Anyelir, Istri Bayaran Ku

Anyelir, Istri Bayaran Ku
Kepergian Naura


__ADS_3

Dion terbangun, mencoba mengumpulkan kesadaran. melihat tubuh polos Naura yang masih meringkuk tidur, dengan posisi mereka yang masih berpelukan. Dion melepaskan diri dan segera berpakaian. sebelah tangan Dion menarik kain gorden untuk menutupi tubuh Naura. Dion mencoba mengingat-ingat kembali kejadian semalam, sambil memijit pelipisnya, dan merasa kepalanya masih terasa sedikit pusing.


Naura terlihat semakin nyaman dengan tidur nya, saat merasakan hangat ketika kain gorden besar itu menutupi seluruh tubuhnya. Naura malah merasa sedang tidur di kasur empuknya dirumah.


Melihat hal itu Dion merasa geram, bercampur dengan rasa kwartir. bagaimana jika Gilang muncul tiba-tiba diruangan kerja ini.


"Hey bangun kamu." mengundang bahu Naura dengan gerakan sedikit kasar, agar gadis itu segera terbangun.


"Apaan sih ma, Naura masih ngantuk ni..."


"Hey, bangun dan segera sadar lah, dimana posisimu sekarang.?" Dion meninggikan suaranya.


"Astaga ternyata, aku benar-benar telah melakukan hubungan itu. ternyata minuman itu membuat keberanianku bertambah, aku harus segera membujuk mas Gilang."


Naura membuka matanya, dan memberikan senyuman termanis untuk Dion. yang membuat Dion secara tidak sadar, terpana dengan kecantikan Naura. yang jauh lebih cantik dibandingkan semalam. Dion kembali tersadar dan kembali mengingatkan Naura untuk segera pergi.

__ADS_1


"Baiklah aku akan pergi, tapi mas Gilang harus janji padaku terlebih dahulu." ucap Naura sambil mengenakan pakaian nya kembali.


"Janji apa maksud mu, dan Kenapa kamu panggil aku dengan nama Gilang.?" ucap Dion menatap Naura, bingung.


Namun tidak dengan Naura, wajah cantik putih mulusnya itu tiba-tiba terlihat pucat pasi. Naura berusaha mengendalikan keadaan. saat Naura merasa Gilang pasti sedang berbohong agar terhindar dari tuntutan nya nanti.


"Mas Gilang jangan mengelak, dan berpura-pura menjadi orang lain. aku tidak akan menuntut dan mempermasalahkan apa yang telah terjadi diantara kita berdua, asal mas Gilang mau membebaskan papaku dari tuntutan. dan tidak menyita semua aset yang kami miliki." ucap Naura terus terang.


"Ha...ha, jadi kamu anaknya Hendro bangsat itu, yang tega mengorbankan anak gadisnya demi harta." ucap Dion tiba-tiba emosi.


Dion merasa terenyuh melihat ketulusan dari mata bening gadis itu, serta perasaan bersalah dengan apa yang telah mereka perbuat semalam. secara tidak langsung Dion juga merasa tertarik dengan Naura. gadis cantik yang telah dia renggut kesuciannya.


"Tapi yang harus kamu ketahui, aku bukan lah Gilang. tapi hanyalah seorang asisten, namaku Dion. jika kamu tidak percaya. coba perhatikan kartu tanda penduduk, serta kartu karyawanku ini baik-baik." Dion memberikan kenangan Naura langsung.


Dengan tangan gemetar, Naura memperhatikan kedua buah kartu yang menunjukkan identitas pemilik yang sesungguhnya. air matanya tumpah membasahi kedua pipi mulusnya. Naura merasa hidupnya benar-benar hancur dan kotor. bagikan mendengar suara petir di siang bolong. Naura menjatuhkan kedua kartu yang dipegangnya secara tidak sadar.

__ADS_1


Dion ikut merasa nyeri dihatinya, ingin rasanya Dion membawa Naura kepelukanya. dan mengatakan jika Dion ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya, Dion mendekati nya. namun dengan sigap Naura langsung menepisnya.


"Jangan sentuh aku, karena aku tahu mungkin sekarang Anda menertawakan kebodohan ku ini." ucap Naura yang merasa hidupnya tidak berarti, penyesalan pun seakan tidak ada gunanya lagi. nasi sudah menjadi bubur.


Tanpa banyak bicara lagi, Naura berlari meninggalkan Dion yang berusaha untuk mencegat nya. namun Naura berhasil mendorong tubuh Dion. dan lari sekencang mungkin. sambil menahan perih di bagian area pribadi nya.


Dion menata kasihan kepergian Naura.


Naura langsung menuju terminal bus, yang akan membawanya kekota. dia tidak berani lagi untuk pulang kerumah. Naura mematikan ponselnya, sambil memeriksa beberapa kartu ATM nya.


"Dengan uang ini aku akan bertahan hidup dikota, sebelum mendapatkan pekerjaan. sebaiknya aku harus mengamankan seluruh isinya. sebelum pria brengsek itu menyita semua aset orang tuaku." melihat mobil bus yang masih lama berangkat, Naura pun pergi ke Bank terdekat dan memindahkan semua ke rekening pribadinya. dan segera kembali ke bus. dengan menutupi wajahnya dengan masker serta jacket tebal yang baru dibelinya.


Pikiran Naura melayang jauh, saat bis menuju kota mulai berjalan meninggalkan kampung halamannya.


" Selamat tinggal semua nya.Mungkin ini hukuman atas keserakahan orang tua ku, serta cara kami yang salah mencari jalan keluarnya. sehingga Tuhan menegur kami dengan caranya. mas Frans maafkan aku, Mama, papa aku telah Gagal menyelamatkan kalian berdua dari tuntutan ini. aku tidak berguna, aku malu pada diriku sendiri. mas Frans, selamat tinggal. karena aku akan pergi sejauh mungkin dari kalian. yang tidak mungkin mau menerima ku kembali. setelah tahu apa yang aku perbuat. serta Mama dan papa yang marah dengan kegagalan ku ini." bathin Naura.

__ADS_1


__ADS_2