Anyelir, Istri Bayaran Ku

Anyelir, Istri Bayaran Ku
Memulai Kehidupan Baru


__ADS_3

Enam bulan kemudian, Anyelir berhasil melahirkan seorang bayi mungil yang berjenis kelamin laki-laki, dia sangat mirip dengan Rama, hanya bibir kecil imut itulah yang meniru Anyelir. yang diberi nama Zio Aleksander. sudah beberapa kali Anyelir ingin kembali pulang. tapi selalu dihalang-halangi Rangga dengan alasan tidak aman buat Anyelir dan anaknya.


Kehadiran Zio kecil, mampu mengembalikan semangat dan senyum yang telah lama menghilang dari bibirnya. disini dia tinggal disebuah Apartemen dan seorang pengasuh, namun Anyelir masih merasa kesepian. hidup dengan orang-orang yang asing bagi nya. Rangga tidak menetap di Belanda, dia juga harus mengurus Perusahaan papanya. hanya sesekali Rangga bisa mengunjungi Anyelir di Belanda.


Sinta berjalan sendiri, sambil memilih berbagai keperluan untuk rumah besar, tiba-tiba seorang menarik tangan nya, spontan dia berteriak.


"Maaf Nona aku tidak bermaksud jahat, tapi bisa kita bicara sebentar?" sambil menunjuk sebuah kafe.


"Maaf aku tidak mengenal Anda?" Sinta ingin berlalu pergi.


"Aku Rangga teman Anyelir."


Ucap Rangga dan kembali menarik tangan itu dan membawanya memasuki kafe, setelah memilih tempat yang dirasa aman. Rangga pun mengajak Sinta untuk duduk dan minum dulu.


"Apa tujuan mu, dan Nyonya Anyelir telah lama meninggal dunia" ujar sinta dengan nada sedih.


"Dia belum meninggal dan sekarang lagi menetap disebuah Negara." ujar Rangga.

__ADS_1


"Ha ha..ha...ha" Sinta tertawa seakan mencemooh.


Tiba-tiba tawa pun terhenti, tak kala Rama memperlihatkan foto Anyelir dan Zio kecil. tangan Sinta bergetar air mata lolos di pipinya.


"Nyonya Anyelir masih hidup. " ucapnya senang dan mengusap foto itu.


"Ya, tapi aku butuh bantuan mu. dibelanda Anyelir merasa kesepian, bisakah kamu ikut dengan ku. untuk menemani Anyelir disana."


"Okey baiklah."


Sinta mengangguk setuju, dia juga sangat menyayangi Anyelir. dia asisten Rumah tangga setia yang dipekerjakan khusus oleh Rama untuk menemani dan melayani Anyelir. umumnya pun tidak jauh beda, Sinta mampu mengenyam pendidikan hingga bangku SMA. itupun dulu dengan kerja sambilan.


"Ya aku paham." ujar Sinta sambil memikirkan alasan yang tepat. untuk keluar dari rumah Rama, mungkin dengan mengatakan akan pulang kampung lalu menikah disana.


Pagi ini Sinta ditemani Rangga, sudah bersiap terbang ke Belanda, dalam pesawat, seyum bahagia tidak lepas dibibirnya, karena akan bertemu Anyelir.


"Kamu kenapa senyum sendiri?" tanya Rangga yang dari tadi memperhatikan Sinta.

__ADS_1


"E ee...anu tuan..."


Sinta gelagapan dan mukanya merah merona, apalagi ditatap lelaki tampan seperti Rangga.


" Anu apa.?" ucap Rangga menautkan kedua alisnya.


Sinta memalingkan mukanya kearah luar jendela pesawat, dia takut jantungnya akan kabur dari sarangnya. karna sudah dari tadi jantungnya itu berdetak tak tentu arah dan tidak beraturan.


Setelah menempuh perjalanan jauh, akhir Sinta bernafas lega, dan berjalan mengimbangi langkah Rangga yang panjang. memasuki sebuah mobil yang telah menunggu mereka.


"Wah... wah indah nya."


Ujar Sinta dengan mata berbinar melihat pemandangan Negara Belanda di sore hari. burung-burung merpati bertebangan mengerumuni makanan yang diserahkan seorang perempuan.


"Itu bangunan apa tuan.. kok besar sekali.?" tanya sinta.


"Universitas ternama Belanda, kalau kamu mau aku akan daftkan kamu kuliah bareng Anyelir Disana." jawab Rangga.

__ADS_1


Mata Sinta membulat tidak percaya " Tuan jangan bercanda."


"Aku serius, kamu disini hanya jadi teman buat Anyelir. bukan Asisten Rumah tangga lagi, dan aku juga telah membawa berkas dan ijzah formal SMA Anyelir."


__ADS_2