Anyelir, Istri Bayaran Ku

Anyelir, Istri Bayaran Ku
Kemarahan Gilang


__ADS_3

Dion dan Gilang langsung menuju klinik dengan langkah panjang kaki keduanya, semua terlihat sibuk melihat kedatangan mereka yang secara tiba-tiba.


"Selamat datang Tuan Gilang." ucap mereka memberi hormat, salah satu kepala klinik menyambut kedatangan mereka berdua. yang diikuti yang lain.


Gilang pun ikut membalas sapaan mereka, tidak kalah ramah. serta Gilang menyempatkan waktu untuk membesuk pasien lainya, yang merupakan karyawan dan buruh perkebunan nya semua.


Beberapa diantara mereka ada yang menggelengkan kepalanya heran. melihat perubahan sikap Gilang yang sekarang. karena setahu mereka dulu Gilang juga pernah mengunjungi pabrik ini bersama Tuan Husein ayahnya. tapi sikap Gilang benar-benar kasar, angkuh dan sombong.


"Dimana Hendro dirawat.?" tanya Gilang pada salah satu dokter yang berdiri disampingnya.


"Ruang mawar, mas Gilang. mari saya antarkan." jawab dokter.


Sampai diruangan yang dituju, Gilang langsung masuk diikuti Dion. dan menyuruh dokter pergi meninggalkan mereka. mengingat mereka akan membahas masalah besar.


Mata Gilang membulat tajam menatap Hendro, yang terlihat ketakutan melihat kedatangan Gilang. begitu juga dengan istrinya, dia menegang erat tangan Hendro. dengan mata lebam seperti habis menangis.


Hendro dan istrinya berfikir, jika Naura telah melakukan kesalahan besar. sehingga Gilang mencarinya ke sini.

__ADS_1


Dion mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari-cari sosok gadis cantik yang bernama Naura itu. namun tidak juga terlihat olehnya. begitupun dengan Gilang.


"Mana Naura.?" ucap dion spontan, karena tidak bisa lagi menahan rasa penasaran nya.


"Naura... " ucap Hendro dan istrinya terhenti, keduanya saling pandangan. kemudian menunduk sedih.


"Ya Naura Putri kalian satunya," terdengar suara lantang Gilang, yang merasa emosinya kembali memuncak.


"Dia, belum pulang dari semalam." ucap istri Hendro disela-sela tangis nya.


"Memangnya kalian menyuruh Naura untuk pergi kemana.?" tanya Gilang seolah-olah tidak tahu.


"Maaf mas Gilang, kesalahan apa yang telah diperbuat Putri kami itu.?" ucap Hendro mengumpulkan keberanian untuk bertanya pada Gilang.


"Kalian masih bertanya, atau pura-pura tidak tahu.?" Gilang menatap kedua orang paruh baya itu secara bergantian.


"Mas...maaf mas."

__ADS_1


"Okey, mungkin aku akan mengembalikan sedikit ingatan kalian." Gilang maju mengepalkan tangannya. membuat keduanya langsung berpelukan sambil ketakutan. Gilang hanya ingin menakut-nakuti saja, karena tidak mungkin dia kembali menghajar orang yang sudah tidak berdaya itu.


"Ampun mas Gilang, maafkan kami. kami benar-benar bersalah dan jahat. karena telah menyuruh Putri kami untuk menggodaku." ucap istri Hendro.


"Bagus" ucap Gilang.


"Tapi Putri kalian telah melakukan kesalahan, karena dia datang bukan untuk menggodaku. melainkan asisten pribadi ku ini. Dion." ucap Gilang.


"Apa.?"


ucap mereka serempak, sementara istrinya langsung pingsan tiba-tiba. karena merasa syok mendengar anak mereka telah salah dalam memilih sasaran nya.


Hendro menangis menyesali semua kesalahan dan kecerobohan mereka, namun semua itu sudah terlambat. tim medis masuk atas perintah Gilang. dan membantu mamanya Naura agar kembali tersadar.


"Sekarang mana Naura mas.?" terdengar suara istrinya yang lemah, setelah kembali siuman. membuat Hendro menghentikan tangisnya.


"Ini semua gara-gara kamu ma, yang memaksa Naura. bahkan tanpa memberi tahu bentuk dan rupa mas Gilang sesungguhnya. pada Putri kita." ucap Hendro

__ADS_1


"Papa kok menyalahkan Mama sih, ini juga termasuk kesalahan papa." mereka saling tuduh membuat emosi Gilang memuncak.


__ADS_2