
Cantika mempercepat langkah kakinya saat melihat kedua orang tua nya, duduk di kursi salah satu ruang tunggu Rumah Sakit. Mama yang menyadari kehadiran Cantika langsung berdiri
"Cantika kamu juga datang ke kesini nak" ucap Mama spontan karena merasa kuatir dengan kondisi kehamilan Cantika, mengingat jarak dari kota tempat tinggal mereka lumayan cukup. memakan waktu yang lama
"Ya ma... karena perasaan ku tidak tenang dan sangat kwatir sekali, makanya aku ingin melihat kondisi kak Larasati secara langsung"
"Tapi bagaimana dengan kandungan mu saat ini, apa tidak ada masalah setelah menempuh perjalanan jauh" Mama mengusap-usap perut anak kesayangannya itu
"Ngak papa kok ma, dia sangat kuat seperti bundanya"
Gilang menyalami kedua orang tua istrinya, meskipun mendapatkan sikap dingin dan acuh dari Tuan Anwar yang tengah memangku cucunya Catania, dan duduk dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari posisi Tuan Anwar.
" Ma... gimana kondisi kak Laras sekarang"
"Kondisi kakakmu masih kritis dan sekarang Tim dokter sedang memeriksakannya" ucap Mama sedih
"Apa ma, jadi kak Laras masih kritis" Cantika tidak mampu lagi menahan kesedihan nya, tubuhnya berguncang seiring dengan air mata yang membanjiri kedua pipinya
"Cantika tenangkan pikiran dan kendalikan perasaan mu, sekarang ini kita hanya bisa berdoa dan berharap semoga saja ada mukjizat, sehingga kakakmu tersadar dan diberikan kesembuhan oleh Allah SWT nak" menenangkan Cantika yang masih menangis dalam pelukan nya
__ADS_1
"Ma aku ingin melihat kak Larasati sekarang"
"Sabar sayang, tunggu Tim dokter selesai memeriksa kakakmu dulu" ucap Mama sambil mengajak Cantika duduk
"Papa"
Terdengar teriakan Catania, saat melihat Zein yang melangkah gontai dari apotek, setelah menebus obat untuk sang istri. penampilan Zein terlihat begitu kacau. baju yang kucel dan kantung mata yang menghitam dan bengkak akibat kurang tidur, serta pola makan nya yang kurang. Zein lebih sering duduk disebelah sang istri, setelah itu sholat dan berdoa untuk kesembuhan nya.
"Ya sayang" Zein memangku Putri kecilnya itu
"Pa ....,, Catania kangen Mama"
"Udah pa" tersenyum dan gadis kecil itu berusaha ceria
Tidak terlalu lama menunggu, pintu ruangan terbuka. Tim dokter yang memeriksa kondisi Larasati pun keluar.
Tuan Anwar dan Zein langsung berjalan menghampiri mereka
"Bagaimana dengan kondisi istri saya dokter" ucap Zein tidak sabaran
__ADS_1
Nampak wajah keraguan dari dokter, yang menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, mencoba mencari kata yang tepat.
"Kami telah berusaha semaksimal mungkin, namun kondisi nya belum menunjukkan hasil yang memuaskan, dan dia masih koma, kami juga berharap semoga istri bapak segera sadar kembali" menepuk pelan pundak Zein, seolah-olah member kekuatan
"Kami ingin menjenguk nya dokter" ucap Cantika yang segera mengusap air matanya
"Silakan....,, tapi tetap ikuti peraturan Rumah Sakit"
"Iya dokter... terimakasih"
Cantika masuk, yang diikuti Catania dan Zein, namun Mama...dan papa serta Gilang ikut juga, karena penasaran dan ingin sekali melihat Larasati, sehingga mereka mengabaikan peraturan Rumah Sakit itu.
Nampak Larasati terbaring lemah, serta selang infus yang dan oksigen yang membantu pernafasan nya, serta alat yang menandakan detak jantung Larasati yang terlihat melemah.
"Kakak Larasati cepat sembuh kak" terdengar suata lembut Cantika di sela Isak tangis nya.
"Iya ma....Cepat sembuh,, Catania sayang dan kangen main sama Mama lagi, Catania janji bakal rajin beresein mainan dan jadi anak baik buat Mama...dan papa....hu...hu....Ya...Allah .... sembuhkan Mama Catania" ucap gadis kecil itu terus menangis
"Iya sayang cepat sembuh ya.... lihat lah kami disini yang mencintai mu dengan tulus" ucp Zein mengusap air mata dan memeluk Catania. dan mencium lembut kening Larasati hingga air mata Zein menitik di kulit wajah Larasati.
__ADS_1