
Satu bulan berlalu, Zein masih saja dengan sikap dingin nya. mengacuhkan Larasati yang mulai agresif terhadap Zein. Larasati jatuh cinta pada sikap acuh Zein, dia merasa tertantang untuk mendapatkan cinta Zein, selama ini kehidupan yang mewah dan bergelimang harta, Larasati bisa mendapatkan apa yang diinginkanya. termasuk daftar cowok tampan yang mengejar cinta Larasati.
Semua berubah semenjak, Gilang anak teman bisnis papanya jatuh cinta pada Larasati. dan papa juga menyambut baik keinginan Gilang tersebut. tanpa peduli dengan umur Larasati masih muda dan baru tahun ini menyelesaikan pendidikan SMA-nya.
Tanpa sepengetahuan dan persetujuan Larasati, papa mengumumkan hari pertunangan nya dan Gilang, Larasati yang keras kepala dan tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Gilang lebih memilih untuk kabur.
Papa Larasati dan Gilang juga mempunyai bisnis yang sama, mereka juga termasuk mafia kelas kakap yang menghalalkan segala cara. untuk mendapatkan apa yang diinginkan dan demi kelancaran bisnis mereka.
Hari ini penampilan Zein sangat elegan, Larasati yang memperlihatkan seakan tidak bisa mengedipkan mata lagi. dia begitu terpesona meski selalu dibalas dengan ke jutekan oleh Zein.
Zein berencana menghadiri pesta besar tujuh bulanan kehamilan Anyelir, yang diadakan disalah satu hotel berbintang. sebenarnya dia ingin mengajak Larasati, dia juga memiliki perasaan yang spesial terhadap gadis itu, serta merasa kasihan selama ini Larasati menghabiskan waktu dirumah saja.
Tapi kembali diurungkan nya. dia tidak ingin Rama dan keluarga nya salah sangka nanti, mengingat mereka telah tinggal bersama satu bulan lebih. Zein akan cari waktu yang tepat. atau lebih tepatnya Zein belum punya keberanian untuk mengandeng cewek apalagi dihadapan bos Rama nya.
"Om mau kemana? kok tampan amat?" tanya Larasati.
__ADS_1
"Bukan urusan mu?" jawab Zein tanpa menoleh ke Larasati
"Om aku ikut ya.?" ucap nya memasang wajah seimut mungkin sambil mengedipkan mata berkali-kali.
Zein hampir saja meleleh jiwa jomlo nya, menyaksikan keimutan dan kecantikan Larasati. yang masih dengan jiwa kekanak-kanakan. namun kembali Zein menguasai diri.
"Tidak bisa, ini acara khusus orang dewasa. anak kecil tidak boleh ikut" ucap Zein berjalan menuju mobil nya.
Larasati mengejar dan menghalangi dengan merentangkan tangan nya, tepat didepan pintu mobil Zein
Zein mendorong pelan Larasati ketepi, dan masuk ke dalam mobil, muka nya memerah dan masih kaget dengan apa yang baru saja terjadi.
"Gadis kecil ini telah merampas ciuman pertama ku, yang sengaja ku jaga dan akan aku persembahkan untuk istri ku nanti" ucap Zein.
memegang pipinya. masih terasa hangat dan lembut kecupan bibir Larasati itu.
__ADS_1
Zein memutar mobilnya, sekilas dilirik nya Larasati lewat kaca spion mobil, nampak gadis itu kesenangan dan tanpa rasa bersalah sedikitpun. seolah tidak terjadi apa-apa.
"Dasar ABG labil." gerutu Zein, terukir senyuman kecil disudut bibirnya. dan melajukan mobilnya membelah jalanan ibukota.
Larasati masuk kedalam kamar, dengan perasaan berbunga-bunga.
"Ternya Om Zein itu wangi banget, membuat ku ketagihan buat nyium dia lagi" ucap nya, sambil tertawa bahagia.
Larasati memeriksa dompet kecil yang terselip kantong bajunya kemaren, dia memang gadis yang cerdik karena berhasil kabur dan membawa sebuah kartu ATM, serta debit card yang dibuatnya sendiri dan mengambil seluruh isi nya dari ATM yang diberikan oleh papanya. ditambah lagi tabungan pribadi nya, yang tidak diketahui papa dan Mama tirinya.
Bisa saja di menyewa hotel mewah dan membeli Apartemen, tapi diurungkan nya, setelah tertarik dengan wajah tampan Zein, yang mana umur mereka terpaut cukup jauh.
Larasati
__ADS_1