
"Sekarang kita harus menemui gadis itu, termasuk sibrengsek Hendro dan istrinya." Gilang berdiri dari duduknya.
"Baik Bos, tapi sebelum itu aku mau ke penginap kita terlebih dahulu."
Dion ingin membersihkan terlebih dahulu tubuhnya, serta mengganti pakaian. bagaimana pun semenjak kejadian semalam, perasaan Dion sedikit banyak sudah tercurah kepada Naura. termasuk penampilannya, Dion ingin Naura melihat sisi rapi nya sekarang. tidak seperti semalam dan pagi ini. Dion terlihat kucel.
Gilang duduk kembali, setelah memperhatikan Dion dari dekat.
"Cepat pergi, aku juga gerah dengan bau tubuhmu itu." Gilang menaruh kunci mobil diatas meja, karena Gilang tidak mau bersentuhan langsung dengan Dion. mengingat semalam Dion telah melakukan hubungan terlarang.
"Entah kenapa, semenjak kelakuan buruk yang pernah aku perbuat dulu pada Cantika, setiap kali mendengar orang melakukan hubungan diluar pernikahan. aku merasa begitu jijik dan kotor. " gumam Gilang memandangi foto Cantika yang semalam sempat dikirimkan istrinya itu.
"Okey Bos." jawab Dion.
__ADS_1
Dion melangkah menuju mobil, sambil mengulum senyum. melihat tingkah Gilang barusan.
"Baguslah jika Bos Gilang sudah benar-benar berubah. padahal dulunya, dia lebih buruk lagi dan parah dibandingkan denganku, karena aku merasa disini posisiku hanya sebagai seorang korban pemerkosaan dari gadis cantik yang bernama Naura itu, yah.... benar-benar nama yang indah, jiwa jomblo ku langsung jinak, dan mendadak tenang. hanya dengan menyebut nama gadis itu saja." bathin Dion sambil fokus nyetir dijalanan yang sedikit becek. karena semalam habis turun hujan lebat."
Sampai di penginapan, Dion langsung berendam dengan air hangat. membuat tubuhnya terasa kembali segar dan bersemangat. Dion menyudahi mandi. dengan melilitkan sebuah handuk kecil dan satu lagi nya digunakan untuk mengeringkan rambut. Dion berjalan menuju sebuah tombol yang langsung terhubung dengan petugas penginapan itu.
Terdengar Suara sahutan seorang, Dion langsung meminta diantar sarapan segera. mengingat perutnya yang sangat lapar, Dion juga ingin terlihat kuat. saat bertemu kembali dengan Naura nanti. jika dia tidak sarapan Dion sudah bisa membayangkan bagaimana bentuk wajah kelaparan nya nanti. serta bunyi lambung nya yang tidak pernah bisa diajak untuk kompromi.
Tokc....tokc...,, tidak terlalu lama menunggu, pintu kamar Dion diketuk dari luar.
"Terimakasih." ucap Dion segera menutup pintu kembali. Dion langsung memakan sarapannya dengan lahap, tanpa mengenakan pakaian terlebih dahulu. karena Dion tidak ingin bajunya kotor terlihat oleh Naura nanti nya.
Setelah sarapan, Dion kembali kebingungan. untuk memilih beberapa pakaian nya. mengingat ini pertemuan nya sekarang ibaratkan sebuah lamaran langsung pada Naura.
__ADS_1
Di kantor, Gilang mulai berjalan mondar-mandir resah. mengingat Dion yang pergi begitu lama. sementara Gilang tidak bisa menghubungi nya.
"Ah Dion, kenapa kamu lama sekali pergi nya. padahal cuma mandi saja. biasanya kamu tidak seperti ini. paling mandi dan bersiap dua puluh menit siap. sekarang sudah sudah hampir dua jam lebih."
Gilang yang mulai kesal berjalan menuju pintu ruangan, saat baru membuka pintu. Dion udah nonggol.
"Maaf Bos, telah membuat Bos menungguku sedikit." Dion memasang wajah polos tanpa rasa bersalah.
"Sedikit menunggu katamu.?" Gilang meninggikan nada suaranya. dengan wajah geramnya.
Dion nyengir kuda melihat tampang Gilang seperti itu. karena saat ini hati dan pikiran Dion, hanya tertuju pada Naura. bahkan sepanjang perjalanan menuju klinik tempat Hendro dirawat. Dion selalu membayangkan gadis itu. Dion sempat menghentikan mobilnya beberapa saat, ketika melihat seorang buruh gadis pemetik daun teh, karena dia melihat seperti Naura yang Melambai-lambai tangan pada nya.
"Dion kenapa berhenti.?" tanya Gilang kebingungan
__ADS_1
Dion segera tersadar dan melakukan kembali mobilnya, tanpa menjawab pertanyaan Gilang.