BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
MENCINTAIMU DENGAN TULUS


__ADS_3

Happy reading 🍃


Mark dan Gladys berjalan menuruni anak tangga. Si kecil Alpukat, masih berada dalam gendongan Mamanya. Bayi itu tertidur dengan damai, seraya menghisap ibu jari, seperti biasa. Ketika mencapai anak tangga terakhir, mereka disambut oleh Joe dan Barra. Di lantai bawah, banyak anak buah yang sengaja dikerahkan untuk menolong sepasang suami istri tersebut, untuk mengantisipasi terjadi baku hantam diantara dua kubu yang berselisih paham.


"Gladys... Syukurlah kamu baik-baik saja. Kakak pikir telah terjadi sesuatu di atas sana," ujar Joe ketika adik, keponakan dan iparnya berjalan ke arah parkiran mobil.


Wanita muda itu hanya terkekeh melihat kecemasan terlukis di wajah tampan pria yang begitu disayangi olehnya. "Tidak akan mungkin terjadi hal buruk padaku dan Alpukat, selama ada Kak Mark di samping kami."


Seketika wajah Mark merona bagaikan kepiting rebus. Meskipun terdapat luka lebam akibat dihajar oleh Mr. Lee, tapi rona merah mudah terpancar jelas di wajah pria itu. Dia merasakan separuh jiwanya melayang ke udara, terbang ke sana ke mari menuju tempat yang sangat indah di atas langit sana.


"Kamu terlalu memuji pria itu! Lihat saja penampilannya. Baru sekali kena bogem mentah Mr. Lee dan ditindang oleh musuh, dia sudah KO. Bagaimana mungkin bisa melindungimu dan Baby Andra," protes Joe seraya mendelik ke arah Mark.


"Saat itu aku terpaksa mengalah demi keselamatan Alpukat, Joe. Itu sudah menjadi kesepakatanku dengan Stevanie. Kamu tahu sendiri, terkadang aku bertindak gegabah jika menyangkut orang yang kucintai!" Mark mencoba membela diri. Dia tidak terima dianggap tidak becus menjaga serta melindungi keluarga kecilnya.


"Alasan saja!"


"Kamu..." Mark sudah mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Joe, tapi suara lembut Gladys menghentikan pertengkaran kecil yang terjadi diantara suami dan kakanya.


"Hentikan! Apa kalian tidak merasa iba melibatku sejak tadi menggendong Alpukat? Semakin hari tubuh bayi ini bertambah berat badannya, membuatku kewalahan." Wanita itu mengerucutkan bibir ke depan. Dia mulai bosan melihat pertengkaran yang terjadi dihadapannya.


"Barra, kamu boleh pulang sekarang. Jangan lupa, bawa semua para pengawal kembali ke markas!" titah Mark pada asistennya.


Pria berpakaian semi formal itu hanya menganggukan kepala saja. "Baik, Tuan. Semoga hari kalian menyenangkan," ucap Barra sebelum meninggalkan bangunan.


Sepanjang perjalanan, tidak terjadi perbincangan diantara ketiganya. Joe fokus mengemudikan mobil, Gladys tertidur seraya memberikan ASI pada Alpukat. Sementara Mark memperhatikan pemandangan di luar lewat jendela mobil.


"Lalu, rencanamu selanjutnya apa, Mark? Apakah kamu akan membawa kasus ini ke ranah hukum?" tanya Joe memecah keheningan.

__ADS_1


"Awalnya begitu, tapi Gladys meminta untuk tidak memperpanjang masalah. Entah apa yang dipikirkan oleh adikmu. Hatinya terlalu baik, hingga dia selalu memberikan kesempatan pada orang lain untuk selalu berubah." Pria itu melirik ke arah belakang. Memperhatikan Gladys yang tengah tertidur pulas di kursi belakang. Wajah penuh kedamaian dan ketenangan, membuat getaran dalam jiwa Mark semakin meningkat hingga titik level tertinggi.


"Ya, hati adikku terlalu lembut. Dia akan selalu memberikan kesempatan kedua pada orang yang pernah berbuat jahat padanya."


***


Sementara itu, Mr. Lee dan Stevanie masih berada di gedung Skyfall. Mereka masih melepas rindu pasca pertengkaran yang terjadi beberapa hari lalu. Wanita itu masih bergelayut manja di lengan kekasihnya.


"Lee." Wanita itu menyenderkan kepala di dada bidang sang kekasih.


"Hum. Ada apa?" tanya pria itu seraya mengecup puncak kepala Stevanie.


"Aku benar-benar takut kamu akan membunuh bayi itu. Rasanya nyawa ini terbang begitu saja ketika melihat tanganmu bersiap mendorong stroller."


Wanita itu mendongakan kepala sembari memperhatikan wajah Mr. Lee. "Bila hal itu terjadi, seumur hidupku tak kan mau memaafkanmu! Cukup bagiku dulu pernah berniat membunuh bayi itu, ketika masih dalam kandungan. Lihat, apa yang terjadi padaku saat ini!"


Stevanie menghirup napas panjang dan dalam. Wanita itu memejamkan sejenak kedua matanya. "Tuhan malah mengambil kembali satu-satunya harapanku untuk menjadi seorang Ibu. Meskipun dulu aku memang tidak ada niat untuk hamil, tapi rasanya akan kurang bila salah satu organ terpenting bagi seorang wanita hilang dalam diriku."


Mr. Lee menarik lengan Stevanie. Kepala wanita itu bersandar di dada. Dalam pelukan kekasihnya, dia menangis dalam diam. Namun, pria berwajah tampan mirip Oppa-Oppa Korea itu merasakan kaos polos coklat yang dikenakan telah basah oleh air mata.


"Maafkan aku telah membuatmu cemas. Lain kali, kejadian ini tak kan terulang lagi." Mr. Lee mengusap punggung Stevanie.


"Kamu tidak bisa melihat, betapa lucu dan menggemaskan bayi itu! Oh, andai dulu aku tidak nekad mencari cara melenyapkan Alpukat, mungkin saat ini di dalam rahimku sudah ada benih cinta kita," ucap Stevanie dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan menyesali yang sudah terjadi. Meskipun rahimmu sudah diangkat, tapi kita masih bisa memiliki anak. Kita akan merawatnya dengan cinta dan penuh kasih sayang."


Mr. Lee melepaskan pelukan ketika merasakan pakaiannya semakin basah oleh air mata Stevanie. Pria itu menggenggam jemari lentik bidadari di hadapannya dengan lembut.

__ADS_1


"Kapan pun kamu mau, kita bisa mengadopsi seorang bayi mungil dan menggemaskan sesuai keinginanmu. Namun, sebelum itu terjadi, ada hal penting yang harus segera kulakukan."


"Apa?" tanya Stevanie penasaran.


Mr. Lee menyentuh wajah kekasihnya, menatap wanita itu dengan penuh cinta.


"Menikahimu secara agama dan negara!" ucap Mr. Lee tegas.


"Jangan bercanda. Pernikahan merupakan suatu hal sakral. Kamu sendiri belum meminta izin keluargamu di Korea. Bagaimana jika mereka menentang karena aku bukan wanita sempurna!" Stevanie menjauhkan tubuh dari Mr. Lee.


Dengan gerakan cepat bagai kilat, lengan pria itu menarik pinggang Stevanie. Kini posisi mereka saling berhadapan. Tangan lembut wanita itu menyentuh dada Mr. Lee.


Mr. Lee tersenyum lebar, lalu menekan tengkuk Stevanie. Pria itu mel*mat daging kenyal merah muda di hadapannya dengan sangat rakus. Tidak mempedulikan erangan lembut yang meluncur dari bibir manis wanita bertubuh sintal itu. Dia terus memperdalam ciuman, menjelajahi rongga mulut hingga keduanya hampir kehabisan napas.


"Paboya!" ejek Mr. Lee dalam bahasa Korea Selatan.


"Sudah kukatakan, mereka pasti setuju. Bahkan, kedua orang tuaku terus mendesak untuk segera menikahimu!"


"Tapi..."


"Ehmp!"


Belum sempat Stevanie melanjutkan kembali perkataannya, pria itu sudah menyesap bibir kekasihnya kuat-kuat.


"Aku akan menelepon mereka ketika sudah sampai di apartemen. Setelah mendapatkan restu, kita akan berziarah ke makan orang tuamu, lalu menemui Tuan Ibrahim selaku walimu. Setelah semuanya selesai, kita akan melangsungkan pernikahan di sebuah hotel bintang lima atau di mana pun sesuai keinginanmu."


"Kemudian, kita akan melakukan malam pertama untuk kesekian kalinya," bisik Mr. Lee sambil menatap Stevanie penuh ga*rah.

__ADS_1


Note : Paboya : Dasar bodoh!


TBC


__ADS_2