
Tanpa Cantika sadari dia begitu menikmati suapan makanan dari Gilang, rasanya begitu nikmat bercampur dengan persaan nyaman dan tenang.
"*Persaan macam apa ini, kenapa sekarang aku merasakan begitu tenang duduk disebelah nya. padahal aku sangat yakin membenci pria brengxxxx ini.
Apa karena kamu nak....,, kamu ingin selalu berada didekat ayah mu. jangan seperti ini nak, kamu bisa menyiksa bunda.... karena setelah kamu lahir nanti kita akan pergi jauh dari pria ini*.
Cantika terus membathin sambil mengelus perutnya yang masih terlihat datar, namun terlihat berisi.
Gilang memperhatikan tingkah Cantika yang mengelus perutnya, merasa bergetar hatinya untuk ingin menyentuh dan ikut mengelus, perlahan tapi pasti tangan menyentuh tangan Cantika yang bergerak, hal itu refleks membuat Cantika kaget dan mendorong tubuh Gilang kasar bayangan buruk itu seakan berputar kembali di memori gadis itu.
"Minggir kamu lelaki jahat..,, dan jangan pernah coba untuk menyentuh ku dan bayiku ini" dengan nada volume yang tinggi serta menatap tajam kearah Gilang, diikuti air mata Cantika yang meluncur deras
__ADS_1
Gilang terpaku menatap Cantika, tidak menyangka gadis itu masih menyimpan trauma yang mendalam, Gilang merasa bersalah terbersit menyesali perbuatan bejatnya itu, ikut merasakan nyeri yang teramat sangat didadanya
"Aaahhkg....,, mengusap kasar wajah nya. kenapa perasaan bersalah ini datang menyiksa ku sekarang, semula aku berfikir akan tenang dan puas telah membuat dia dan keluarganya seperti ini, namun sekarang persaan ini terus meneror ku dan membelenggu kemanapun aku pergi"
Gilang kembali berusaha menguasai keadaan....,,
"Cantika ....,, Maafkan aku, percaya lah aku tidak akan menyakiti mu. ingat sekarang ada darah daging ku dalam tubuh mu, aku hanya ingin menyentuhnya... tolonglah percaya padaku Cantika. buang pikiran buruk mu sekarang" Gilang berusaha setenang mungkin berbicara
"Mulai sekarang aku tidak boleh menjadi wanita lemah lagi"
"Aku tahu Cantika kesalahan ku dan penyesalan ini tidak akan mengembalikan keadaan. tapi tolong....,, belajar lah sedikit saja membuka pintu maaf untuk ku, aku tidak menuntut apa-apa lagi selain itu. dan pegang kata-kata ku"
__ADS_1
Melihat reaksi Cantika yang bimbang dan bingung, Gilang turun dari sofa, bersimpuh tepat dihadapannya Cantika, perlahan tangan Gilang maju mencoba memegang kedua belah tangan Cantika.
Tidak ada penolakan dari Cantika dia membiarkan tangan nya digenggam Gilang, dan mengusap nya lembut.
"Sekali lagi maaf kan aku, atas semua nya...dan kembali lah menjadi Cantika yang dulu lagi. Cantika yang ceria dan cerewet. masih ingat ngak sewaktu kamu masih anak-anak dulu, kamu selalu usil menganggu ku jika aku tengah bersama kakakmu, dan aku akan mengejar dan menggelitik mu" Gilang mencoba membuka lembaran masa dulu mereka yang bahagia
Kenangan itu kembali berputar indah di memorinya, dulu Tuan Husein dan papa Cantika punya proyek yang sama, dan Gilang sering ikut dengan papanya bahkan hampir tiap hari dia bertemu Cantika dan Larasati. dan bermain di Rumah pohon yang terletak tidak terlalu jauh dari proyek kedua orang tua nya. masa itu mereka benar-benar bahagia
Gilang tidak menyangka keegoisan dan kemarahan nya membuat dia lupa diri dan tega berbuat demikian pada Cantika.
Cantika mengangkat wajahnya menatap Gilang, mencari kesungguhan dari ucapan pria itu atau hanya jebakan saja karena menginginkan bayi yang dikandungnya, mengingat ancaman keluarga Gilang yang akan mewariskan seluruh aset keluarga pada penerusnya.
__ADS_1
"Tidak.... tidak aku tidak boleh terjebak dengan ucapannya" memalingkan wajahnya karena tatapan Gilang seakan ingin merobohkan pertahanan Cantika