
"Sayang, hari ini aku benar-benar merasa bahagia sekali. karena sudah bisa mewujudkan keinginan terbesarku, untuk mengadakan pesta pernikahan kita, meskipun ketika kita telah mempunyai tiga orang anak dari pernikahan ini." ucap Rama. disela-sela kesibukannya membalas salam dan ucapan selamat dari tamu yang berdatangan.
"Iya Pi...., semoga mama dan kedua almarhum orang tuaku. ikut bahagia menyaksikan kita dari atas sana" jawab Anyelir sambil mengapit lengan Rama.
"Mi rasanya tidak sabar lagi, untuk menikmati malam pertama kita" bisik Rama tersenyum mesum
"Apa.?"
Anyelir membulat kan matanya, dia tidak menyangka jika sifat mesum suaminya tidak pernah berubah. meskipun sudah mempunyai tiga orang anak.
"Kenapa mami kaget gitu, di mana-mana. kalau habis pesta pernikahan itu. kedua pengantin baru harus melakukan malam pertama mereka" ucap Rama cuek
"Tapi kita ini kan pengantin lapuk Pi.!"
"Lapuk gimana mi, papi masih kuat Lo. jika perlu papi minum' jamu kuat tiga gelas sekaligus. biar Mak nyoss."
__ADS_1
"Ih... Papi" Anyelir bergidik ngeri membayangkan
Mereka tidak menyadari, jika dua pasang mata memperhatikan mereka yang bisik-bisik sedari tadi. dan berjalan mendekati.
"Duuuuhhhh senangnya, pengantin baru kita ini" goda Sinta dan Rangga yang ikut menghadiri pesta pernikahan itu.
"Tentu dong" canda Rama
"Selamat ya atas pesta pernikahan kalian, doaku semoga kalian selalu bersama sampai kakek-nenek. dan bahagia selalu dengan ketiga buah hati kalian" ucap Sinta
"Sudahlah, itu masa lalu Rangga. lagian kamu melakukan semua itu karena ingin melindungi keluargaku." Rama mencoba berfikir bijak dan mengambil hikmah dari semua kejadian masa lalunya.
"Eh ....,, ada sikembar juga, kalian berdua apa kabarnya Sayang.?" sapa Anyelir gemas melihat kedua putra-putri Rangga dan Sinta
"Baik Tante" jawab mereka kompak
__ADS_1
"Ngomong-ngomong aku kok ngak melihat Zein ya, asisten yang selalu setia bersamamu kemanapun dulu" Rangga mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Zein tidak bisa datang, semalam dia sudah mengabariku. mengingat kesibukannya. serta kondisi fisik Larasati yang belum pulih sepenuhnya" jawab Rama
"Oooo, begitu" Rangga manggut-manggut memaklumi.
Setelah pertemuan yang diselingi perbincangan hangat itu, Rangga mengajak istrinya menikmati makanan dan minuman, serta kuliner khas daerah Anyelir, yang terlihat sangat menggugah selera. sementara kedua anak mereka lebih memilih untuk bermain bersama Zio dan Aira.
Bi Romlah, tidak mampu untuk menahan rasa harunya, dia menghapus air matanya berkali-kali. dia sangat senang melihat kebahagiaan keponakannya itu, meskipun tidak ada dipungkiri kesalahan masa lalunya. yang begitu egois dan pernah memanfaatkan keluguan Anyelir, demi keuntungan pribadinya dan Rendi anak satu-satunya bi Romlah.
Bi Romlah, pernah meminta maaf kepada Anyelir secara langsung, untuk meringankan rasa bersalahnya. dengan lapang dada Anyelir memaafkan dan mengatakan jika bibinya itu tidak bersalah terhadap dirinya.
Melihat hal itu, Rama bertambah bangga melihat ketulusan hati sang istri. serta niatnya yang kuat untuk membantu sesama. Rama jug mengakui jika Anyelirlah yang mengubah sikap angkuh, dan sesuka hati nya selama ini.
Acara cukup meriah, setelah pesta usai. masih ada beberapa tamu yang memilih untuk menginap di villa Rama yang cukup besar itu. mereka memanfaatkan momen itu, sekalian sebagai liburan karena keindahan alam dan kebersihan udara pegunungannya. termasuk Sinta dan Rangga.
__ADS_1