
Anyelir berlari kecil mengimbangi langkah panjang Zein, sampai dalam lift dia masih meremas kedua belah tangan nya yang terasa dingin. melap keringat dingin yang keluar dari tubuh mungil nya, dia merasakan udara sekitar begitu sesak dan panas. padahal sekeliling tempat full Ac semua.
Keluar dari dalam lift Anyelir terpesona dengan kemegahan ruangan di atas gedung itu. namun nyalinya kembali menciut tatapan mata tidak suka keluar dari pandangan beberapa karyawan disana.
" Ya Tuhan, rasanya aku ingin menghilang saja. " ucap Anyelir sambil terus berdoa.
Cekklek......, pintu Ruangan Rama terbuka " silahkan masuk nona"
Zein menutup pintu itu kembali meninggalkan Anyelir yang ketakutan dan Rama dengan kemarahan nya.
"K....kkakk Rama."
Anyelir mencoba mendekati rama yang menghadap keluar jendela kaca ruangan nya.
Rama membalikan badannya " apa saja yang kamu lakukan hari ini aahh?" berjalan dua langkah menghadang Anyelir yang ketakutan.
"Tadi aku belanja di Mall xx dan Tas ku dijambret sewaktu berjalan keluar menuju parkiran." jawab Anyelir terbata bata
"Dan kamu mengejar jambret itu" Rama tergelak
"Kenapa kamu segitu bodohnya mempertahankan tas yang tak seberapa itu, lanjutkan cerita mu." ucap Rama tanpa mengalihkan pandangan.
__ADS_1
"Seseorang menolong ku dan mengembalikan Tas ku."
Anyelir ragu menjawab melihat kilatan kemarahan kembali terpancar di mata Rama. Anyelir mundur selangkah demi selangkah ke belakang dan menunduk diam.
"Anyelir siapa yang menyuruh mu diam. lanjutkan cerita mu." perintah Rama dengan menaikan nada suara nya.
"Dia mengajak makan siang sebagai ucapan terima kasih" Anyelir menjawab sambil menunduk kan mukanya.
"Kamu mau dan diam saja waktu dia memegang tangan mu ini?" hardik Rama. emosinya sudah tidak terkendali dia melemparkan dan membanting apa saja dituangkan itu.
Asisten Zein yang berdiri di luar ruangan pun bergidik ngeri. dia kasian sama Anyelir tapi tidak berani ikut campur apalagi masuk untuk membantu Anyelir.
"Tangis Anyelir pecah. "
Melihat Anyelir menangis Rama semakin marah dan menarik pergelangan tangan Anyelir.
"Apa kamu mengenal lelaki brengxxxx itu?" tanya Rama
Anyelir menggelengkan mukanya.
"Tapi dia sering muncul tiba-tiba di tempat aku belajar. kak lepas tangan ku sakit." Rama pun merenggangkan pegangannya.
__ADS_1
"Ingat Anyelir aku tidak suka kamu dekat dengan nya lagi, apalagi sesuatu yang telah menjadi milik ku disentuh oleh orang lain, kamu mengerti." ucap Rama dan berjalan ke arah sofa.
Anyelir menganggukan kepalanyan tanda mengerti, pandangan tertuju pada sekeliling ruangan mewah namun berantakan, perlahan dia maju hendak membersihkan nya.
"Hey... apa yang kamu lakukan cepat duduk disini" perintah Rama
Anyelir mendekatkan dan duduk menjarak dari Rama. dia takut Rama akan mengamuk lagi.
"Kamu tidak mendengar perintah ku, duduk disini " ucap Rama keras sambil menunjuk pahanya.
Anyelir berjalan mendekati Rama tubuhnya gemetar dan perlahan dia menduduki Rama dan melingkar kan tangan nya dileher jenjang itu, takut jatuh karena Rama tiba-tiba berdiri dan mengangkat tubuh nya memasuki sebuah ruangan seperti kamar tidur dan merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu.
Rama kembali ke sisi tempat tidur dan memencet tombol.
"Zein perintah kan OB untuk membersihkan ruangan kerja ku sekarang juga. "
Rama membalikan badannya melihat Anyelir yang sudah ketakutan.
"Kelinci kecil kamu harus menerima hukuman dariku."
Rama tiba-tiba menyeringai mesum.
__ADS_1