Anyelir, Istri Bayaran Ku

Anyelir, Istri Bayaran Ku
Kedatangan Orang Tua Gilang


__ADS_3

Madam menatap iba pada gadis malang itu, dia teringat akan anak gadis semata wayangnya yang meninggal dunia dua tahun lalu akibat leukimia yang diderita nya.


"Sabar sayang sebentar lagi penderitaan mu ini akan berakhir" madam membelai lembut rambut panjang Cantika


Papa Gilang sampai di Belanda dengan menaiki penerbangan pertama, dia menghirup nafas panjang, memandang sekeliling pemandangan kota yang begitu menakjubkan di mana rakyat Belanda masih menjaga ciri khas kebudayaan nya dan arsitektur bangunan bersejarah mereka.


"Tidak ada yang berubah padahal sudah cukup lama aku meninggalkan negara ini. Papa Gilang pun menghubungi asisten kepercayaan anak nya


"Hallo dimana Gilang sekarang ?


"Masih tidur diapartemen Tuan" ucap sang asisten yang dengan setia nya disamping Gilang.


"Jemput aku sekarang ke bandara, dan jangan kamu beritahu Gilang dulu tentang kedatangan ku ini"


"Baik Tuan"


Puas bermain dengan Cantika semalaman, Gilang kembali ke Apartement nya. dia masih meringkuk tidur di sofa dengan botol minuman yang berserakan serta bekas makanan.


Sementara sang asisten tidak punya keberanian untuk melarang, apalagi membersihkan bekas minuman itu, takut nantinya Gilang terbangun.


Sang asisten langsung mengambil kunci mobil diatas meja dengan perlahan, dan langsung melaju dengan kecepatan tinggi menuju Bandara internasional.

__ADS_1


"Silakan masuk Tuan" menunduk hormat membukakan pintu mobil


"Terimakasih" ucap papa Gilang


"Apa saja kegiatan Gilang selama di Belanda ?


"Aaanu ....Tuan" asisten Gilang kening harus menjawab apa, karena Gilang juga pernah mengancam dia dan madam Jane, untuk bisa mengunci mulut mereka pada orang-orang.


"Jangan bertele-tele memberikan keterangan kepada ku" bentak nya


"Maaf Tuan, tapi saya tidak berani" sang asisten sudah mulai kebingungan dan ketakutan mengingat ancaman Gilang.


"Sekarang cepat antarkan aku ke Apartement gadis itu" papa Gilang langsung saja ke pokok permasalahan, karena Asisten Gilang lebih memilih untuk bungkam.


"Madam sembunyikan aku" mulai menangis ketakutan


"Tenang Nona aku yakin itu bukan Tuan Gilang, karena Tuan Gilang tidak pernah memencet bel untuk datang kesini" menenangkan Cantika dan melepaskan pelukannya secara perlahan-lahan.


Madam Jane berjalan menuju pintu apartemen, dan melihat terlebih dahulu dari layar monitor siapa tamu yang mengunjungi mereka.


"Syukurlah ternyata orang tua Gilang, Tuan Husein" Madam Jane segera membukakan pintu dan mempersilahkan untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


"Silahkan Tuan" menunduk hormat


"Mana Cantika" mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan apartemen


"Lagi dikamar Tuan, mari saya antar kan Tuan untuk melihat kondisi Nona" berjalan menuju kamar


Papa Gilang mengikuti langkah madam Jane, saat pintu kamar terbuka lebar


"Astaghfirullah" kaget dan kasihan melihat kondisi Cantika yang meringkuk menggigil ketakutan dan mmenyembunyikan tubuhnya.


"Cantika sayang, ini Om nak kamu tidak perlu khawatir dan takut, karena Om akan memberikan anak brengxxxx itu pelajaran, dia tidak akan berani lagi menyakiti mu" perlahan mendekati dan duduk di sisi tempat tidur itu.


Cantika mengangkat wajahnya yang masih basah oleh air mata


"Om Husein Cantika takut" menghambur memeluk papa Gilang yang sudah dianggap seperti ayah nya sendiri.


"Sudah tenang nak, Om tidak akan tinggal diam Om malu dengan kelakuan anak itu" melepas pelukan Cantika.


Tuan Husein menatap wajah gadis itu, mata yang sembab karena menangis serta tubuh yang mulai mengurus karena tidak mau makan jika tidak dipaksa madam Jane.


"Apa Gilang juga memukul mu ? ketika melihat bagian wajah Cantika yang terdapat beberapa luka memar dan lebam bekas pukulan.

__ADS_1


Cantika mengangguk kan kepalanya dan kembali menangis mengingat peristiwa itu kembali.


__ADS_2