
Naura menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk mengumpulkan keberanian. tangannya sedikit gemetar, seiring detak jantung Naura yang terus berpacu seakan mau copot dari sarangnya. dengan perasaan yang berkecamuk. Naura mengayunkan langkah pelan. dan semakin mendekat. dia sangat gugup, terterlihat sekali minum yang diatas nampan ikut bergerak miring kiri ke kanan, seperti ingin tumpah.
"Semoga keputusan yang diambil kedua orang tuaku ini tidak salah, sehingga pengorbananku ini tidaklah sia-sia, mas Irfan kekasihku ....,, maafkan aku telah mengkhianati cinta dan kesetiaan mu."
Naura membatin sedih, namun segera dia menepis perasaan itu, perlahan dia duduk di samping Dion, jemarinya mulai menelusuri setiap lekuk wajah tampan Dion. meskipun ini pengalaman pertama bagi Naura. tapi dia mencoba menirukan setiap adegan-adegan orang yang tengah bermesraan, karena Naura juga pengemar film yang bernuansa Romantis yang ada adengan vulgarnya.
Dalam tidurnya, Dion seperti merasa bermimpi didatangi dan disentuh seorang gadis yang sangat cantik, sentuhan-sentuhan itu semakin lama semakin tersa begitu nyata.
Dion sangat menikmati setiap sentuhan dan elusan lembut tangan Naura, karena ini pertama kali dia merasakan sentuhan seorang wanita, sehingga dia terus mengeliat dan tidak ingin terjaga dari mimpi indahnya. pelan tapi pasti Dion ikut membalas Melu*****bibir Naura yang tersa manis.
"Apa ini nyata, atau hanya sekedar mimpi.?" berbagai pertanyaan bermunculan di benak Dion, perlahan Dion mencoba untuk bangkit dan melepaskan pagutan tubuh Naura, yang masih berusaha untuk menempel padanya.
__ADS_1
"Siapa kamu.?" tanya Dion, berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya. karena merasa pandangan matanya yang samar dan kurang jelas, sebagian lampu diruangan itu juga telah dimatikan oleh Gilang. sebelum pergi meninggalkan ruangan.
"Sssstttt,, " Naura meletakkan telunjuknya dibibir Dion, seperti terhipnotis Dion membiarkannya, bahkan Dion menurut saat Naura menyodorkan minuman. dia meneguk minuman itu hingga tersisa sedikit. tidak butuh waktu lama, Dion merasa kepanasan dan sesuatu dalam tubuhnya seolah-olah menginginkan sentuhan dan pelepasan.
"Si... siapa kamu.?" Dion masih berusaha untuk mengetahuinya
"Namaku Naura sayang," kembali membelai tubuh Dion
"Untuk apa kamu datang kesini dan bercumbu denganku.?"
Dion secara tidak langsung, sudah bisa menebak siapa sebenarnya Naura.
__ADS_1
"Maaf aku tidak bisa menolong mu, silahkan tinggalkan ruangan ini.!"
sambil berusaha keras, untuk mengendalikan rasa yang begitu membuat Dion merasa panas, dan butuh pelampiasan. sekilas Dion melirik sofa disebelahnya. namun "kosong".
"Kemana perginya Bos Gilang.?" Dion bergumam pelan
Naura kembali berusaha untuk membujuk Dion,
"Aku harus berhasil malam ini, kalau tidak keluargaku akan hancur. termasuk kekayaan yang kami miliki. akan hancur sekejap mata."
Untuk mengumpulkan keberanian dan menghilangkan rasa gugupnya, Naura ikut meminum sisa dari minuman Dion barusan. hingga dia juga ikut kepanasan. dan mempunyai keberanian yang lebih besar dari sebelumnya.
__ADS_1
Dion yang sudah tidak mempunyai kemampuan lagi untuk mengumpulkan kesadaran, ikut membalas sentuhan Naura. bahkan Dion lebih bergairah dari sebelumnya. lama mereka melakukan itu. hingga Dion berhasil merebut sesuatu yang sangat berharga dari seorang wanita. pagi menjelang barulah keduanya kelelahan dan tertidur begitu saja dengan posisi tubuh yang saling berpelukan. diatas sofa yang berukuran kecil itu.
Sementara Gilang kembali ke penginapan, setelah puas ngobrol panjang lebar dengan istri yang sangat dirindukan nya beberapa hari ini. sambil menggigil menahan rasa dingin, Gilang menenggelamkan seluruh tubuhnya kedalam selimut tebal yang telah disediakan.