
Dengan suara bergetar Anyelir menghubungi dan menjelaskan pada Zein, bahwa dia datang kepagian hari ini. dan menemukan Rama yang kesakitan memegang kepalanya dan pingsan.
Penjelasan Anyelir itu, tidak membuat Zein percaya begitu saja. tapi untuk saat ini, bukan waktu yang tepat mengintrogasi Anyelir. lagian sekarang posisi Zein masih dalam perjalanan menuju kantor. saat Anyelir menghubunginya.
Zein mengusap kepalanya kasar, setahunya Rama sudah lama tidak mengeluh sakit kepala lagi, bahkan Rama sudah mulai aktif dikantor. dan kondisi tubuhnya juga fit karena rajin berolahraga dan meminum obat dengan teratur.
Zein bingung, dengan kondisi Rama yang sekarang, dalam beberapa waktu ini Rama sudah sering mengeluh kan sakit di kepalanya. Dengan sering nya bermunculan bayangan Anyelir yang terlihat samar, baik secara nyata maupun dalam mimpi.
Zein mencoba menghubungi dokter fian, yang biasanya menangani penyakit Rama. dan menanyakan tentang efek obat yang diberikan. karena Sudah cukup lama Rama Amnesia. tapi penjelasan dokter itu, selalu sama bahwa dia telah memberikan obat terbaik. Zein juga tahu bahwa dokter fian, sudah lama bekerja sebagai dokter pribadi keluarga Rama. tidak mungkin dia salah dalam menangani masalah obat dan penyakit Rama ini.
"Hallo dokter fian. bisakah Anda segera datang kekantor bos Rama sekarang? sakit kepala nya kambuh lagi."
"Ya, saya akan kesana secepanya." ucap dokter fian, sambil menyiapkan peralatan Medis nya.
__ADS_1
Sementara itu, Anyelir masih berdiri mematung di samping sofa tempat Rama terbaring. dia sangat takut dan merasa khawatir tentang kondisi Rama yang sering kesakitan. tapi tidak bisa berbuat lebih. pandangan nya tak lepas dari wajah tampan itu. Anyelir kembali mendekati dan mencium kening Rama dengan penuh perasaan sayang.
"Suamiku sampai kapan kamu akan seperti ini ? Zio, buah cinta kita sekarang sudah bisa berlarian dan berbicara, dia sangat merindukan Daddy nya. Zio sering menanyakan mu sayang ? terlebih aku istri manja mu ini ! betapa tersiksa dan takutnya aku karna jauh dari mu, selama ini hanya kamu yang jadi pelindung ku"
Tiba-tiba Anyelir terbangun dari duduknya nya, sambil mengusap air mata, dan mencoba menjaga jarak. begitu mengetahui Zein datang didampingi dokter fian.
"Sudah berapa lama dia pingsan?" tanya dokter fian sambil memeriksa kondisi Rama.
"Ssuuddah seperempat menit Tuan ! jawab Anyelir sambil menundukan kepala, menyembunyikan matanya yang sembab.
"Sudah Tuan, dengan minyak kayu putih ini." ucap Anyelir sambil
memperlihatkan minyak kayu putih yang dipegang nya.
__ADS_1
"Sekarang kamu sudah boleh keluar dan melanjutkan pekerjaan mu kembali." ucap Zein datar.
Dengan perasaan kecewa, Anyelir melangkah keluar dari ruangan Rama. dia masih ingin mengetahui kondisi suaminya, saat ini tapi dia harus bagaimana, status nya yang hanya anak magang dan masih baru. tentu tak akan mungkin baginya meminta pada Zein, untuk menjaga dan menemani Rama lebih lama.
Semua mata tertuju menatap Anyelir, yang melangkah keluar sepagi ini dari Ruangan Presdir. mereka seakan tidak percaya dengan penglihatan nya masing-masing. tak terkecuali Nara yang melotot tajam. karena merasa sudah mendapatkan saingan baru lagi selain Selena.
Anyelir yang merasa diperhatikan banyak mata di Ruangan itu, menjadi kikuk dan salah tingkah, apalagi tatapan mereka yang seakan mencemooh dan mengintimidasi nya. perlahan dia berjalan dan duduk dikorsi nya. namun saat dia hendak mendudukkan pantatnya, salah seorang dari belakang menarik kursi putar tempat duduk nya.
"Aaaww... bbbrrruukkkkggh."
Anyelir terjatuh, semua tertawa melihat nya. apalagi Nara yang tertawa sambil memegang perutnya.
Anyelir berusaha berdiri, dan berjalan tertatih-tatih menyeret kakinya yang perih dan pinggang yang ngilu, menuju toilet wanita. dan menumpahkan semua tangisan nya disana
__ADS_1
"Ya Tuhan, rasanya aku tidak kuat lagi."