
Zein teringat ponsel Anyelir, dengan segera dia melacak posisi keberadaan mereka. Zein kemudian memutar arah mobilnya mencari jalan alternatif tercepat, tanpa menghiraukan pengemudi lainnya. yang meneriakinya dan bunyi klakson mobil yang heboh. Zein dan Rama memang ahlinya dalam urusan balap mobil maupun motor, karena mereka dari zaman SMA sudah menekuni itu.
"Gimana Zein, apa kamu dapat petunjuk." Rama sudah mulai bicara dan mengendalikan perasaan nya.
"Sudah, disebuah gedung tua, dekat pasar tradisional" ujar Zein fokus.
dan langsung banting setir menabrakan mobilnya, pada pagar kayu yang jadi pembatas untuk masuk kedalam.
Anyelir masih meronta, dan memohon pada Nara dan Selena, yang tidak menghiraukan nya sama sekali. ketika melihat tangan- tangan panjang mulai mendekat hendak menggerayangi tubuh mungilnya. Anyelir menutup mata erat.
"Tiidaaaakkk...,, tiidaaaakkk......"
Anyelir meronta-ronta, dan menggelengkan kepalanya.
Sebuah hantaman keras melayang kepada lelaki botak, yang sempat merobek baju bagian depan Anyelir. perkelahian tidak bisa terelakkan lagi. Dengan keahlian beladiri nya, lelaki itu mampu menghadapi delapan lelaki bertubuh besar dan kekar.
__ADS_1
Perlahan Anyelir mencoba membuka mata, ingin melihat dewa penolong yang datang membantunya, dia kaget seakan tidak percaya dengan penglihatan sendiri, ketika melihat lelaki yang sedang bertarung membelanya itu.
"Rangga?"
Ucap Anyelir seolah-olah tidak percaya dengan penglihatan nya,
Rangga dengan berani nya berusaha melawan dan melumpuhkan orang-orang itu, yang masih memberikan perlawanan terhadap nya.
Nara dan Selena yang merasa terancam, melihat orang-orang suruhan nya yang mulai kewalahan menghadapi Rangga, dengan segera Selena mengeluarkan pisau dan mengarahkan ke leher jenjang Anyelir.
Rangga terpaksa menghentikan, dan mengalah demi keselamatan Anyelir. dan membiarkan tubuhnya dipukuli dan dikeroyok mereka.
Sementara itu Zein " Cepat bos, kita tidak punya banyak waktu lagi" mereka berdua langsung berlari masuk ke dalam.
Zein dan Rama masuk secara sembunyi-sembunyi, Zein langsung melepaskan tembakan kearah Selena yang hendak menancap kan pisau keleh Anyelir. meski belum terlalu dalam namun pisau itu mampu melukai leher Anyelir.
__ADS_1
Selena jatuh tak berdaya, darah masih mengalir ditubuhnya, Rama terduduk lemas, menyaksikan semua itu. sambil memegang kepalanya, yang tiba-tiba sakit tak tertahankan mendengar tembakan Zein tadi. kejadian dua setengah tahun silam membayang dikepalanya.
Dengan susah payah dia mencoba melihat ke arah Jasmine wanita yang paling dicintai nya, kesakitan dan jatuh tergeletak di samping tubuh Selena. sambil memegang lehernya yang berdarah. Rangga datang dan menarik tubuh Jasmine kepangkuan nya dan membawa Jasmine pergi.
Rama yang tidak berdaya ingin mengejar, namun tangannya dipegang Selena yang sudah sekarat.
"Mas.....mas Rama ku, maafkan Selena. da...dan Sam...pai kan ju..ju..ga maafku untuk aaa... Anyelir mas " Selena berusaha berbicara.
Rama kasihan menatap Selena, bagaimana pun Selena teman kecilnya, anak sahabat kedua orang tuanya. Selena anak tunggal yang terbiasa hidup manja dan segala keinginan nya selalu dipenuhi, begitu pun cinta Rama. dia begitu terobsesi ingin mendapatkan.
"Selena bertahan lah, aku akan membawamu kerumah sakit segera"
sambil berusaha berdiri dan menarik Selena kepangkuan nya.
Sementara Zein masih mengejar-ngejar Nara yang berhasil kabur, namun di depan polisi berhasil membekuk nya.
__ADS_1
Rangga membawa Anyelir kerumah sakit terdekat, dan memesan tiket penerbangan ke Amerika, dan menghubungi Sinta agar bersiap. mereka semua akan pindah dan menetap diamerika. sekalian mengamankan Anyelir dan keluarga nya. Rangga dan papa nya begitu menyayangi Zio dan sudah menganggap Anyelir seperti anak sendiri dan saudara perempuan bagi Rangga penganti Jessica.