
"Apa yang kamu katakan Cantika, tolong pikirkan bayi yang sedang kamu kandung itu, bagaimana status nya dimata masyarakat. pokoknya papa minta besok kalian harus segera menikah dan ppa tidak ingin mendengar penolakan apapun lagi"
Mama Cantika yang mengerti sekali persasan anaknya segera memeluk dan mengelus sayang kepalanya.
"Turuti saja perkataan papa nak, paling tidak untuk status anakmu dan nama baik keluarga Kita, agar orang-orang tidak menghina dan memandang buruk kamu yang hamil di luar nikah"
Cantika menyeka air matanya, namun masih mencoba untuk tidak melihat Gilang
"Baiklah tapi aku ingin mengajukan beberapa persyaratan dan perjanjian setelah pernikahan dilaksanakan, harus secara tertulis dan sah disaksikan semua anggota keluarga" ucap Cantika mengumpulkan keberanian
Gilang langsung mendongak kan wajahnya mendengar persyaratan Cantika tersebut, sambil bergumam pelan dan tersenyum sinis ke arah Cantika
"Sudah syukur aku masih mau bertanggung jawab, sok jual mahal lagi. jika tidak diancam kedua orang tua ku, yang akan menyita seluruh aset yang telah mereka berikan, tidak mungkin aku akan menikahi wanita bodoh seperti mu ini
Tuan Husein yang melihat gelagat aneh Giang merasa geram, namun dia masih mencoba untuk mengendalikan emosinya ditengah pertemuan dua Keluarga ini.
__ADS_1
"Kami setuju nak, kamu siapkan saja persyaratan dan berkas perjanjian nya, besok saat akan melangsungkan pernikahan kami akan meminta Gilang untuk menandatangani nya" Tuan Husein mencoba berkata bijak dan memahami keinginan Cantika
Larasati langsung dibuat kaget dan syok saat mendengar berita pernikahan adiknya Cantika yang terdengar secara tiba-tiba, dan yang lebih membuatnya terpukul penuturan papa yang mengatakan bahwa adiknya tersebut di nodai hingga hamil oleh Gilang. mantan tunangannya itu.
"Brengxxxx kamu Gilang" suara teriakan dan tangis Larasati pecah bergema disetiap sudut ruangan Rumah itu, membuat. suaminya Zein dan putri kecilnya ikut berlari ke arah Larasati yang masih menangis sambil bersimpuh di lantai dengan posisi masih memegang ponsel nya.
"Sayang kamu kenapa" Zein langsung membawa Larasati kepelukanya dan mengusap pelan punggungnya mencoba memberikan ketenangan.
Catania kecil yang melihat bundanya menangis sesenggukan, jadi ikut ikutan menangis tanpa mengerti permasalahan nya.
Zein melihat dua orang yang sangat disayanginya itu menangis sama kencang. bingung sendiri harus menenangkan yang mana.
"Tolong kalian berdua tenang dulu, tarik nafas dalam-dalam trus buang secara perlahan-lahan" mengambil tissue untuk keduanya
Namun tangis mereka belum juga berhenti, dengan terpaksa Zein meninggi kan nada suaranya
__ADS_1
"Diam dulu, Lihat lah kedepan teras Rumah kita, sudah dipenuhi para tetangga yang penasaran dengan suara tangisan kalian" ucap Zein berbohong
Spontan Larasati menghentikan tangisan memilukan hati itu, yang diikuti juga oleh Catania. mereka berdua sama-sama melirik kearah teras depan namun kosong tidak ada siapa-siapa.
Lalu mencubit kesal pinggang Zein karena telah membohongi nya, ditengah asyiknya menikmati kesedihan.
"Aaduhhh sakit yang, lagian kamu sih nangisnya ngak mau berhenti. sekarang cepat ceritakan ada apa ????
"Semua ini salah ku" kembali menangis, namun sudah agak pelan dan tenang sambil menceritakan semua yang menimpa adiknya Cantika.
Zein mengepalkan tangannya emosi, " dasar lelaki pengecut, kenapa dia belum juga berhenti mengganggu kita, awas kamu Gilang aku akan memberikan mu pelajaran"
"Sudah jangan Uda, Cantika tengah mengandung anak nya Gilang, dan besok mereka akan menikah. sayang bersiap lah kita akan pulang ke rumah papa hari ini"
"Okey baiklah" Zein Akirnya menuruti saja perkataan istrinya, setelah bersiap seadanya mereka bersama sang putri kecil berangkat menuju Rumah yang sudah sekian lama ditinggalkan Larasati, selepas kepergian sang nenek tercinta.
__ADS_1