
Sore menjelang malam Larasati bersama keluarga kecilnya telah sampai memasuki desa kelahiran sang papa, mengingat selepas kepergian nenek tercinta. papa dan Mama tiri nya lebih memilih untuk menetap tinggal di rumah besar peninggalan nenek itu.
Perasaan senang dan bahagia bisa berkumpul dengan keluarga besar, membuat Larasati tidak sabar ingin segera bertemu dengan mereka. namun kembali muram mengingat tujuan utama mereka kembali pulang.
Tuan Anwar terus mondar-mandir di depan teras Rumah, tidak sabar ingin melihat cucu kesayangannya Catania sampai. tidak terlalu lama menunggu dari kejauhan nampak mobil yang dikendarai Zein melaju kearah Rumah besar mereka.
"Kakek berlari turun" gadis kecil itu sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan kakeknya
'Catania sayang" memeluk hangat cucunya, sambil mengulurkan tangan, saat anak dan menantunya mencium tangan nya memberi salam
Tangis Larasati kembali pecah saat melihat sang adik yang terlihat tidak mempunyai semangat hidup lagi. Cantika yang dikenal nya adalah gadis yang ceria, bawel dan suka kegenitan manja didepan keluarganya. namun semua itu telah berubah drastis.
"Cantika maafkan kakak, semua ini gara-gara kakak" membawa Cantika kepelukanya
"Tidak ini bukan salah kakak, mungkin ini sudah jalan hidup Cantika kak"
__ADS_1
Cantika membalas pelukan hangat Larasati, mereka berdua larut dalam kesedihan, termasuk semua yang ada diruangan itu.
Larasati mengerutkan keningnya bingung saat melihat seorang wanita asing ada ditengah-tengah mereka.
"Siapa wanita itu dek ? bisik Larasati melepas pelukan mereka
"Namanya Madam Jane, pelayan yang disediakan Gilang untuk mengurus ku, dia sangat baik kak. makanya Om Husein mengajak nya untuk terus bersama ku" jawab Cantika
Besok nya disebuah mesjid besar dan tertua di daerah itu telah berkumpul pihak keluarga Gilang dan Cantika, tidak terlalu banyak yang mereka undang hanya kerabat terdekat mereka saja.
Sebelum proses ijab Kabul dilaksanakan, Cantika mengeluarkan sebuah amplop coklat, dan meletakkan nya kedepan Gilang dan disaksikan semua orang, beberapa orang diantara mereka ada yang saling berbisik bingung menyaksikan itu.
"Poin Pertama, setelah menikah mereka tidak boleh tidur satu kamar, mengingat Cantika masih menyimpan taruma yang mendalam.
"Poin Kedua, tidak saling mencampuri urusan pribadi masing-masing, meskipun sudah menikah.
__ADS_1
"Poin Ketiga, Tidak boleh melakukan kekerasan fisik maupun secara psikis, jika itu terjadi. Cantika berhak mengajukan gugatan cerai dan melaporkan tindakan Gilang.
"Poin Kelima, perjanjian ini berlaku sampai Cantika melahirkan, setelah itu kedua belah pihak boleh menentukan jalan masing-masing, melanjutkan atau mengakhiri pernikitu.
Gilang tersenyum sinis membaca tiap poinnya, tanpa pikir panjang lagi dia langsung menandatangani surat itu.
"Cantika kamu memang wanita bodoh, kamu pikir aku masih tertarik melihat tubuh mu itu. jangan mimpi terlalu jauh. misi balas dendam ku sedikit banyak telah berhasil dan sekarang kakak dan keluarga mu begitu terpukul serta kesedihan yang mendalam. dengan apa yang telah aku perbuat dengan tubuh mu itu. Aku telah berhasil membuat masa depan mu hancur.
Seorang Gilang sangat merasa bahagia dan senang jika masalah pribadi nya tidak ada orang lain yang mengusik. apalagi masalah pribadi mu itu. apapun itu aku tidak akan peduli. bathin Gilang
"Bagaimana semua yang ada di sini, apa sekarang kita mulai saja pernikahan nya" ucap bapak penghulu
Pernikahan dadakan itu berjalan khidmat, dan disahkan oleh semua orang yang hadir.
"Cantika sayang sekarang kamu sudah sah menjadi menantu kami, dan Mama akan selalu menjagamu dan menjamin anak brengxxxx itu tidak akan macam-macam lagi"
__ADS_1
"Ya ma, terimakasih" ucap Cantika
"Selamat ya dek, meskipun pernikahan ini tidak sesuai harapan mu, tapi kakak selalu berdoa yang terbaik dan kebahagiaan mu" Larasati mengusap sayang Cantika