BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
BERTEMU RIVAL


__ADS_3

Happy reading 🍃


Tepat pukul satu siang atau bertepatan dengan jam istirahat, Mark ditemani Winda dan Barra sudah dalam perjalanan menuju ballroom hotel tempat diselenggarakan pertemuan antar para pengusaha sekaligus perayaan hari jadi pernikahan Mr. Tamada bersama istrinya yang berdarah Jawa Sunda.


Mobil yang ditumpangi Mark dan kedua pegawai perusahaan memasuki area sebuah hotel bintang lima, mereka keluar dan masuk ke dalam menuju ballroom hotel tempat di mana acara diselenggarakan. Saat masuk ke dalam, sudah banyak para tamu yang hadir terdiri dari pengusaha berprestasi dibidangnya.


"Tuan, saya akan mengambilkan Anda minuman," ujar Barra.


Pria muda itu berjalan ke arah pelayan yang berdiri dibalik booth minuman, mengambil segelas orange juice dingin kemudian menegaknya sampai habis. Setelah itu barulah ia mengambilkan dua gelas yang sama untuk Winda dan bosnya.


"Silakan, Tuan."


"Ramai sekali," bisik Winda setelah menghabiskan satu gelas minuman dingin.


"Benar, Bu. Kupikir tidak seramai ini, kalau tahu akan banyak undangan yang hadir, tadi aku sempatkan diri untuk mandi terlebih dulu. Siapa tahu bertemu jodoh di sini," ucap Barra sambil terkekeh.


"Hu... Dasar! Memangnya Naomi tidak cukup bagimu untuk memenuhi kriteria sehingga kamu mencari gadis lain."


"Bu, aku dan Naomi hanya berteman saja. Lagipula mana mungkin kami berpacaran, dia bukan tipeku begitupun sebaliknya. Kami sudah saling kenal dan tahu keburukan masing-masing, jadi mustahil untuk bisa bersama."


"Cih, di dunia ini tidak ada yang mustahil. Jika Tuhan berkehendak jadi, maka akan jadilah."


"Sudah, Ibu akan do'akan semoga hubungan kalian dipermudah," goda Winda sambil mengerlingkan mata.


Sementara Mark, ia hanya menautkan kedua alis melihat pembicaraan misterius antara sekretaris dan asistennya. Pria itu mulai bosan, hanya jadi obat nyamuk diantara Barra dan Winda. Akhirnya ia berjalan menjauh mencari seseorang yang dikenal untuk diajak bicara.


"Selamat siang, Tuan Mark. Tak disangka bertemu Anda di tempat ini," sapa salah satu mantan pegawai PT Indah Sentosa.


Dulu, pria itu bekerja di bagian keuangan bersama Naomi yang berstatuskan masih mahasiswa magang namun setelah perusahaan dinyatakan pailit, ia mengundurkan diri karena tidak mau bertahan di sebuah tempat yang kelak hanya memberikan kerugikan secara finansial untuknya.


"Selamat siang," balas Mark dengan nada dingin.

__ADS_1


"Seingat saya, dulu perusahaan Anda tidak berminat mengikuti lelang proyek kecil-kecilan seperti ini tapi mengapa sekarang malah kelihatannya Tuan Mark begitu antusias sekali."


"Apakah PT Indah Sentosa sudah benar-benar terpuruk hingga membuat Tuan Mark harus bersaing dengan perusahaan kecil seperti kami?" tanya pria itu sinis.


Mark tersenyum kecut, menatap tajam ke arah pria itu sambil berkata, "apakah Mr. Lee menggajimu juga untuk menjatuhkan mental pesaing sebelum pertempuran dimulai?" tanya Mark tak kalah sinis.


"Saya perhatikan, hidupmu lebih makmur semenjak pergi dari PT Indah Sentosa," sudut bibir sebelah kanan Mark terangkat.


"Sudah berapa banyak uang yang diberikan oleh pria itu untuk menyogokmu agar memberikan informasi tentang perusahaan."


"Kamu..." pria itu mengangkat jari telunjuk ke depan Mark.


"Pengkhianat sepertimu tidak pantas bekerjasama dengan perusahaan yang menjunjung tinggi kesetiaan dan loyalitas. Kamu memang pantas bekerjasama dengan orang seperti Mr. Lee. Orang rakus, licik dan menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan."


Mark dan mantan pegawainya terlibat pembicaraan sengit, tanpa disadari dari kejauhan ada sepasang mata menatap sinis kearah mereka. Pria itu berjalan melewati kerumunan orang banyak, menghampiri sepasang insan manusia yang tengah terlibat perselisihan kecil.


"Halo, Tuan Mark. Nampaknya Anda sangat berapi-api berbincang dengan pegawai saya, hal apa yang kalian bahas?" tanya Mr. Lee sambil menggoyangkan gelas berisi minuman beralkohol dan menegaknya sekaligus.


"Wah-wah, beruntung sekali bisa bertemu dengan pebisnis sukses seperti kalian di sini tapi sayang, Bos saya tidak memiliki waktu banyak untuk meladeni orang-orang licik seperti kalian!"


"Mari Tuan, saya antar Anda duduk di kursi sana," ucap Barra. Ia mencoba menyelamatkan sang Bos dari mulut berbisa kedua pria di depannya.


Tak terima diremehkan oleh anak bau kencur seperti Barra, mantan pegawai Mark mengulurkan tangan hendak meraih kemeja pria itu tapi dihentikan oleh Mark.


"Jangan pernah menyentuh pegawai setiaku dengan tangan kotormu itu!" Mark menghempaskannya begitu saja.


"Kalian boleh bahagia diatas kehancuran perusahaanku tapi kita lihat saja nanti apakah Dewi Fortuna masih menyertai atau tidak."


"Silakan Tuan, kursi Anda sudah menanti."


Mr. Lee tak menyahut, ia memilih diam. Semakin pria itu membalas maka Barra akan semakin memancing emosinya.

__ADS_1


"Tak kusangka Mark masih memiliki pegawai setia seperti anak muda itu. Seharusnya dulu aku tawarkan gaji berkali-kali lipat agar ia mau bergabung dengan perusahaanku," batin Mr. Lee.


"Mister, mengapa Anda tak membalas ucapan anak muda itu. Dia sudah menjatuhkan martabat Anda sebagai seorang presdir."


Mr. Lee menarik napas panjang, lalu tatapan matanya diarahkan ke punggung saingan bisnis pria itu sambil berkata, "jangan permalukan dirimu di sini. Kita gunakan cara lain untuk membalas semua perbuatan mereka. Hancurkan mereka sehancur-hancurnya sampai pria angkuh itu tak memiliki daya apapun untuk menengadahkan wajah ke atas."


"Anda benar, Tuan. Lebih baik kita simpan energi untuk memberikan sepatah kata di atas stage nanti, saya yakin proyek kali ini akan dimenangkan lagi oleh PT Glory."


"Tuan, apakah meja ini sesuai keinginan Anda?" tanya Winda setelah Mark dan Barra duduk di kursi, tepat berada di barisan kedua dari depan stage.


"Ya, meja ini cocok untukku. Dari sini bisa dengan jelas menyaksikan bagaimana raut wajah bahagia Mr. Tamada dan istri dalam merayakan ulang tahun pernikahan. Meskipun nanti PT Indah Sentosa tak mendapatkan proyek itu tapi setidaknya kita turut hadir memberikan do'a untuk keharmonisan pasangan suami istri akan memberikan kebahagiaan tersendiri di hati ini," Mark mengangkat tangan ke atas dan menyentuh letak di mana posisi hati berada.


"Anda benar, Tuan. Melihat orang lain bahagia membuat kita larut dalam kebahagiaan mereka," timpal Barra.


"Kamu masih muda tapi pemikiran seperti orang dewasa. Atau jangan-jangan kamu dewasa sebelum waktunya," goda Winda.


"Bu Winda!" tegur Barra, ia mendelik ke arah wanita yang selama beberapa bulan ini menjadi rekan kerjanya dalam membantu sang bos mengurusi pekerjaan kantor.


"Baiklah... Baiklah, aku tak kan menggodamu lagi, anak muda."


Tak berselang lama, acara pengumuman lelang proyek dimulai dan Mr. Tamada selaku pemilik proyek maju ke atas panggung.


"Halo semua, terima kasih saya ucapkan atas kehadiran rekan-rekan dalam acara pengumuman lelang proyek siang hari ini."


"Saya sudah melihat proposal dari berbagai perusahaan yang ada di Indonesia, antuasime kalian patut diacungi jempol."


"Namun, dari sekian banyak proposal yang masuk hanya akan ada satu perusahaan beruntung kelak akan bekerjasama dengan saya," pria bermata sipit itu memberikan sambutan terlebih dulu sebelum memulai acara.


Bersambung


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2