
Gilang, sangat marah dan geram sekali. setelah mendapat fakta dan bukti dari kejahatan kepala cabang. yang merupakan orang kepercayaannya dan papa selama ini. untuk memimpin dan mengelola perusahaan perkebunan mereka.
"Maafkan kekhilafan saya, mas Gilang." ucap nya tertunduk lesu. karena tidak bisa membela dirinya.
"Permintaan maafnya sudah terlambat, aku tidak bisa mentolerir lagi kesalahanmu sekarang. aku minta kamu segera mempertanggungjawabkan perbuatanmu itu, termasuk menganti rugi uang hasil pengolahan pabrik perkebunan ini.!" ucap Gilang
"Aku tidak mampu mengembalikan uang sebanyak itu mas, karena sebagian sudah terpakai oleh keluargaku.!"
"Apa.!"
Gilang tiba-tiba bangkit, dia tidak mampu lagi untuk mengendalikan kemarahan nya, pukulan dan tendangan keras menghantam tubuh kepala cabang perusahaan nya itu.
"Manusia serakah kamu, apa kamu tidak mempunyai malu. dengan memberikan uang haram untuk keluargamu hidup mewah. dan menekan gaji para buruh perkebunan. serta karyawan pabrik ini.?"
__ADS_1
Gilang menarik kasar kerah baju, laki-laki paruh baya itu. darah segar mengalir dari sudutnya.
"Ampun....mas Gilang. saya khilaf.!" sambil mengangkat kedua belah tangannya keatas.
"Kamu bilang kilaf, selama dua tahun ini kamu menggelapkan uang. hingga pabrik ini nyaris bangkrut. kamu bilang kilaf. dasar serakah." Gilang melayangkan pukulan keras tanpa ampun.
Dion langsung berlari memasuki ruangan Gilang.
"Bos tolong kendalikan emosimu, laki-laki ini bisa mati terbunuh oleh mu nanti.!" Dion berusaha untuk melerai.
"Biarlah hukum yang akan menjeratnya, jika Bos menghabisinya. Bos pasti akan dipenjara. kasian Nyonya Cantika nanti yang akan melahirkan bayi. tanpa ada mas Gilang disampingnya." bujuk Dion
Gilang segera tersadar dari kemarahan, saat mendengar nama Cantika, dia melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar.
__ADS_1
"Cepat, seret pria ini dari hadapanku." perintah Gilang
Dion dibantu beberapa orang karyawan lain, segera melarikan laki-laki itu keklinik pabrik dan segera dilakukan pertolongan pertama. mengingat tubuh yang sudah babak belur.
Gilang menghempaskan tubuhnya ke sofa, kerinduan yang mendalam tiba-tiba memasuki relung hati terdalam nya.
"Istri kecilku Sayang, apa kabarmu sekarang. aku benar-benar merindukanmu. aku tahu kamu pasti uring-uringan karena aku tidak berada di sisimu."
Gilang mengulum senyum, dia teringat tingkah menggemaskan Cantika. yang membuat hari-hari yang dijalani Gilang terasa lebih berarti. sebelah tangan Gilang mengambil ponselnya yang tergeletak begitu saja di atas lantai. karena terjatuh saat memukul pria yang membuat emosinya diluar batas normal.
Gilang mengusap layar ponselnya itu, dan menatap foto Cantika yang tengah tertawa lepas. karena itu lah yang dapat dilakukan nya, mengingat tempat ini terbatas signal. jemari Gilang mengusap lembut bagian mugil Cantika.
"Sayang, bibirmu terasa manis dan terlihat begitu seksi. aku merasa bersyukur sekali bisa memiliki dirimu seutuhnya. tetaplah menjadi istri kecilku selamanya sayang."
__ADS_1
Gilang memeluk ponselnya. serta merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah. tidak butuh waktu lama Gilang sudah tertidur pulas.
Dion yang semula ingin melaporkan tentang pria yang baru saja dihajar Gilang, membatalkan niatnya. dan ikut merebahkan tubuhnya di sofa yang letaknya bersebelahan dengan Gilang.