BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
BEDA TUGAS TAPI SAMA-SAMA MEMBANTU ORANG LAIN


__ADS_3

Suster Kirana terdiam setelah mendengar pertanyaan wanita muda yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit.


Gadis itu mengerutkan kening, membuka dan menutup mulutnya berkali-kali, mencoba mengucapkan sebuah kalimat namun rasanya lidah kelu tak mampu berucap. Ia hanya bisa menghela napas panjang.


"Nyonya, orang biasa saja enggan menjalin kasih dengan anak penjudi seperti saya apalagi pria terhormat, memiliki jabatan tinggi, kaya raya dan tampan seperti Tuan Joe. Beliau pasti akan menolak mentah-mentah dan bahkan bisa saja langsung membuang saya ke tempat sampah layaknya sarung tangan sekali pakai ini," gadis itu mengangkat sepasang sarung tangan ke udara.


Ia biasanya menggunakan sarung tangan sekali pakai saat membantu perawat yang berjaga untuk membersihkan luka bekas operasi caesar.


"Kita belum tahu kalau tidak mencoba. Lagipula, saya yakin Kak Joe bukan tipe pria seperti mantan-mantan kamu yang akan mundur setelah tahu calon mertuanya seorang penjudi dan mempunyai hutang di mana-mana."


"Ya... Meskipun kami baru beberapa bulan tinggal satu atap lagi tapi setahu saya, Kak Joe itu tidak akan melihat seorang gadis dari luarnya saja."


"Dijamin deh, Suster Kirana tidak akan menyesal bila sudah kenal dengan Kak Joe."


"Jika Suster Kirana belum siap berumah tangga, kalian bisa melakukan penjajakan dulu. Kalau tidak cocok bisa putus, yang penting mencoba," Gladys masih mencoba membujuk gadis pemilik mata sipit yang sedang duduk di sampingnya.


Ia mengeluarkan semua trik dan jurus pamungkas dalam mempromosikan kelebihan sang Kakak agar Suster Kirana luluh dan mau menerima tawarannya.


Setelah terdiam beberapa saat, dalam hatinya muncul rasa bimbang dan keragu-raguannya yang dulu ia sembunyikan kini mencuat kepermukaan. "Apakah memang ini saatnya aku membuka kembali hatiku untuk seorang pria? Jika diperhatikan, Tuan Joe bukanlah tipe pria seperti mantanku terdahulu. Ia terlahir dari keluarga baik dan sangat menghormati orang lain bahkan Nyonya Aura memperlakukan orang tua angkat Gladys layaknya keluarga sendiri," batinya.


"Baiklah Nyonya, saya akan mencobanya."


Jawaban itu membuat Gladys senang bukan main, ia hampir bangkit dari ranjang namun rasa sakit membuatnya tersadar bahwa wanita itu baru saja menjalani operasi.


"Aw!" wanita itu meringis kesakitan.


"Nyonya, apakah Anda baik-baik saja?" tanyanya setelah melihat Gladys merintih kesakitan.


"Saya baik-baik saja. Tadi terlalu bahagia sampai lupa kalau ada luka sayatan di area sekitar perut."


Suster Kirana segera membantu Gladys mencari posisi yang nyaman, kemudian menarik selimut menutupi bagian kaki dan dada.


"Lain kali harus lebih hati-hati, jangan sampai terulang kembali."


"Baik, calon Kakak Ipar," jawab Gladys sambil meringis.

__ADS_1


Gadis berusia 25 tahun itu hanya tersenyum simpul mendengar dirinya disebut calon kakak ipar oleh pasiennya sendiri.


"Suster, mulai detik ini jangan panggil aku, Nyonya. Kamu bisa memanggilku Gladys dan kita tidak usah menggunakan bahasa formal. Lidahku ini sering keselo karena sudah lama tidak bekerja di kantor dan berbincang dengan orang lain menggunakan bahasa formal," pintanya.


"Tentu saja, aku akan memanggilmu Gladys dan kamu panggil aku Kirana. Deal?" ucap Kirana seraya mengulurkan tangan ke depan.


"Deal!" wanita itu menerima uluran tangan Suster Kirana.


***


Sementara itu, di negara lain yang memiliki iklim tropis dan kaya akan keanekaragaman, seorang pria bertubuh tegap, jangkung dan tampan sedang duduk di kursi kebesarannya. Ia menatap jalanan dari jendela besar di ruangan CEO, tangan menopang dagu dan pikirannya melayang entah ke mana.


Suara dering ponsel yang nyaring membuyarkan lamunan. Ia mengambil benda pipih itu dari atas meja, tak lama kemudian pesan beruntun masuk tertubi-tubi membuat ponselnya terus berbunyi tanpa henti. Kedua alis Mark bertaut, saat melihat nomor tak diketahui muncul di layar ponsel.


"Nomor asing?"


Dengan malas, ia membuka pesan itu dan setiap pesan yang masuk membuat matanya berkaca-kaca.


"Kini aku sudah resmi menjadi seorang Papa," ucapnya tanpa bisa membendung air matanya.


"Nak, maafkan Papa karena tidak berada di dekatmu saat kau lahir ke dunia ini tapi Papa janji jika bertemu nanti akan kuberikan apapun untukmu," tangannya mengusap layar ponsel dengan sangat hati-hati. Seolah-olah itu merupakan benda yang sangat rapuh dan akan menjadi abu apabila disentuh terlalu keras.


Saat Mark larut dalam suasana hati bahagia, Winda sekretaris perusahaan mengetuk pintu dan meminta izin masuk ke dalam ruangan.


"Masuk!" titah pria itu setelah mengusap cairan kristal di pelupuk mata.


"Permisi Tuan, di depan ada pengacara yang ingin bertemu. Katanya sudah membuat janji dengan Anda."


"Suruh masuk saja, aku memang meminta pengacara itu datang ke sini. Kamu, tolong minta OB membuatkan kopi pahit dengan takaran air setengah dingin dan setengah lagi panas. Jangan terlalu panas maupun terlalu dingin."


"Baik Tuan," ujar Winda sambil membungkuk dengan hormat.


"Halo Om Arga, apa kabar?" tanya Mark pada seorang pria tambun, pemilik kumis mirip Pak Raden. Ia merupakan teman lama Tuan Ibrahim.


"Sangat baik, kamu sendiri bagaimana? Kabar Papamu sudah lebih membaik?" tanya pria itu basa basi.

__ADS_1


"Sudah membaik Om. Ya, walaupun anggota tubuh tidak bisa digerakan lagi apabila melihat beliau makan banyak hatiku sudah sangat senang."


"Kamu benar Mark, tidak ada kebahagiaan lain selain bisa menikmati makanan lezat sampai perut ini terasa penuh," ia mengusap-usap perut tambun yang bersembunyi di balik jas berwarna merah maroon.


"Om bisa saja," timpal Mark sambil terkekeh.


"Mari Om, silakan duduk."


"Ada hal apa kamu meminta Om datang ke kantor? Apakah berkaitan dengan perusahaan? Setahuku PT Indah Sentosa memiliki lawyer sendiri untuk menangani kasus penggelapan dana, pelanggaran janji dan lain-lain."


Pria itu membuka manik kancing jas yang terdapat di bagian depan jas sebelum duduk di sofa.


"Bukan tentang perusahaan, tapi aku ingin menggugat cerai Stevanie."


"Apa? Cerai?" tanya pria itu dengan membelalakan mata sempurna, mulut terbuka lebar dan kening berkerut sehingga menimbulkan garis-garis halus di kening.


"Bukankah kalian saling mencintai bahkan sudah seperti perangko, ke mana-mana selalu nempel. Mengapa sekarang malah cerai!"


"Diantara kami sudah tidak ada kecocokan lagi, Om. Stevanie sudah berubah, dengan teganya ia berkata kasar pada Papa di depan mataku sendiri."


"Om tahu 'kan, semenjak Mama meninggal hanya beliau satu-satunya penyemangatku. Aku tak kan jadi orang sukses bila tanpa didikan dan bimbingan darinya."


"Oh begitu, Om akan membantu jika kamu sudah yakin dengan keputusanmu," ia memelintir ujung kumis saat terlibat percakapan dengan Mark.


"Oke Om, aku ucapkan terima kasih karena sudah bersedia membantu."


"Tidak perlu sungkan, aku dan Papamu sudah kenal lama. Selain itu, ini juga merupakan tugasku sebagai seorang lawyer."


Bersambung


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2