Anyelir, Istri Bayaran Ku

Anyelir, Istri Bayaran Ku
Villa di atas Perbukitan


__ADS_3

Rama beserta beberapa orang kepercayaannya, telah sampai di kampung halaman sang istri yang begitu sejuk dan indah, tanpa sentuhan polusi udara yang kotor, dan masyarakat yang masih kental dengan budaya dan Bahasa daerah yang tidak dimengerti sama sekali oleh Rama. namun dia tetap bersikap ramah dan memberi salam.


Bibi Romlah ditemani Rendi nampak berjalan agak cepat kearah rombongan Rama yang menuruni mobil yang membawa mereka.


"Nak Rama apa kabarmu nak ? bibi Romlah mengusap pelan punggung Rama yang sedang menyalami tangan nya.


"Alhamdulillah sehat Bi" jawab Rama


"Bagaimana dengan Anyelir, bibi sangat merindukan nya" sambil mengandeng Rama memasuki Rumah sederhana peninggalan kedua orang tua Anyelir dulu.


"Anyelir sehat Bi, mungkin setelah melahirkan dan rencana proyek kita yang disini berhasil. Rama janji akan mengajak Anyelir kesini"


Rama mengedarkan pandangannya keseliling Rumah, disalah satu pojok ruangan terpampang foto seorang anak perempuan yang sangat cantik dan imut, yang diyakini Rama itu adalah foto Anyelir kecil, disana juga terpampang foto kedua orang tua nya. tersungging senyum di bibir Rama saat memperhatikan foto itu.

__ADS_1


Bibi Romlah mengikuti arah pandangan Rama, kemudian dia ikut tersenyum juga


"Nak Rama itu foto Anyelir sewaktu dia masih berumur delapan tahun" Bibi Romlah menjawab rasa penasaran Rama sambil menaruh teh panas dan ubi kayu rebus, dan aneka makanan kampung yang lainnya.


"Silahkan diminum nak, maaf bibi hanya bisa menyuguhkan ini"


"Ngak papa kok bi, terimakasih" jawab Rama sambil mempersilahkan yang lainnya untuk mencicipi masakan Bi Romlah itu.


Rama sangat tertarik sekali dengan lokasi yang ditunjukkan mas Rendi, selain perbukitan dengan udaranya yang sejuk dan indah, sesuai harapannya. Rama berniat mendirikan sebuah villa di atas perbukitan lokasi puncak ini. dimana nantinya sekeliling itu akan dijadikan perkebunan teh.


Setelah terjadi kesepakatan Rama membelinya termasuk beberapa lokasi lain yang tidak terlalu jauh. rencananya Rama akan membangun beberapa sekolah gratis dan pusat pengobatan.


Rama juga menghubungi beberapa teman sesama pengusaha, termasuk Rangga dan Zein meminta mereka ikut membantu dan berpartisipasi dalam pembangunan desa terpencil dan sangat indah itu.

__ADS_1


Rama juga meminta pemerintah setempat untuk melihat dan ikut terlibat dalam mengembangkan dan melestarikan. Karena begitu banyak lokasi indah yang bisa dijadikan obyek wisata lokal, seperti beberapa air mancur bertingkat, pemandian air panas, serta perbukitan yang memperlihatkan pesona alam dengan danau kecil yang terletak di tengah-tengah nya.


Niat baik Rama itu mendapatkan respon yang positif serta dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat. termasuk teman teman nya yang siap membantu. bahkan di antara mereka juga berencana ingin mengunjungi tempat itu, dan ikut bekerjasama dan ber investasi dalam perusahaan perkebunan teh dan pabrik pengolahan yang dibangun Rama nanti.


Sementara ditempat lain, Tuan Husein mengepalkan tangannya kesal dan marah dengan tingkah anaknya Gilang, sudah dua hari Cantika dirawat, namun Gilang menghilang begitu saja.


"Cantika sebaiknya besok pagi kamu ikut Om pulang ke tanah air, bagaimana pun kalian harus menikah karena kamu telah mengandung cucu pertama kami" ucap Tuan Husein hati hati dan melirik ke arah Cantika menunggu reaksi gadis malang itu.


"Apa Om Cantika hamil, tidak mungkin hu...hu...hu,,"


Tangis Cantika pecah memenuhi seisi ruangan. madam Jane memeluk tubuh gadis itu berharap bisa memberikan ketenangan.


"Maafkan kelakuan anak Om Cantika, kami mohon tolong terima dan pertahankan bayi yang tidak berdosa itu" Tuan Husein ikut menitikkan air matanya.

__ADS_1


__ADS_2