
Tubuh Larasati berputar memasuki lorong panjang dan terasa melayang ringan dan terjatuh ditempat yang tidak dia ketahui,
"Di mana aku, kenapa tempat ini terdapat aneh dan begitu sepi. apa aku benar-benar telah meninggal"
"Larasati"
Nampak bayangan putih seperti ibunya, Larasati bangkit dan berjalan hendak memeluk bayangan itu.
"Ibu...."
Namun bayangan itu tiba-tiba menghilang. hanya terdengar suara perempuan, yang dia tahu sebagai suara ibunya.
"Kembalilah nak, ini bukan tempat mu.... karena masih banyak orang-orang yang menanti dan menyayangngimu"
Larasati mendengar seperti suara tangis yang memilukan, yang tidak dia ketahui asal nya, namun suara itu makin lama semakin dekat dan terdengar jelas.
__ADS_1
"Ma....Mama...Mama...hu...hu.... jangan tinggalkan Catania ma" terdengar suara Catania
"Putri kecilku" Larasati tiba-tiba teringat akan anak nya dan tubuh nya terasa kembali meringan dan melayang kembali seperti tadi.
Sementara itu.....,,
Para perawat yang bertugas sibuk dengan tugas mereka masing-masing, melepas selang infus serta peralatan lainnya, yang masih menempel di tubuh Larasati. kini tinggal tugas terakhir mereka yaitu menutupi tubuh Larasati dengan kain putih.
Namun salah seorang perawat wanita yang bertugas itu berteriak histeris...
"Ha....Han...hantu ..,... tolong.........,,
Zein yang masih linglung dengan keadaan, langsung terkaget juga mendengar keributan itu, dan berlari mendekati tubuh istrinya yang telah terbangun, meski Larasati terlihat bingung juga melihat sekitar ruangan itu, yang tiba-tiba berantakan karena sebagian dari mereka kabur tanpa Arah.
Zein tidak memperdulikan ketakutan mereka, dia malah tersenyum bahagia dan memeluk erat sang istri tercinta.
__ADS_1
"Sayang kamu kenapa..,, terus memeluk ku dan menangis" tanya Larasati yang merasa dia hanya tertidur nyenyak saja.
"Cerita nya panjang sayang.... kerena tidur nyenyak mu itu lah mereka pada kabur dan pingsan" goda Zein yang sudah bisa tersenyum dan tertawa, selama beberapa hari ini dia telah lupa caranya.
Semua orang telah berkumpul di ruangan itu kembali, termasuk Catania yang langsung menghambur memeluk sang Mama, yang diikuti juga oleh Zein, mereka bertiga berpelukan hangat, Rama dan Gilang ikut tersenyum menyaksikan kebahagiaan keluarga itu, dan lupa akan sakit hati, yang pernah ada di antara mereka. termasuk rasa bersalah Gilang.
Cantika yang baru saja sadar dari pingsannya, langsung bergerak cepat ingin berlari kesenangan menuju ruangan kakak, namun dia refleks memegang bawah perutnya
"Aduhhh....."
"Kamu kenapa sayang" Mama langsung memapah naik ketempat tidur lagi. dokter memeriksa Cantika
"Ada apa dengan anak saya dok, apa kandungannya bermasalah" tanya Mama mulai resah dan cemas
"Tidak apa-apa kok, cuma kram perut biasa" ucap dokter tersenyum melihat Mama yang terlihat panik
__ADS_1
"Ini salah ku dok, yang tidak sabaran ingin bertemu segera dengan kakakku, rasanya aku ingin menerobos tiap ruangan ini, agar segera sampai dan bertemu kak Laras" ucap Cantika meraba Pernya yang tidak sakit lagi
Gilang masuk dan berjalan ke arah istri kecilnya itu sambil membawa kursi roda, dan tanpa aba-aba lagi, Gilang mengendong Cantika dan mendudukkannya secara perlahan di atas kursi roda tersebut, dan mulai mendorong nya hati-hati.