
"Sayang jalannya yang pelan dong" Anyelir menghentikan langkah dan memegang pinggang yang terasa ngilu.
"Maaf sayang.... aku tidak sengaja dan terlalu buru-buru hingga melupakan kondisi mu sendiri" ucap Rama dengan wajah menyesal dan membantu Anyelir berjalan pelan, menuju kursi di ruang tunggu yang terletak di koridor Rumah Sakit besar itu.
"Nggak papa kok kak, aku juga sangat mencemaskan kondisi Larasati saat ini" Anyelir mengatur pernafasan nya yang terasa ikut berpacu saat mengimbangi langkah suaminya tadi.
"Sayang kita gunakan kursi roda itu saja, biar cepat dan kamu juga tidak akan kecapean" bujuk Rama
"Boleh juga" jawab Anyelir sambil tersenyum menatap punggung suaminya, yang langsung berjalan mengambil kursi roda
"Hati-hati sayang" Rama membantu memegang tubuh istrinya saat hendak menduduki kursi roda tersebut
Dari kejauhan Anyelir dan Rama menangkap sosok Zein yang mondar-mandir di depan ruang UGD. setelah mendekat Rama berjalan ke arah Zein yang menunduk sedih.
"Yang sabar ya Zein" Rama mengusap pelan bahu sahabat nya itu
__ADS_1
"Sebaiknya kita bantu Larasati dengan doa, semoga dia bisa melewati masa kritis nya" Anyelir mengusap air mata yang lolos di kedua pipinya
Zein hanya mengangguk pelan membalas ucapan mereka, tatapannya Kosong kedepan. pikiran nya masih teringat saat sebelum Larasati dipindahkan ke ruangan UGD. Larasati saat itu sempat kejang-kejang dan kembali pendarahan.
Zein berdiri dan berjalan seperti orang linglung, Rama mengikuti langkah kakinya dari belakang. nampak Zein memasuki musholla Rumah Sakit setelah berwudhu Zein sholat dengan khusyuk, Rama masih setia mengikuti dan ikut sholat disebelah nya.
Zein mengangkat kedua tangannya yang bergetar menahan tangis
"Ya Allah.... hanya pada mu aku meminta dan berserah diri....
Sembuhkan lah istriku...aku tidak sanggup melihat nya kesakitan seperti itu..., aku takut sekali dia akan pergi meninggalkan ku.
Nampak air mata lolos dari kedua pipi Zein, yang masih terlihat khusyuk berdoa, Rama meninggalkan Zein karena teringat Anyelir yang tengah menunggu sendiri di depan pintu Ruangan UGD.
Rama berjalan cepat agar segera sampai didekat sang istri, dari kejauhan Rama melihat ke dua orang tua Larasati sudah sampai, Tuan Anwar nampak bersedih dan terpukul, sementara Mama tiri Larasati sedang ngobrol dengan Anyelir, sambil sesekali mengelus-elus perut besar Anyelir.
__ADS_1
Setelah mendekat Rama menyalami tangan kedua orang tua itu, sambil menunduk hormat dan kembali duduk disebelah istri nya.
Tidak banyak obrolan yang keluar dari mulut mereka, karena perasaan cemas dan takut membuat mereka lebih memilih untuk diam sambil berdoa dalam hati.
Dirumah besar itu Cantika terus gelisah dan tidak bisa memejamkan mata sedikit pun
"Kenapa aku merasa perasaan ku tidak enak begini..., aku begitu cemas dan takut seperti ada sesuatu yang buruk. Baiklah aku akan mencoba menghubungi Mama dulu"
Tidak begitu lama panggilan Cantika tersambung, terdengar suara lembut mamanya
"Assalamualaikum Ma..."
"Walkumsalam Nak, sayang ada apa menghubungi Mama malam begini ?
"Ma aku merasa perasaan ku dari tadi terus gelisah dan tidak enak. aku takut terjadi sesuatu pada kak Larasati karena pikiran ku terus teringat kepadanya"
__ADS_1
"Sayang sebenarnya...." Mama mengantung ucapnya, dia ragu mengatakan kondisi Larasati, takut akan berdampak buruk pada kehamilan anak kesayangan nya itu.
"Sebenarnya apa ma ? jangan buat Cantika penasaran" Cantika berdiri dan berjalan mondar-mandir sambil memegang ponsel nya, membuat Gilang yang dari tadi memperhatikan nya, ikut khawatir