
"Ganteng nya mami, sini mimik cucu dulu ya sayang"
Anyelir mengambil putra bungsunya yang sedang digendong oleh pengasuh, dan memberikan nya Asi eksklusif. tangan Anyelir mengelus putra tampannya itu.
Rama memperhatikan istrinya yang tengah menyusui bayi mereka itu, timbul rasa simpati serta syukur yang dalam. karena melihat Anyelir yang begitu perhatian pada anak-anak mereka dan dirinya. Anyelir tidak pernah mengeluh serta mengurus mereka penuh keikhlasan. tanpa memikirkan bentuk tubuhnya setelah melahirkan dan menyusui.
Anyelir mengangkat wajahnya dan balik menatap sang suami sambil tersenyum dan berbicara pelan pada bayinya.
"Sayang dari tadi kita dilihatin papi truz, kayak dia iri dech sama bayi tampan mami ini" menciumi lembut kedua pipi bayi mungilnya yang sudah tertidur di dekapan hangat Anyelir
Rama tertawa lepas mendengar perkataan Anyelir, ditambah lagi dia teringat pernah memberikan obat pembesar payu***** " pada Anyelir yang efeknya tidak terlalu lama, namun sekarang kedua buah dada itu membesar secara alami, bahkan membuat bayi mereka tumbuh sehat olehnya.
"Iya jagoan kecil....,, papi cemburu karena jatah papi sudah kamu ambil"
Rama berdiri dan berjalan pelan menuju tempat tidur.
"Sini sayang....,,
__ADS_1
Mengambil dengan hati-hati putranya itu, sambil menimang-nimang dengan penuh kasih sayang, serta mencium lembut wajah bayi yang tertidur pulas itu, tanpa merasa terganggu sedikit pun oleh tingkah sang papi.
"Anak ketiga kita ini lebih mirip wajah kamu sayang" ucap Rama
"Tentu dong, diakan anakku, ya kan sayang mami" goda Anyelir
"Tidak.... tidak ini anak papi seorang, karena papi yang lebih banyak bekerja tiap malam, sedang mami hanya bantu goyang dikit Joss doang" canda Rama
Membuat wajah Anyelir bersemu merah, dan mencubit pelan pinggang Rama, merasa malu karena diruangan itu bukan hanya mereka berdua saja, melainkan ada dua orang pengasuh.
"Habisnya becanda melulu" ucap Anyelir dan mengambil alih untuk menggendong Zaki yang tiba-tiba menangis, terkaget dengan suara papinya.
"Cup.....cup sayang, sini mami kasih Mimi lagi"
Besoknya diruangan Larasati....,,
Dokter masuk keruangan itu dan memeriksa kondisi Larasati, sambil tersenyum ramah dokter mulai menjelaskan.
__ADS_1
"Syukurlah kondisi Nyonya sudah membaik, ini benar-benar mukjizat yang luar biasa dari yang maha kuasa, siang ini Nyonya sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah" ucap dokter
"Hore....hore.... akhirnya Mama bisa kembali pulang kerumah" teriak Catania kesenangan.
"Iya sayang Mama juga sudah rindu sekali dengan suasana rumah sederhana kita" Larasati mengelus sayang rambut Putri Cantik nya
Mama dibantu Cantika mempersiapkan pakaian Larasati, sementara Zein mengurus administrasi kepulangan mereka. Gilang dan papa ngobrol ringan di sofa sambil menunggu, setelah semua nya beres.
Zein masuk keruangan Larasati sambil membawa kursi roda, karena dia tidak ingin Larasati kecapean selama masa pemulihan ini.
"Ayo sayang pelan-pelan naiknya"
Zein membantu memapah Larasati dan mendudukkannya secara hati-hati. setelah memastikan aman. Zein mulai mendorong kursi roda itu, yang diikuti Gilang dan Cantika yang membimbing Catania, serta kedua orang tua nya.
Sampai di halaman rumahnya Larasati menghirup udara dalam-dalam, rasa rindunya pada suasana rumah itu, membuat nya tidak sabaran ingin segera memasukinya.
Saat melangkahkan kakinya masuk, Larasati langsung mengangkat kedua tangannya sambil berdoa, dan rasa syukur karena bisa kembali ke dalam rumah ini.
__ADS_1