
Waktu terus berjalan, kini kehamilan Anyelir sudah masuk tahap dimana dia harus melahirkan anak ke tiganya, dengan kondisi perut yang cukup besar dan kaki yang membengkak.
Melihat Anyelir yang seperti itu, Rama khawatir meninggalkan istrinya dirumah meskipun banyak pelayan dan ada papanya juga, dan menghandle semua pekerjaannya dari rumah. Rama memerintahkan para karyawan atau Asisten nya untuk datang kerumah jika ada hal atau file yang harus dia periksa dan tanda tangan.
Anyelir begitu bahagia mendapatkan perhatian yang full dari suaminya, pagi ini Anyelir memasuki ruangan kerja, nampak Rama tengah tersenyum melihat kedatangan nya. dengan membawa kopi panas kesukaan Rama dan makanan kecil.
"Sayang lagi sibuk ya, minum kopi dulu" sapa Anyelir sambil memberikan secangkir kopi Ketangan Rama
Rama menerima cangkir itu dan meminum secara perlahan
"Mmmhhh...kopi buatan mu memang tidak ada duanya sayang"
Rama Meletakkan kopi itu dan menarik tubuh Anyelir yang sudah begitu membuncit dan menundukkan di pangkuan nya
"Jangan kak, tubuhku berat banget sekarang" Anyelir mencoba menolak dengan halus
__ADS_1
"Ngak papa...,, bagiku kamu tetap cinta ku yang dulu" dan memeluk penuh kasih sayang
Anyelir memejamkan matanya, menikmati kehangatan tubuh sang suami yang tidak pernah membuatnya bosan. Hingga deringan ponsel membuyarkan kemesraan mereka berdua
Rama mengangkat panggilan telpon yang ternyata dari Zein
"Hallo ada apa Zein ? terdengar suara Zein seperti orang yang sedang menangis dan terdengar suara nya begitu berat
"Bos aku sedang dirumah sakit, Larasati bos....hu..hu..,dia mengalami pendarahan hebat, dia jatuh dari kamar mandi, karena tidak sengaja menginjak mainan Catania hu...hu.." terdengar suara Zein yang begitu terpukul
Anyelir langsung menutup mulutnya dengan punggung telapak tangannya, tidak menyangka dengan apa yang menimpa sahabat dan mantan asisten pribadi suaminya itu.
"Sayang aku harus segera kerumah sakit, kamu dengar sendiri kan apa yang disampaikan Zein barusan" Rama menurunkan pelan tubuh istrinya
"Iya Kasian mereka...Kak aku ikut boleh ya...," Anyelir memegang lengan Rama dan memasang wajah memelas agar Rama mengizinkan nya untuk ikut serta
__ADS_1
"Baiklah"
Rama melonggos pelan dan membimbing Anyelir menuju mobil, sementara kedua anak kesayangannya ditinggalkan di rumah bersama Opa dan pengasuh mereka.
Zein memukul-mukul dinding Rumah Sakit, untuk mengurangi rasa kesedihannya, saat melihat tubuh istrinya yang terbaring tidak sadarkan diri. di usia kehamilan Larasati yang menginjak bulan ke tiga anak kedua mereka.
"Bangun sayang please....,, aku tersiksa Melihat mu seperti ini"
Zein terus mengusap-usap kepala Larasati, dan mencium tangannya, membiarkan air mata lolos di kedua pipinya, selama hidupnya baru sekarang Zein begitu merasakan takut yang tersemat sangat, pikiran buruk menghantuinya. dia tidak sanggup membayangjan jika seandainya Larasati pergi meninggalkan nya secara tiba-tiba. Zein menatap tubuh cantik Larasati sudah terpasang selang oksigen untuk membantu pernafasan nya.
Dikampung kedua orang tua Larasati diterpa kecemasan dan langsung menuju ibukota menuju Rumah Sakit tempat Larasati dirawat. mereka tidak sempat menghubungi Cantika karena terlalu buru-buru dan khawatir.
Gilang mendapatkan informasi dari salah seorang anak buah nya yang mengatakan musibah yang menimpa Larasati, saat Cantika berjalan kearah nya Gilang segera menutup ponselnya, Gilang bingung harus bagaimana menjelaskan berita itu kepada istri nya, dia takut Cantika akan kembali syok.
"Ada apa...kok wajah kak Gilang tegang begitu, memangnya siapa yang menghubungi" Cantika menatap lekat wajah Gilang dengan rasa penasaran nya
__ADS_1
"Itu...itu..." Gilang kebingungan
Cantika merasa pasti ada sesuatu yang tidak beres, dia juga merasakan semenjak semalam persaan tidak enak menghampiri nya, Cantika teringat akan mimpinya termasuk dimana dia berjalan dengan berpegangan tangan bersama kakak nya disebuah taman, mereka tertawa begitu bahagia, namun tiba-tiba Larasati menghilang membuat Cantika kebingungan dan mencari-cari sang kakak hingga dia tiba-tiba terbangun dan sudah ada Gilang didepannya.