
Mobil bok yang membawa Zein memasuki sebuah gerbang besar, dimana disekelilingnya berdiri banyak bangunan tua, dan bukit yang menjulang tinggi. mobil pun berhenti di salah satu bangunan yang paling besar.
Dihalaman luas itu telah berdiri orang-orang dengan wajah tidak bersahabat, menyambut kedatangan mereka. Larasati berlari memeluk wanita yang paling tua di antara yang lain "Nenek" ucap Larasati.
Zein berdiri mematung di tempatnya, seorang wanita yang cantik dan centil mendekati nya. "Berusaha lah tampan, jika ingin keluar dengan selamat dari sini" ucap nya sambil tersenyum
Tuan Anwar mengangkat tangan nya, hendak melayangkan ke arah Larasati, namun dihalangi neneknya " Langkahi dulu aku Anwar, sebelum kamu menyakiti cucuku" ujar nenek emosi. Nenek mendekati Zein lalu membawanya kedalam.
Sementara Tuan Anwar ditemani Gilang, nampak sedang merencanakan sesuatu sambil melirik ke arah Zein. Larasati yang mengetahui gelagatnya, berusaha agar selalu berada di dekat Zein. dia tidak ingin sesuatu terjadi pada orang yang merupakan Cinta pertama nya itu.
Tuan Anwar masuk dan duduk disebelah Zein " Baiklah aku tidak akan mempermasalahkan kamu lagi, dan membebaskan kamu dari sini, karena telah membantu Putri ku selama ini" ujar Tuan Anwar
"Dan besok aku akan menikahkan nya dengan Gilang, sebelum pernikahan nya digelar. aku harap kamu sudah meninggal kan tempat ini" ujar Tuan Anwar
"Baiklah aku akan pergi dengan senang hati" ucap Zein
__ADS_1
Larasati menangis sedih, membayangkan sebentar lagi akan menikah dengan Gilang. yang dia inginkan hanya lah Zein "aku harus cari cara agar mereka menikah kan aku dengan Om Zein, bukan dengan Gilang" ucap Larasati sambil memikirkan rencana yang akan dilakukan.
Dikamar Cantika juga berusaha membujuk mamanya, agar mau membantu nya untuk mendapatkan Zein. karena dia juga jatuh cinta pada pandangan pertama kali terhadap Zein yang ganteng dan kaya.
"Duh Cantika Mama tidak berani, papa mu pasti tidak akan setuju" ujar Mama tiri Larasati panik dengan permintaan anaknya yang tiba-tiba.
"Pokoknya Cantika maunya sama Abang Zein" ucap nya ngotot
Mama pun melongos pergi meninggalkan kamar Cantika "Dasar keras kepala" ucap nya
"Tapi aku mencintai Om, dan hanya ingin menikah dengan saja" ucap Larasati sambil menangis
Zein terdiam sebenarnya dia juga menyukai Larasati, kalau tidak mana mungkin dia sering membahayakan nyawa membantu Larasati " besok hari pernikahan mu, dan kita tidak mempunyai waktu lagi untuk membahas tentang perasaan kita" ucap Zein
Larasati mulai membuka pakaian nya "mungkin saja Om kalau kita melakukan ini" ucap mendekati Zein
__ADS_1
"Larasati jangan" ucap Zein mendorong tubuh Larasati yang mulai menyentuh tubuhnya.
Sementara diluar kamar nenek telah mengatur segala nya, dia bekerja sama dengan Larasati, agar pernikahan nya dengan Gilang dibatalkan. Nenek menemui Anwar putra kesayangannya itu sedang berdiri di balkon " Anwar aku harap kamu membatalkan rencana mu, untuk menikah kan Larasati dan Gilang" ucap nenek
"Tidak bisa, Gilang adalah laki-laki yang tepat untuk Larasati" ucap Anwar mulai emosi
"Tapi apa kamu yakin Gilang tidak akan kecewa nantinya, setelah menikah dengan Larasati" ujar nenek
"Maksud ibu?" tanya Tuan Anwar penasaran dengan ucapan Ibu nya
"Larasati telah lama kabur dari Rumah, dan tinggal dengan seorang laki-laki. apa kamu yakin bahwa tidak terjadi sesuatu pada mereka ? ujar nenek
"Bu, aku dan Gilang telah menyelidiki nya. dan mereka tidak melakukan apa-apa" ucap Anwar
"Tapi aku merasakan ada yang aneh, dengan sikap Larasati. barusan secara tidak sengaja aku melihat seperti bayangan Larasati masuk mengendap-endap ke kamar lelaki itu" ujar nenek
__ADS_1
"Apa" Tuan Anwar emosi langsung berlari ke kamar Larasati dan membuka pintu secara paksa dan .....,,