
Seperti biasa dengan kondisi setengah mabuk, Malam ini Gilang mendatangi kembali apartemen Cantika, seringai jahat terpancar dari sudut bibirnya. Gilang memencet fasword pintu masuk tanpa ada rasa curiga sedikit pun dengan apa yang telah menanti kedatangannya didalam.
Gilang dengan santai melangkah masuk, namun tiba-tiba seseorang dari arah belakang telah siap
"Plack...,, plack...,,Bruuuaggkk" pukulan keras menghantam wajah dan tubuh Gilang hingga dia ambruk.
Gilang berdiri dan siap mengambil ancang-ancang untuk membalas pukulan tiba-tiba itu, namun refleks Gilang mundur dengan mata membulat seakan tidak percaya bahwa yang berada di HADAPANNYA adalah papanya sendiri.
"Papa ?" Gilang terus mundur
"Ya ini dulu memang papa mu, sekarang ini tidak. karena aku malu mempunyai seorang anak seperti, kamu pengecut Gilang karena hanya berani pada gadis lemah itu. sekarang hadapi aku" Tuan Husein maju dan kembali memberikan pukulan keras ketubuh anak semata wayangnya itu.
Cantika dan madam Jane bergidik ngeri menyaksikan kemarahan Tuan Husein, madam Jane membawa Cantika kedalam pelukannya. karena melihat Cantika seperti menyimpan taruma yang dalam melihat aksi kekerasan didepan matanya. Cantika merasa tubuhnya seperti mengecil dan melayang berputar putar memasuki lorong yang panjang.
Madam Jane segera menangkap tubuh kecil Cantika yang tiba-tiba melorot dari pelukannya.
__ADS_1
"Nona ada apa dengan mu ? menggoyangkan wajah cantik gadis itu
Tuan Husein menghentikan aksinya memukul Gilang, dan berlari ke arah Cantika yang sudah tidak sadar kan diri.
Sementara Gilang merasa mendapatkan kesempatan langsung kabur lari keluar apartemen, dengan kondisi tubuh yang sudah babak belur dihajar papanya sendiri. yang juga mempunyai ilmu beladiri jauh lebih pandai dibandingkan dengan keahlian yang dimiliki Gilang.
"Cepat panggil kan dokter"
Perintah Tuan Husein yang ditunjukkan kepada Gilang, namun karena tidak mendapat kan jawaban Tuan mengedarkan pandangannya kearah Gilang namun kosong.
Tuan Husein dibantu madam Jane melarikan Cantika kesalah satu Rumah Sakit terdekat.
"Bangun lah Nona" ucap madam Jane cemas dan terus mengusap-usap dan merapikan rambut Cantika yang terlihat berantakan
Dokter masuk bersama beberapa orang perawat, mereka menyuruh Tuan Husein dan madam Jane untuk menunggu di luar ruangan. Setelah mendapatkan penanganan khusus dari dokter, salah seorang perawat menemui Tuan Husein dan menyuruh mereka mendatangi ruangan dokter yang menangani Cantika barusan.
__ADS_1
Berdasarkan penjelasan dokter, saat ini Cantika mengalami gangguan psikis dan trauma yang mendalam, serta kondisi tubuhnya nya yang saat ini telah memasuki awal kehamilan.
Tuan Husein sangat kaget mendengar penjelasan dari dokter, dia sangat membenci dan mengecam perbuatan anaknya, namun juga terbersit rasa bahagia karena Cantika tengah mengandung cucu pertama yang sangat mereka harapkan selama ini.
"Aku harus menikah kan mereka berdua, aku tidak ingin jika nanti cucuku tidak memiliki status apalagi seorang Ayah" ucap Tuan Husein
"Kasian sekali kamu nak, disaat trauma mu ini, kamu juga harus hamil hasil pemerkosaan dari lelaki yang tidak sama sekali kamu cintai" madam Jane menitikkan air matanya
Cantika tersadar dan melirik disekeliling dengan cat bernuansa serba putih
"Aku dimana ?"
Cantika meringis sambil memegang kepala yang masih terasa pusing, dan perut yang terasa begitu mual, rasanya Cantika Ingin memuntahkan seluruh isi perut nya saat ini.
Gilang mengikuti secara diam-diam dari belakang, saat ayah nya melarikan Cantika kerumah sakit. sambil menutupi wajahnya dengan topi dan madker, Gilang menguping pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Tidak mungkin Cantika hamil ? dan anak itu anak ku" gumam Gilang sambil pergi meninggalkan tempat itu.