
Cantika melirik Gilang yang terlihat sudah lemas, sesekali menutup mulutnya untuk menguap
"Aku harus mencari cara dan bersandiwara agar papa tidak menahan kak Gilang lagi" sambil mengelus perutnya
"Aduh...ngilu banget..." Cantika mengusap betisnya dengan wajah kesakitan
Gilang dan Tuan Anwar langsung menoleh menatap Cantika
"Kamu kenapa Nak" memberi kode dengan tangan kanan nya, agar Gilang tidak ikut mendekati Cantika
Gilang kembali duduk ke posisinya semula, dengan perasaan cemas melihat istrinya yang terlihat kesakitan
"Pa..,, betis Cantika tiba-tiba cram" Cantika masih memegangi betisnya itu
"Cepat sini papa bantu memapahmu berjalan menuju kamar mu" Tuan Anwar bersiap dengan mengulurkan tangannya
"Tidak usah pa.., Cantika sekarang kan sudah punya suami yang akan membantu dan menjaga Cantika" melirik Gilang yang tengah memancarkan senyum senang disela-sela mata ngantuk dan wajah lelahnya
__ADS_1
"Ya sudah, terserah kalian" Tuan Anwar kembali duduk
"Maaf ya pa, Gilang tidak mampu mengalahkan papa, karena papa itu terlalu hebat bermain catur nya"
Gilang mendekati Cantika, dan tanpa pikir panjang lagi dia langsung mengendong tubuh Cantika dan membawa menuju kamar. Cantika yang tidak menyangka Gilang akan berani mengendong nya, membulat mata kaget dan spontan mengilang kan tangan nya ke leher Gilang karena takut jatuh.
"Cantika aku gendong saja ya, karena aku tidak tega melihat mu berjalan tertatih-tatih menuju kamar" ucap Gilang, tatapan mata mereka bertemu yang membuat lidah Cantika terasa Kelu dan tidak mampu untuk mengeluarkan kata-kata nya lagi
Tuan Anwar yang menyaksikan itu langsung melonggos kesal berjalan menuju kamar nya juga.
Gilang merebahkan pelan tubuh Cantika dan menyelimuti nya sampai ke leher
"Selamat malam Cantika"
"Terimakasih kak Gilang"
Mereka berdua tiba-tiba merasa canggung dalam ruangan kamar itu, Gilang pun bingung mau tidur dimana, satu ranjang dengan Cantika pasti dia akan menolak nantinya, Gilang berjalan hendak menuju sofa
__ADS_1
"Kak Gilang tidur di sebelah ku saja" Cantika tiba-tiba bersuara dan membatasi ranjang itu dengan dua buah guling
Gilang membalikkan badannya kembali
"Apa kamu tidak takut lagi dengan ku Cantika" tanya Gilang ragu
"Aku belum percaya sepenuhnya kepada kak Gilang, dan aku cuma merasa kasihan melihat kak Gilang tidur di sofa, karena bisa membuat tubuh kak Gilang nantinya pegal-pegal kerena ulah papaku"
Gilang tersenyum mendengar penuturan Cantika, dan naik keranjang tidur di sebelah Cantika, tidak perlu waktu lama Gilang sudah tertidur dengan pulas, terdengar dengkuran halus di mulut nya
Cantika yang masih belum bisa memejamkan mata, melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga subuh. dengan perlahan dia membalikkan tubuhnya menghadap Gilang.
Tanya sadar tangan Cantika menyusuri lekuk wajah tampan Gilang, yang bagaikan magnet memberikan ketenangan yang luar bisa baginya, Cantika memejamkan matanya perlahan dengan posisi tangan yang masih menyentuh wajah Gilang. dan ikut tertidur merajut mimpi indah berdua menggapai bahtera Rumah tanga yang bahagia
Dikamar nya Tuan Anwar tersenyum puas
"Gilang ini tidak sebanding dengan apa yang telah kamu perbuat kepada putri kesayanganku..,, dan aku akan terus memantau sikap mu terhadapnya, dan jika kamu berhasil menunjukkan perubahan dan mampu membuat putri ku bahagia lahir dan batin, maka dengan lapang dada aku akan menerima mu menjadi menantu ku yang sesungguhnya, dan membatalkan surat perjanjian kalian itu"
__ADS_1