
Larasati terbangun dari mimpi indahnya bersama Zein, dia mencoba membuka mata dan refleks menutup mulut. saat akan berteriak histeris melihat Zein tidur memeluk tubuh nya "ternyata mimpi ku semalam kenyataan atau om zein yang mimpi berjalan ke kamar ku" ucap nya sambil merebahkan kembali tubuhnya secara pelan-pelan kedalam dekapan Zein.
Larasati tersenyum sendiri menikmati kehangatan tubuh Zein. "wah senang nya...." namun tiba-tiba senyum nya terhenti mendengar teriakan.
"Tiidaaaakkk" teriak Zein sambil memeriksa tubuh dan pakaian nya.
"Hey bocah kecil, apa yang telah kamu lakukan?apa kamu telah melakukan yang tidak-tidak terhadap tubuh ku." bentak Zein.
"Masa Om tidak ingat saja apa yang telah kita lakukan semalam?" ucap Larasati yang mencoba membuka sedikit pakaian nya.
"Jangan-jangan di teruskan, Zein mengibas kan tanganya keatas, aku tidak akan percaya pada omongan mu itu" dan berlalu pergi ke kamar nya.
Setelah kepergian Zein, Larasati tertawa puas sambil memegang perutnya "kita lihat saja nanti Om, kamu pasti akan tergila-gila dengan Cinta ku" dan pergi berendam dalam bactub. untuk merilekskan pikiran mesum nya.
Zein langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang, dan kembali melanjutkan tidurnya, kebetulan sekarang hari Minggu Zein sengaja bermalasan, sekalian untuk menghindari Larasati di bawah.
Dikediaman nya, Tuan Anwar membanting apa saja, untuk melampiaskan kemarahan nya, mengingat Putri kesayangan belum ditemukan, sementara Gilang terus mendesak ingin segera bertunangan dengan Larasati.
__ADS_1
"Apa kalian pernah melihat Larasati di Jakarta?" ucap Tuan Anwar.
"Iya bos, tapi kami kehilangan jejak! ucap anak buah Tuan Anwar yang ditugaskan mencari Larasati.
"Brengxxxx kalian semua, mencari satu orang bacah ingusan saja kalian tidak becus" hardik Tuan Anwar.
"Maaf bos" ucap mereka ketakutan.
"Tambahkan jumlah anak buah kita, dan cepat temukan Larasati. bawa dia kembali pulang."
"Baik boss" Panggilan mereka pun terputus.
"Semoga saja kamu menghilang selama nya Larasati" ujar Cantika penuh kebencian
Zein menuruni anak tangga dengan pakaian santai, namun terlihat rapi diliriknya Larasati sedang menonton televisi, dan ikut duduk di sebelah nya.
"Buatkan aku kopi" ucap Zein fokus memperhatikan acara televisi
__ADS_1
Larasati bingung dengan perubahan sikap Zein itu. yang biasanya cuek dan acuh. sekarang duduk dekat disebelah nya dan minta dibuatkan kopi.
"Ba..ba..baik om" lari ke dapur
Tidak berapa lama kopi buatan Larasati siap, dan membawa kembali keruang santai " ini Om kopinya" ucap Larasati duduk kembali di tempat semula
Zein menyeruput kopi buatan Larasati itu "Enak" ucap nya tanpa sadar ucapan nya, membuat Larasati bertepuk tangan bahagia, padahal sebelumnya jantung deg-deg melihat reaksi Zein setelah meminum kopinya.
"Bersiap lah, hari ini aku akan mengajak mu keluar." ucap Zein mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia tidak mau bersitatap dengan Larasati.
"Asyik aku bisa jalan-jalan juga, tapi Om punya topi nggak buat nutupin wajah ku? biar nanti orang suruhan itu tidak mengenaliku dan menangkap ku Om." ucap Larasati sambil memegang lengan Zein dari samping.
"Ada, kamu pakai saja topinya Bunga, adek perempuan ku?" ujar Zein
Larasati sangat bahagia sekali, dalam perjalanan dia tak henti-hentinya berceloteh dan kegirangan ketika. mobil Zein memasuki pusat perbelanjaan termegah dikota itu.
Zein mengeluarkan sebuah kartu kredit "ambil ini,pergunakanlah untuk membeli semua kebutuhan mu" ujar Zein.
__ADS_1
"Om terimakasih ya atas semuanya" ucap Larasati terharu atas kebaikan Zein "aku jadi tambah cinta deh. sama Om ganteng," ucapnya pelan.
Namun masih kedengaran oleh Zein, tersungging senyum kecil disudut bibirnya. "yuk kita masuk" ujar Zein yang tanpa disadari telah menggenggam erat tangan Larasati masuk kedalam area pusat perbelanjaan tersebut.