
Dengan perasaan sedih yang bercampur aduk Rama membelokan mobilnya langsung menuju Apartemen, dia tidak mau lagi pergi ke Club untuk menghilangkan kegalauan nya seperti yang sudah-sudah.
Setelah memastikan Anyelir yang terlelap dengan tenang, perlahan Mama berjalan keluar menuju kamarnya, setelah Mama menutup pintu kamar, Anyelir Kembali menangis sambil membelai perutnya yang membesar.
"Kamu pasti juga nggak nyangka papi berbuat seburuk itu kan sayang...."
Ucap Anyelir pada anak yang dikandungnya, seakan mengerti suasana maminya anak itu memberi respon dengan bergerak kencang menendang tangan maminya yang mengelus-elus.
Mama memasuki kamar nya, nampak papa masih duduk di kursi goyang depan balkon. Mama mendekati papa dan duduk di sebelah nya.
"Papa merasa aneh nggak dari kejadian yang diceritakan Rama barusan?" tanya Mama sambil memperhatikan reaksi papa.
"Iya ma, papa nggak yakin dan tidak percaya sama sekali bahwa Rama seperti itu." ucap papa sambil mengurut pelan pelipisnya.
__ADS_1
"Besok papa akan mencari tahu melalui Zein dan istrinya, biar kita bisa mendapatkan informasi yang lebih jelas mengenai perempuan itu" dan berdiri menuju tempat tidur mereka kembali, yang diikuti Mama dari belakang.
Zein masih bermalas-malasan di tempat tidur nya, selepas mandi dan sholat subuh Zein melanjutkan kembali tidur nya, mengingat sekarang hari Minggu, sementara dilantai bawah Larasati sudah sibuk menyiapkan sarapan untuk suami tercinta nya.
Larasati berjalan mendekati pintu ketika mendengar suara bel yang berbunyi, dengan tergesa dia membuka pintu " Eh ..Om dan Tante mari silahkan masuk" ucap Larasati sopan pada atasan suaminya itu.
"Terima kasih nak" ucap Mama dan mereka duduk diruang tamu Rumah Zein
"Oh ya, Zein nya mana nak" tanya papa
"Uda... bangun dong, dibawah ada Om dan Tante orang tuanya bos Rama" Larasati mengucapkan nya sambil menggoyang punggung Zein
"Apa" teriak Zein seakan tidak percaya dengan pendengarannya
__ADS_1
"Kamu temani mereka dulu, Uda mau bersiap sebentar" ucap Zein langsung menuju kamar mandi.
Tidak berapa lama Zein muncul dan duduk disebelah Larasati " Pagi Tuan, Nyonya " dengan senyum mengembang disudut bibirnya, yang seolah tidak percaya mendapatkan kunjungan dari atasan nya itu.
"Zein sebenarnya kedatangan kami kesini adalah menyangkut perubahan sikap Rama Akir ini, Mama Merlin pun menceritakan semua kejadian yang dialami Rama bersama Cantika sewaktu pesta pernikahan mereka dulu."
Sontak membuat Larasati terkaget dan spontan menutup mulutnya, sambil menundukan kepala dia sangat merasa malu sekali dengan perbuatan adik tirinya itu. termasuk juga Zein tidak menyangka bosnya akan terpancing bahkan bisa berbuat senekat itu mengingat kesetiaan nya selama ini, dan tidak mengizinkan sembarangan orang menyentuhnya.
"Aku sebagai kakaknya, merasa malu sekali atas perbuatan adik saya, dan mencoba meminta maaf pada Om dan Tante termasuk mbak Anyelir atas kesalahan nya itu" ucap Larasati mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes.
"Tuan dan nyonya, aku akan menyelidiki semua nya, untuk sementara percaya kan saja semua nya pada ku" ucap Zein
Selepas kepergian kedua orang tua Rama, Zein menatap Larasati yang masih menunduk " Sayang coba kamu hubungi Cantika dan bujuk dia untuk mengakui semua nya" Zein merengkuh tubuh Larasati kepelukanya.
__ADS_1
" Baik Uda"