Anyelir, Istri Bayaran Ku

Anyelir, Istri Bayaran Ku
Melepas Rindu


__ADS_3

Senyum Anyelir mengembang dengan perasaan bahagia, begitu melangkah kan kakinya keluar dari Bandara internasional Soekarno-Hatta. nampak dari kejauhan Rangga telah melambaikan tangan nya, menyambut kedatangan kami ke Indonesia.


Selama dalam perjalanan Zio kecil begitu menurut dan lebih banyak tidur. tidak seperti sebelum pesawat mereka mendarat Zio tidak henti-hentinya menangis. sampai Anyelir kewalahan untuk memenangkan buah hati nya tersebut.


"Hallo keponakan om yang ganteng. " ujar Rangga melangkah mendekati Anyelir , dan mengambil alih untuk mengendong Zio.


"Bagaimana tadi di Pesawat Zio rewel nggak?" tanya Rangga kembali.


"Iya rewel nya, pas mau naik Pesawat aja, nyampe didalam langsung ketiduran. mungkin kecapean habis nangis. " bibi Romlah menimpali.


"Dan dia hanya mau, sama maminya doang. " ujar Sinta sambil menatap mesra Rangga.


Mereka memasuki mobil yang telah disediakan Rangga. pandangan Anyelir lebih tertuju keluar jendela, sambil menikmati alunan musik. yang diputar salah satu stasiun radio. yang begitu sesuai dengan suasana hatinya, Rangga yang paham perasaan Anyelir tiba-tiba ingin mengganti canel itu, tapi Anyelir melarangnya.

__ADS_1


Ku pejamkan mata ini........


Mencoba untuk melupakan........


Segala kenangan indah...... tentang dirimu... tentang mimpiku.


Entah dimana dirimu berada, hampa terasa hidupku tanpa dirimu......


Mungkin kah disana, kau rindu kan aku ....... seperti diriku yang selalu Merindukan kan mu........


Air mata Anyelir lolos begitu saja, sederas air hujan yang membasahi kota Jakarta siang ini. kerinduan yang begitu mengelora dan semua kenangan bersama Rama kembali bermunculan, tatkala mobil tiba-tiba berhenti lampu merah dipusat kota Jakarta, nampak dari kejauhan kantor Rama. kesibukan orang yang berlarian karna hujan tak menghalangi mata Anyelir menatap kantor itu dari kejauhan, berharap bisa melihat Rama walau hanya sekilas.


Sinta yang merasa kegalauan Anyelir, menarik tubuh rapuh itu, kedalam pelukannya.

__ADS_1


"Sudah lah Anyelir, kamu harus kuat kalau kamu lemah. misi kita untuk membawa Rama kembali kepelukanmu akan gagal, karena begitu banyak penghalang cinta kalian. " ujar Sinta.


Anyelir menghapus air mata nya dan kembali tersenyum kearah Sinta.


"Terimakasih kasih Sinta." ujar Anyelir dan menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil.


Anyelir sadar, seandainya dia kembali dan mendatangi Rama, belum tentu Rama akan menerima nya begitu saja, karena ingatannya belum pulih sempurna, dan orang-orang yang berniat jahat, tentu dengan mudah mencelakakan nya dan Zio. untuk itu Anyelir tidak mau gegabah. ingatan nya masih segar tentang beberapa tahun Silam.


Peristiwa yang begitu mencekam, dimana terdengar suara tembakan, dia hanya bisa menangis di pelukan Rama yang berusaha memberikan melindungan. dan kematian pak Agus sopir pribadi yang disediakan Rama khusus untuk jemput antar Anyelir sekolah. banyak Korban dalam peristiwa itu. Anyelir bersyukur dia dan suaminya selamat. meski harus menempuh cara seperti sekarang.


Mobil memasuki sebuah Area Apartemen mewah yang disediakan Rangga, dia sengaja membeli apartemen yang berdekatan dengan apartemen Rama dan Anyelir dulu. cuma beda satu lantai saja. dia berharap Anyelir bisa melakukan pendekatan dengan Rama secara perlahan supaya ingtannya kembali.


"Rangga ngapain kita kesini?" tanya mereka hampir berbarengan.

__ADS_1


"Aku sengaja, membeli Apartemen yang berdekatan dengan Rama, supaya dia perlahan mengingat Anyelir dengan sering bertemu di kantor dan dislokasi Apartemen." jawab Rangga.


Kenangan demi kenangan melintas di memori Anyelir, termasuk tingkah polosnya sewaktu bibi Romlah pertama kali mengajaknya memasuki lift yang sedang mereka masuki sekarang.


__ADS_2