
Setelah melakukan pemeriksaan, dokter memberikan suntikan dan beberapa vitamin agar Cantika dan kandungan sehat dan kuat. selama perjalanan dari kota kecil x menuju kota besar Cantika menghabiskan waktu dengan tidur pulas, mungkin efek dari vitamin yang diminum nya.
"Cantika bangun...." Gilang menggoyang pelan tubuh istrinya itu. saat menghentikan mesin mobil dikawasan puncak
Cantika membuka matanya dan mengedarkan pandangannya kesekeliling.
"Dimana kita ?
"Dikawasan puncak, kita makan siang dulu dan istrahat di Restoran itu" ucap Gilang seraya keluar duluan dari mobil, dan memutarnya untuk membukakan pintu untuk Cantika
Cantika mengikuti langkah Gilang memasuki Restoran, udara puncak yang begitu sejuk dan nyaman. membuat perut nya terasa sangat lapar sekali. Cantika duduk disebelah Gilang. yang tengah sibuk memeriksa laporan pekerjaan yang baru saja di kirim Dion.
"Mau pesan apa ? tanya Gilang yang memperhatikan Cantika sibuk membolak-balik buku menu
"Aku bingung, menunya terlihat enak dan lezat semua" ucap Cantika tanpa merasa malu lagi, mengingat selera makan nya yang terus meningkat
"Okey kita pesan semua nya" ucap Gilang sambil tersenyum senang melihat tingkah istrinya itu
Dirumah Anyelir merasa perutnya tiba-tiba sakit, pada saat mereka bersiap menuju Rumah Sakit untuk mengantarkan Catania, yang ingin sekali bertemu dengan papa dan Mama nya.
"Aduhhh...." teriak Anyelir sambil memegangi pinggang nya
"Sayang kamu kenapa ?
"Kak... seperti aku mau melahirkan, cepat kita harus segera kerumah sakit" ucap Anyelir yang mulai berkeringat merasakan kontraksi
__ADS_1
"Iya...?iya sayang"
Rama dengan sigap memapah sang istri menuju mobil, dan memberikan perintah pada pelayan untuk menyiapkan tas dan perlengkapan melahirkan Anyelir untuk dibawa kerumah sakit.
Selama perjalanan Anyelir tidak henti-hentinya berteriak kesakitan, hingga membuat Rama panik dan kebingungan, namun dia tetap berusaha menenangkan istrinya.
"Joni tolong cari cara dan jalan alternatif tercepat menuju Rumah Sakit" perintah Rama pada sopir pribadi nya.
"Baik Tuan" ucap Joni yang ikutan panik
Sementara Catania hanya terbengong menyaksikan semua itu, sementara Zio dan adiknya Aira ditinggalkan dirumah bersama Opa dan para pengasuh mereka berdua.
Tidak lama mereka sampai di Rumah Sakit, para perawat disana segera memberikan bantuan, dan langsung membawa Anyelir menuju Ruangan bersalin.
Setelah mereka menjauh baru lah Gilang dan Cantika mengangkat wajah mereka yang merasa malu. terutama Gilang yang dulu secara tidak langsung membantu Cantika untuk menjebak Rama.
"Cantika apa kamu masih memikirkan Rama" tanya Gilang memperhatikan sang istri yang masih menatap punggung Rama yang sudah hampir menghilang
Cantika menggelengkan kepalanya
"Tidak... tidak lagi kak. aku malah merasa berdosa jika teringat kesalahan ku dahulu" ucap Cantika
"Syukurlah aku sangat senang mendengarnya" ucap Gilang
Baru beberapa langkah mereka berjalan menelusuri koridor Rumah Sakit, Cantika seperti Mende suara Catania berjalan di belakangnya, refleks Cantika menoleh
__ADS_1
"Catania sayang...."
"Tante" teriak Catania yang dibimbing oleh Joni sopir pribadi Rama
Catania dan Cantika berpelukan..
"Kamu dari mana sayang..dan siapa Om itu" tanya Cantika melirik Joni sekilas
"Aku nginap di Rumah Tante Anyelir, tapi dia kesakitan dan dibawa Om Rama, aku disuruh sama Om Joni menuju ruangan Mama dirawat Tante" ucap gadis kecil itu polos
"Ooo begitu ya, yuk sama Tante saja kesanaya" ucap Cantika sambil tersenyum ke arah Joni, yang tetap mengikuti mereka. sesuai pesan Rama dia harus mengantarkan Catania sampai bertemu langsung dengan Zein.
Diruangan bersalin Anyelir langsung mendapat penanganan, beda dengan melahirkan anak pertama dan kedua nya. kali ini Anyelir melewati proses persalinan secara normal dan tidak terlalu lama menahan sakit. bayi kecil yang berjenis kelamin laki-laki itu keluar.
Rama tak kuasa menahan haru saat mendengar tangisan anak ke tiga mereka, dia langsung mencium lama kening istrinya. dan membisikkan
"Terimakasih sayang"
Anyelir tersenyum senang mendengar ucapan terimakasih dari suaminya, dan merasakan kebahagiaan nya berkali-kali lipat, meskipun dia juga merasa sedih dengan kondisi Larasati yang sempat menurun dan masih belum sadar kan diri.
"Sayang apa kamu telah menyiapkan nama untuk putra bungsu kita"
"Sudah kak, Namanya Muhammad Zaki Alexandrer"
"Nama yang bagus...aku suka sekali" ucap Rama menatap dayang putra kecil nya yang tengah tertidur di bok bayi
__ADS_1