
"Cantika kakak mu mengalami pendarahan di kehamilan ke duanya dan sedang dirawat di Rumah Sakit xxxx Jakarta" ucap mama ragu
"Apa ma, kak Larasati pendarahan ?? tangis Cantika pecah hampir saja dia ambruk, jika saja Gilang tidak kalah sigap menangkap tubuhnya dan mendudukan Cantika dipangkuan nya. tanpa ada penolakan lagi.
Cantika benar-benar rapuh air mata tidak henti membanjiri kedua pipinya.
"Ya Allah semoga engkau menyembuhkan kakak ku..hu..hu..." Cantika refleks menenggelamkan wajahnya di dada Gilang sambil memeluknya erat, seakan minta diberikan kekuatan di hatinya yang begitu rapuh
Gilang mengusap pelan rambut panjang Cantika
"Kamu harus sabar Cantika dan berdoa, semoga Larasati tidak kenapa Napa" ucap Gilang meskipun di lubuk hati nya tersimpan penyesalan atas perbuatan nya terhadap keluarga mereka, dan sahabat kecilnya itu
"Ya Allah tolong sembuhkan sahabat ku, aku memang tidak pantas meminta padamu....aku orang hina, penjahat.... namun aku akan berusaha untuk berada di jalan mu sekarang"
Capek menangis menumpahkan kesedihan nya, Cantika tertidur dipangkuan Gilang, Gilang membetulkan rambut Cantika yang menutupi sebagian wajahnya dan menyelipkan di balik telinga nya.
"Upppssh..." Gilang mengangkat tubuh Cantika dan menidurkan secara perlahan di kamar Cantika di lantai dasar. dan menyelimuti hingga menutupi leher.
__ADS_1
Gilang memperhatikan wajah Cantik itu,
"Sebaiknya malam ini aku nginap di kamar ini saja, Kasian Cantika jika terbangun dan dia akan menangis lagi"
Gilang merebahkan tubuhnya di samping Cantika, yang tiba-tiba Cantika langsung memeluk nya dari samping bak memeluk guling empuk.
Mata Cantika masih terpejam dan terdengar seruan nafas sesekali diiringi Isak, Karena habis menangis lama. Gilang membalas pelukan Cantika dengan ikut melingkar kan tangannya perlahan di pinggang sang istri. dan memejamkan matanya
POV. Larasati
Pagi itu aku menemani Catania mandi dengan mainan baru nya, mendengar deru mobil Zein memasuki perkarangan Rumah dengan segera aku berjalan cepat ingin membukakan pintu, berharap aku orang pertama yang dia lihat saat sampai di Rumah.
*Terdengar tangis dan jeritan Putri kecilku yang menguncang tubuhku,
"Mama...Mama...hu...hu...hu...."
Dan suami ku Zein yang langsung menghambur berlari mendekap ku, di sela sakit dan perih yang kurasakan, aku masih bisa melihat orang yang aku cintai, Om Zein ku menangis sambil memanggil namaku*.
__ADS_1
"Larasati bertahan lah sayang... kita akan segera sampai di Rumah Sakit"
Kata - kata itu terus keluar dari mulut nya, seiring air matanya yang tumpah, membelai sayang rambut ku.
"Uda...Uda... aku tidak tahan lagi,, ini sakit sekali dan aku sangat kedinginan. tolong jaga Putri kita" ucap ku terbata...bata
"Tidak sayang...Kamu harus bertahan demi akudan Putri kita" Uda Zein memeluk ku dengan tubuh bergetar karena menahan tangis
"Pak tolong bawa mobil nya lebih kencang lagi, lihat istri ku kesakitan terus" Zein membentak sopir yang membawa kami ke Rumah Sakit.
Tubuhku terasa semakin dingin dan mengecil, melayang-layang dan berputar-putar seperti memasuki sebuah lorong yang panjang, hingga aku berada di tempat yang serba putih, tidak ada rasa sakit lagi.
Aku mengedarkan pandanganku kesekeliling nampak kosong,
"Dimana aku... apa aku telah meninggal " aku terus berjalan dan berjalan berharap ada seseorang menemaniku,...
"Larasati sayang....kesini Nak"
__ADS_1
Aku mengikuti arah datangnya suara
"Ibu" aku berlari memeluk wanita yang sangat aku rindukan selama ini