Anyelir, Istri Bayaran Ku

Anyelir, Istri Bayaran Ku
Kembalinya Cantika


__ADS_3

Cantika kembali menghirup udara tanah kelahirannya, setelah sekian lama tidak kembali pulang. mengayunkan langkah pelan sambil mengandeng tangan madam Jane. sementara Om Husein beserta seorang asisten nya menenteng koper besar Cantika.


Mereka memasuki mobil jemputan yang telah disediakan, pandangan Cantika terus tertuju pada jendela kaca mobil yang berjalan membelah jalanan ibukota yang basah.


Hati Cantika terasa begitu hampa, seharusnya dia kembali dengan membawa selembar bukti keberhasilan pendidikanya selama berada di Belanda, yang akan dipersembahkan kepada kedua orang tua dan kakak nya, namun kenyataan berbanding terbalik sekarang dia Kembali membawa aib hamil anak hasil pemerkosaan di luar nikah.


Seketika tangis Cantika kembali pecah, madam Jane mengelus-elus punggung nya, tanpa berkata-kata lagi. hati nya ikut hancur melihat kondisi psikis gadis itu.


Gerimis yang turun membuat jalanan berkabut, udara siang itu terasa begitu dingin. madam Jane memasangkan syal dan mengalungkan pada leher Cantika, meskipun sudah memakai pakaian yang tebal, namun gadis itu masih terlihat kedinginan, hingga tertidur begitu saja pada sandaran jok belakang mobil.


Tuan Husein yang duduk di kursi depan melirik sekilas Cantika yang tertidur.


"Kasian sekali kamu Nak" sambil mengusap kasar wajah nya.


Tuan Husein mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang


"Cepat kalian temui Gilang dan segera bawa kembali ke tanah air, jika dia menolak kalian paksa dia, jika perlu buat dia tidak sadar sehingga lebih mudah untuk membawanya pulang" perintah Tuan Husein pada beberapa orang kepercayaan nya

__ADS_1


"Baik Tuan segera kami laksanakan" jawab dari kepala komplotan mereka.


Tuan Husein melonggos kasar bingung memikirkan alasan apa yang harus dikemukakan nanti pada kedua orang tua Cantika, yang belum mengetahui sama sekali masalah yang tengah dihadapi anak gadis nya.


"Tuan kemana arah kita sekarang ? pulang ke Rumah dulu atau ke rumahnya Non Cantika"


Pak sopir menepikan mobilnya di persimpangan yang sebelah kanan menuju Rumah Gilang, sementara sebelah kiri arah menuju Rumah Cantika.


"Rumah Cantika"


Sambil terus berfikir, namun pikiran nya terasa begitu buntu, dan tidak menemukan alasan yang tepat, karena semua ini sepenuhnya kesalahan yang diperbuat oleh Gilang anaknya.


Madam Jane menggoyang pelan tubuh Cantika yang masih tertidur pulas


"Bangun Nak, kita telah sampai" ucap madam Jane


Cantika membuka matanya perlahan, dan mengusap nya lembut. melihat sekeliling seperti sangat mengenali tempat itu. dan Mata nya membulat ketika melihat kedua orang tua yang sangat dirindukan nya selama ini berjalan mendekat.

__ADS_1


Tuan Husein turun dengan senyum yang dipaksakan serta perasaan gugup, yang diarahkan pada teman lama nya itu Anwar papa Cantika.


"Selamat datang Husein apa kabar mu, angin apa yang telah membawamu berkunjung ke rumah ku" ucap Anwar tanpa mengetahui jika Putri nya berada dalam mobil itu


Husein mencoba menjawab namun belum sempat dia mengucapkan nya, Cantika terlebih dahulu bersuara


"Papa, Mama" berlari turun menghambur kepelukan mamanya menumpahkan segala tangis dan derita yang dialaminya.


"Cantika"


Papa dan Mama Cantika merasa heran seakan tidak percaya dengan apa yang dihadapannya itu benar-benar anak gadis mereka, ditambah lagi seorang wanita Belanda ikut turun.


"Husein apa maksudnya dari semua ini" papa Cantika masih bingung ditambah lagi melihat kondisi tubuh Cantika yang terlihat kurus dan pucat.


"Cantika sayang apa yang terjadi pada mu nak?" Mama Cantika ikut merasa tersayat hatinya melihat tangis Anak gadis mereka yang masih belum berhenti.


Cantika dibawa ke kamar nya di temani sang Mama dan madam Jane. sementara Tuan Husein dan Anwar berbicara diruang keluarga. namun tiba-tiba mereka yang dikamar langsung terlonjak kaget mendengar suara Tuan Anwar yang menggema di seluruh ruangan.

__ADS_1


"Apa brengxxxx anakmu Husein, aku tidak akan tinggal diam dan akan menuntut dan memenjarakan anakmu itu"


Tuan Anwar seakan hilang kendali membanting apapun yang terdapat di ruangan itu, termasuk beberapa pukulan keras menghantam wajah Husein.


__ADS_2