
Pesta Pernikahan Zein dan Larasati berlangsung cukup meriah, tapi Rama lebih suka menyendiri menyusuri tepi pantai malam hari, sambil menikmati cahaya bulan dan bintang.
Pikiran Rama menerawang jauh, dia teringat Anyelir dan Zio kedua orang yang sangat berarti dalam hidup nya. berat bagi Rama berpisah lama dari mereka berdua, mengingat begitu banyak cobaan dan rintangan yang mereka hadapi selama ini. segera Rama berniat untuk menghubungi Anyelir, namun kembali diurungkan lagi mengingat sekarang sudah malam dan tentu nya Anyelir dan Zio sudah tidur.
Kehamilan kedua nya ini, Anyelir memang lebih suka bermalas-malasan dan menghabiskan waktu di tidur kamar. dari pada melakukan aktivitasnya yang lain. untung ada Mama dan bibi Romlah yang selalu wanti Anyelir agar berolahraga ringan biar proses melahirkan nya nanti bisa mudah.
Zio kecil udah rewel menanyakan keberadaan papinya, semenjak berkumpul kembali, sesibuk apapun Rama selalu menyempatkan diri bermain-main dengan Zio. untunglah untuk hari ini Rangga dan Sinta berkunjung dan membawakan mainan anak laki-laki yang baru, kesukaan Zio, sekaligus memberikan kabar tentang pesta pernikahan mereka yang akan diadakan sebentar lagi.
__ADS_1
Anyelir ikut senang menerima kabar bahagia ini, baginya Rangga dan Sinta bukan orang lain lagi, mereka sudah seperti saudara. mengingat begitu banyak permasalahan yang rumit menghampiri Anyelir, dimana Rangga dan Sinta selalu ada untuk membantu. maupun kenangan indah kebersamaan mereka dibelanda dan Amerika dulu.
Rama terus berjalan menyusuri tepi pantai, posisi nya sudah jauh meninggalkan lokasi pesta, Rama menghentikan langkahnya dan duduk disebuah pondok kecil nelayan, dan merebahkan tubuhnya di sana berbantalkan kedua belah tangan untuk menumpu kepala selepas Anyelir melahirkan nanti Rama berniat mengadakan pesta pernikahan termewah untuk mereka berdua, mengingat mereka hanya melakukan pernikahan sederhana saja dulunya, yang dihadiri keluarga inti kedua belah pihak. Sudah berapa lama Rama menghabiskan waktu di sana.
Sementara Zein dan Larasati telah meninggal kan lokasi pesta, dan dibawa dengan mobil pengantin menuju sebuah villa dimana dikelilingi kebun teh dan udara pegunungan yang dingin. maklum mereka mengadakan pesta dikampung nya Larasati yang masih jauh dari perkotaan.
"Apa kamu sudah siap memulai malam indah kita?" Zein berkata sambil menyusuri wajah mulus Larasati dengan sentuhan lembut jemarinya.
__ADS_1
"Siap banget Om..." Larasati tidak kalah agresif dengan melingkar kan kedua belah tangan nya di pundak Zein.
"Jangan pernah panggil aku dengan sebutan Om lagi, seperti aku akan bercinta dengan keponakan sendiri" Zein kesal karena Larasati masih memakai panggilan itu.
"Iya, Uda ( Abang) Zein ku sayang." sambil membisikkan mesra ditelinga Zein, dan menggigit lembut ujung telinga Zein.
Zein tidak bisa menahan gairah nya lagi, melihat perlakuan Larasati yang seakan menggoda nya itu, meski ini baru pertama bagi mereka berdua, Zein melakukan ciuman dan rabaan disetiap lekuk tubuh Larasati seperti orang yang ahli dalam bercinta. sebagian baju Larasati sudah terlepas, begitu juga Zein Larasati ikut membantu Zen melepas baju yang dikenakan termasuk membuka resleting celana panjang Zein.
__ADS_1
Suasana yang dingin, seperti membuat mereka bergairah saling memberi kehangatan tubuh " Om...aku sudah nggak tahan lagi" rengek Larasati, ketika tangan Zein menyusup kebawah area xxx Larasati. Zein yang paham mengangkat tubuh Larasati dan merebahkan nya diranjang pengantin mereka. Zein tidak peduli lagi dengan Rama....