
Wajah Anyelir memerah menahan emosi. dia tidak menyangka sama sekali. dengan ucapan yang terlontar keluar dari mulut Rama, seandainya dia punya jurus kucing mencakar tikus, ingin sekali dia mempraktekkan pada suami Amnesia kesayangan nya itu.
Dengan langkah cepat, Anyelir pergi meninggalkan Ruangan itu. namun dia selalu kalah sigap dengan cengkraman kuat tangan Rama.
"Lepas ." teriak Anyelir.
"Aku tidak akan pernah melepaskan mu Cantik." ujar Rama dan menarik tangan Anyelir yang terus memberontak.
"Hey, kamu menyakiti tanganku." sambil memukul-mukul bahu Rama dengan tangan kiri nya
Perdebatan mereka berdua, menarik perhatian pengunjung lainnya, salah seorang diantara mereka maju.
"Kamu jangan kasar terhadap wanita atau kamu mau menculik nya.?"
"Jangan ikut campur ini urusan Rumah Tangga kami " bentak Rama
__ADS_1
Melihat Anyelir yang diam, tanpa bantahan terhadap ucap Rama tadi, membuat mereka percaya dan bubar begitu saja. Anyelir sengaja mendiamkan karena tidak ingin suaminya mendapatkan masalah.
Melihat Anyelir yang tertunduk, Rama pun berinisiatif. untuk mengendong Anyelir memasuki mobil dan mendapatkan teriakan terdahsyat.
"HHuuuuu..... HHuuuuu"
Dari orang-orang yang berkerumun tadi.
"Gayanya aja yang sock jual mahal, dibujuk dikit langsung klepek-klepek" ucap salah seorang dari mereka, dan disambut gelak tawa yang lainnya.
Rama tidak mempedulikan orang-orang itu, dia melajukan mobilnya membelah jalanan ibukota yang mulai sepi, baginya Anyelir lah yang lebih penting, dia tidak tahu pasti kapan perasaan nya terhadap Anyelir muncul. yang jelas dia dia merasa nyaman dan gairah nya selalu muncul, jika berdekatan dengan Anyelir. dan rasa ingin memiliki Anyelir yang begitu kuat.
"*Aku harus bawa Jasmine kemana? Hotel atau Fila?" Rama bingung memutuskan, akhirnya dia memutar balik arah mobil nya lagi.
" Lebih baik aku bawa ke Apartemen saja ,karena tempat itu kosong* ?"
__ADS_1
Rama mengendong Anyelir menuju Apartemen nya, dia tidak mempedulikan tatapan aneh orang-orang yang melihat, dia membuka fasword pintu dan menidurkan Anyelir dilantai dua kamar nya. dan Rama juga ikut merebahkan tubuhnya di samping Anyelir.
"Tubuhmu berat juga ya. " ujarnya sambil mengatur pernafasan.
Sementara Sinta dan bibi Romlah sudah mondar-mandir cemas, karena Anyelir belum kembali, Zio kecil sudah tertidur sambil memeluk Mainan Robot barunya, yang tadi dibelikan Sinta paspulang kerja dari tempat Rangga.
Sudah beberapa kali Sinta menghubungi Ponsel Anyelir, tapi tidak dijawab.
"Ya ampun bi, aku lupa kita cek aja posisi keberadaan nya?" ujar Sinta
Sinta pun menutup mulutnya, tidak percaya bahwa sekarang Anyelir berada di Apartemen nya Rama. dia mendekati bibi Romlah dan memberi tahunya.
"Syukur lah Sinta, bibi lega...paling tidak mereka sudah mulai dekat." ujar bibi Romlah.
Meski hilang sebagian memori ingatan nya, untuk yang satu ini , ingatannya tidak ikut hilang, menjadi maling secara diam-diam, dan mencumbui Anyelir.
__ADS_1
Perlahan dia melepaskan satu persatu kancing baju Anyelir, hingga polos tanpa sehelai benang pun, kemudian Rama mengeluarkan Hp dikantong celananya, dan merekam serta memfoto tubuh polos Anyelir itu.
"Sayang bukti ini akan aku jadikan alat, untuk menjerat mu, untuk sementara aku mau kau jadikan singkuhanmu Jazmine, selanjutnya kupastikan kamu menjadi milik ku," sambil tertawa menang.