
Gilang terbangun dari tidurnya, dengan nafas ngos-ngosan. dia habis mimpi buruk, Cantika seperti mendatangi nya ketempat itu. dan saat Gilang mendekati istrinya itu, Cantika tiba-tiba berlari.
"aaaagghhh, syukurlah cuma mimpi."
Gilang mengusap wajahnya kasar, dan melirik Dion yang ikut tertidur pulas di sofa sebelahnya.
"Sebaiknya aku kembali ke penginap, mudah-mudahan saja disana kondisi siganalnya sudah membaik. agar aku bisa menghubungi Cantika." Gilang mengenakan jaket tebalnya, dan pergi meninggalkan ruangan kantor nya.
Gilang melirik Dion yang sudah tertidur begitu pulas,
"Sebaiknya aku tidak usah membangun kan Dion. biarkan saja dia tertidur di sofa ini."
Gilang melangkah pergi meninggalkan Dion, dan membiarkan saja pintu ruangan itu dalam keadaan terbuka. karena pikiran Gilang saat ini. bagaimana cara mendapatkan signal agar bisa mengabari istri tercinta nya. karena berdasarkan informasi yang diperoleh. tempat penginapan dan tempat tertentu di lokasi perpuncakan ini mempunyai signal.
Gilang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, mengingat kondisi jalanan yang kecil dan sedikit rusak.
"Udara disini benar-benar dingin." gumam Gilang sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling arah
" Aku rasa perbukitan itu memiliki signal." Gilang melajukan mobilnya kesana.
Gilang mengeluarkan ponselnya, dan turun dari mobilnya.
"Alhamdulillah, ada signal." Gilang tersenyum senang, dan mulai mengdial panggilan. " Istri kecilku."
__ADS_1
Gilang tidak peduli lagi sekarang jam berapa, karena rasa rindu yang teramat sangat. sehingga yang terpenting baginya mendengar suara lembut Cantika.
"....Tuuuuttttt,, Tuuuuttttt....,, Tuuuuttttt,, tidak ada jawaban
Raut wajah kecewa terpancar dari Gilang,
"Mungkin istriku telah tertidur, mengingat sekarang sudah mulai larut., sebaiknya aku ketik pesan singkat saja" Gilang mulai mengetik
Dirumahnya, Cantika merasa seperti seseorang membangunkanya, namun saat membuka mata, kosong tidak ada siapa-siapa,
"Jam berapa sekarang, mencoba membuka sedikit matanya. lalu mengusap layar monitor ponselnya, untuk melihat jam. namun Cantika mengerutkan keningnya, melihat sebuah panggilan tidak terjawab. segera dia melihat No id. pemanggilan itu.
"Mas Gilang.!"
Gilang yang baru mulai mengetik pesan singkat, membulat kan matanya. saat Cantika menghubungi nya balik.
"Assalamualaikum sayang,." terdengar jawaban Gilang
"Waalaikumsalam, kak Gilang." pekik Cantika tidak mampu menahan rasa bahagia, karena bisa mendengar suara laki-laki yang sangat dirindukannya.
"Iya sayang, bagaimana kabarmu dan bayi kita.?
"Kami berdua sehat, kak Gilang gimana.?"
__ADS_1
"Aku sakit sayang, karena terlalu merindukan mu dan anak kita." terdengar merdu sekali suara Gilang, bagi Cantika sehingga senyuman terus mengembang bibirnya
"Kapan kak Gilang kembali.?"
"Sabar sayang, setelah masalah ini selesai, aku langsung menjemput mu sayang."
Sementara Naura telah siap, dia didandani secantik dan seseksi mungkin oleh sang mamanya,
"Naura kamu jangan tegang gitu nak, ingat nasip keluarga kita sekarang berada ditangan mu nak." bujuk mamanya
"Cepat nak, sopir papa akan mengantarkan mu ketempat Gilang. berdasarkan informasi yang Mama peroleh, Gilang malam ini nginap dipabrik, bersebelahan dengan ruangan papamu. kamu pasti yptahu ruangan yang Mama maksud. karena kamu juga sudah sangat sering ke pabrik."
"Ya ma, Naura pergi dulu."
Sampai dipabrik, Naura langsung menuju ruangan yang dimaksud.
"Pasti ruangan ini, karena posisinya bersebelahan dengan ruangan papa, tapi bagaimana bentuk mas Gilang itu ya,? apa dia jelek atau sudah tua Bangka.?" berbagai pertanyaan bermunculan di benak Naura karena belum pernah bertemu dengan Gilang sama sekali
Mata Naura membulat, saat melihat seorang pria yang sangat tampan tertidur pulas di sofa.
"Wah...wah,, tanpanya. kalau kayak gini ngak nyesal aku ngorbanin keperawananku."
Naura mendekati Dion, sambil membawa nampan yang berisi minuman yang telah tercampur perangsang.
__ADS_1