BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
HUKUMAN UNTUK STEVANIE


__ADS_3

Mark mengacak-acak rambutnya dengan kesal, ia tak bisa mengabulkan permintaan sang papa begitu saja sebab jika pria itu menerima maka hubungannya dengan Ameera dan keluarga Kurniawan akan semakin rumit. Bisa saja Joe memberikan bogem mentah pada wajah dan perut.


"Pa, jangan paksa Mark untuk kembali ke mansion. Vanie sadar selama ini sudah berbuat salah pada Ameera."


Wanita itu duduk di tepi ranjang bersebrangan dengan suaminya. Ia mengusap tangan Tuan Ibrahim yang tak tertusuk jarum infus.


"Vanie ikhlas bila Mark selamanya tidak kembali ke mansion," ucap wanita itu sambil mengigit bibirnya.


"Tidak, Sayang. Ia sudah berjanji pada mendiang Mamimu maka sebagai pria sejati wajib memegang teguh ucapannya."


Pria paruh baya itu kembali mengingatkan putranya akan janji yang ia ucapkan pada Mami Stevanie di detik-detik sebelum meninggal dunia. Di mana saat itu dengan lantang Mark berjanji tidak akan pernah meninggalkan Stevanie dalam keadaan apapun, selamanya.


Deg!


Hati Mark terasa terpelintir oleh tangan yang tak kasat mata, ia tersadar akan janji yang sudah diucapkan di depan mendiang mertuanya.


"Baiklah Pa, Mark akan kembali ke mansion," ucap pria itu seraya beranjak dari ranjang.


Ia pergi dari ruangan itu tanpa mengucapkan apa-apa.


Tuan Ibrahim tersenyum puas tatkala mendengar keinginanya dikabulkan oleh anak semata wayang.


"Vanie, susul suamimu. Rebut kembali hatinya, Papa hanya bisa membantumu sampai di sini."


Akhirnya wanita itu berlari menyusul Mark yang berjalan menuju lift.


"Mark, tunggu!" panggil Stevanie.


Napasnya terengah-engah karena pria itu tak mau menghiraukan dirinya.


"Mark, terima kasih kamu sudah bersedia kembali ke mansion," ujar Stevanie disela-sela aktivitasnya menghirup oksigen.


"Aku memang akan kembali ke mansion tapi jangan harap pernikahan kita akan kembali seperti dulu!"


Wanita itu mendongak melirik ke arah Mark sekilas. Ia membeku mendengar kejujuran pria yang sudah ia nikahi selama 3 tahun ini, "sampai kapanpun aku tak kan pernah menyerah merebut kembali cintamu!" Stevanie mengepalkan tangan menahan amarah.


Beberapa hari kemudian, Mark membuktikan ucapannya. Ia kembali ke mansion, tinggal satu atap lagi dengan istri pertamanya namun pria itu tetap memilih kamar tamu sebagai tempat peristirahatan.


Kini ia dan Stevanie berada di ruang kerja, pria itu sengaja meminta istrinya menemui Mark.


Stevanie dan Mark duduk berhadapan.


"Aku perjelas kembali hubungan kita, Vanie. Seperti yang kamu tahu aku kembali kesini berdasarkan keinginan Papa. Kita akan tinggal satu atap tapi perasaanku padamu kini sudah memudar," ujar Mark panjang lebar.


Stevanie tetap diam, hatinya panas mendengar setiap perkataan pria itu. Ia ingin berteriak, memaki suaminya tapi semua itu dipendam dalam hati. Saat ini tujuannya lebih penting daripada harus mengeluarkan emosi yang akan berakhir pada kehancuran rumah tangganya.


"Setidaknya aku masih mempunyai peluang untuk menggapai cintamu lagi," gumamnya dalam hati.


***


Mark dan Stevanie sedang menikmati hidangan di ruang makan. Hari ini seperti biasa pria jangkung itu hanya makan ala kadarnya, ia masih belum berselera makan.


"Kuperhatikan, setiap hari makanmu sedikit sekali. Kamu itu pemimpin perusahaan harus bisa menjaga kesehatan," Stevanie menyendok lauk pauk dan meletakannya di piring Mark.

__ADS_1


"Aku tak berselera makan!" ucap Mark dingin.


"Mengapa? Apa gara-gara gadis itu?" dengan wajah memerah.


"Aku malas berdebat denganmu!" pria itu bangkit dari kursi dan meninggalkan Stevanie begitu saja.


Di ruangan CEO, Mark sedang menatap bingkai foto hasil USG anaknya. Tangannya sibuk mengusap titik hitam yang masih nampak samar.


"Mark!" teriak seseorang.


Pria itu terlonjak, secara refleks ia berdiri dan tiba-tiba saja bogem mentah mendarat halus di perut dan wajahnya.


Bugh!


"Brengsek!"


"Bajingan!"


"Pria bodoh, tidak tahu diri!" maki pria itu, tangannya masih memberikan tinjuan pada perut dan wajah Mark.


"Kamu bilang tak kan pernah menyentuh lagi Stevanie tapi mengapa kenyataannya berbeda!"


"Aku sungguh tidak pernah menyentuh dia lagi semenjak Ameera pergi."


"Dasar pria kurang ajar!"


"Jika memang kamu tidak pernah menyentuhnya lantas mengapa istrimu bisa hamil!"


Pria itu mendorong tubuh Mark hingga ia terjungkal di sofa.


"Diam!" teriak Joe.


"Setelah keponakanku lahir, secepatnya kau talak dia!"


Tanpa menunggu Mark memberikan penjelasan, ia sudah keluar ruangan. Pria itu membanting pintu dengan keras hingga membuat kaca bergetar.


Mark berdiri dengan tertatih-tatih, tangannya merogoh ponsel dari saku celana dan membuka salah satu aplikasi berbentuk lingkaran berwarna merah.


"Vanie!"


Pria itu terkejut membaca isi berita yang sedang menjadi trending topic dan bahkan menduduki peringkat pertama dalam pencarian di media sosial.


"Aku harus segera menemui wanita itu!"


Kemudian ia menyambar kunci mobil, berjalan melewati kerumunan para karyawan. Pria itu tak memeduli tatapan aneh penuh tanya dari sekelompok orang yang sedang membungkuk memberi hormat padanya.


Deru napas pria itu memburu tak beraturan, emosinya sudah memuncak hingga ke ubun-ubun. Berkali-kali ia berteriak sambil memukul stir mobil.


"Vanie, dasar rubah sialan! Beraninya memanfaatkan kesempatan dengan menyebarkan berita hoax."


Ia melajukan kecepatan mobil diatas rata-rata. Setengah jam berlalu, kini pria itu sudah tiba di mansion.


"Di mana Nyonya?" tanya Mark sambil terus melangkahkan kaki.

__ADS_1


"Nyonya sedang berjemur Tuan."


Dengan langkah panjang dan pasti, pria itu berjalan menghampiri istrinya.


"Stevanie Hendrawan!" suara teriakan menggelegar itu laksana suara gemuruh petir di siang bolong.


Merasa namanya dipanggil, refleks wanita itu menoleh. Mata indahnya melihat sosok suami tercinta berjalan ke arahnya. Senyum simpul terukir di wajah namun senyuman itu sirna tatkala sebuah tamparan tepat mengenai wajah mulus Stevanie.


Plak!


Sontak wanita itu terkejut, tiba-tiba saja Mark datang dan menamparnya tanpa suatu alasan.


"Mark, kamu apa-apaan sih. Mengapa menamparku!" wajah wanita itu terasa panas.


"Itu hukuman yang pantas bagi rubah sialan sepertimu!"


"Kamu sudah gila ya, menamparku tanpa sebab," tanya Stevanie dengan mengangkat dagu ke atas. Sikapnya sungguh angkuh dan membuat Mark semakin muak.


"Tak kan ada asap tanpa api!" bentak Mark.


"Maksudmu apa heh?"


"Untuk apa kamu menyebarkan berita hoax dan mengumbarnya di sosial media. Kamu tahu, akibat perbuatanmu Joe memaksaku menceraikan Ameera setelah ia melahirkan."


Wanita itu tertawa terbahak-bahak, "hanya gara-gara itu kamu sampai tega menamparku!"


"Cih, bukankah malah bagus ya jika kamu menceraikan dia. Itu artinya cintamu kelak hanya untukku."


Kini Stevanie berjalan memutari suaminya yang sedang berdiri dengan kedua tangan terkepal di samping.


"Aku heran, mengapa Joe terlibat dalam urusan kita. Memangnya dia punya hubungan apa dengan ja*ang itu?"


"Apakah pria sok pintar itu adalah target selanjutnya yang akan dikuras kekayaannya oleh gadis itu!"


Wanita itu bertepuk tangan seraya tertawa, "hebat sekali dia, baru beberapa bulan magang sudah berhasil menjebak 2 pria sekaligus. Benar-benar handal dalam merayu para pria kaya," lanjutnya.


"Aku sedang berpikir, mungkin saja bayi itu sebenarnya anak Joe bukan anakmu, Mark."


"Stop Vanie, Ameera dan Joe tidak mungkin melakukan hal itu."


"Kenapa tidak mungkin, mereka pria dan wanita dewasa. Apalagi sering bertemu dan berinteraksi."


"Tidak menutup kemungkinan di waktu istirahat tanpa sepengetahuanmu mereka melakukan itu," jari tengah dan jari telunjuk wanita itu terangkat ke udara memberikan sebuah kode merujuk pada suatu hal yang biasa dilakukan oleh pasangan suami istri.


"Mereka tidak mungkin melakukan itu karena Ameera adalah Gladys, adik kandung Joe."


Jleger!


Bagaikan disambar petir di siang hari, tubuh Stevanie lunglai. Ia terhuyung ke belakang, terduduk lemah di kursi santai yang terletak di tepi kolam renang.


Bersambung


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2