jadi seperti itu nak" tangis ibu Gilang pecah menyesali perbuatan anak semata wayangnya.
Ibu Gilang kemudian menghubungi ponsel anaknya itu, namun tidak pernah diangkat dan panggilan nya pun selalu dialihkan, dengan kesal dia mengutarakan kepada suaminya untuk menyusul Gilang ke Belanda.
"Baiklah aku akan segera pergi ke Belanda" ucap papa nya Gilang dan menghubungi Asisten pribadi nya untuk memesan tiket pesawat penerbangan pertama untuk besok pagi nya.
Sementara dikamar nya Cantika terus menangis dan memohon
"Kak Gilang tolong lepaskan Cantika hu...hu...aku mohon kak, ampunilah Cantika,,"
Cantika terus menangis dan terjatuh menunduk dilantai sambil menegang kedua belah kaki Gilang. berharap Gilang akan berbelas kasihan melihatnya. namun usaha Cantika sia sia belaka.
"Jangan pernah coba-coba untuk kabur dari ku, jika kamu masih ingin melihat keluarga mu bernafas"
Gilang tanpa perasaan kembali melucuti pakaian Cantika, dan mengulangi penyatuan tubuh mereka, tanpa peduli Isak tangis Cantika yang begitu memilukan. bagi orang yang mendengarnya
__ADS_1
Setelah puas melakukan nya berkali-kali, Gilang menyeringai merebahkan tubuhnya di samping Cantika yang sudah tidak berdaya lagi, tidak ada lagi pemberontakan dan isak tangis yang keluar, hanya air mata yang terus menerus mengalir.
Lama Cantika tertidur, hingga tangan lembut seseorang menguncang pelan tubuhnya
"Bangun Nak, sudah waktunya makan dan minum obat" ucap madam Jane sambil tersenyum sayang dan membantu merapikan rambut Cantika yang hampir menutupi sebagian wajahnya
Cantika melirik ke samping nya, sudah tidak ada lagi Gilang yang tidur disana,
"Dia sudah pergi Nak" Madam Jane sudah mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh Cantika
Pandangan Cantika terkini kosong dan hampa, sudah tidak ada lagi air mata yang menetes dari pipi mungilnya,
Madam Jane mengambil kan Piyama untuk menutupi tubuh Cantika yang polos tanpa sehelai benang pun, hanya selimut tebal lah yang menjadi penutup nya sekarang. Cantika perlahan menurunkan kakinya untuk melangkah menuju kamar mandi, Cantika merasa jijik dengan tubuhnya sendiri, dimana mana sudah terdapat bekas permainan gila Gilang.
"Ayo sayang"Madam Jane membantu Cantika berjalan menuju kamar mandi, yang sudah terlebih dahulu sudah disiapkan madam Jane dengan aroma terapi yang begitu menenangkan dalam bactub. agar Cantika bisa berendam dan menenangkan pikiran nya kembali.
__ADS_1
Madam Jane membantu Cantika mandi, dan mengenakan pakaian nya
"Bantu aku kabur Madam" ucap Cantika dengan tatapan kosong kedepan