BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
OBROLAN SANTAI


__ADS_3

"Rafandra Avocado?" tanya Mama Aura heran.


"Hu'um. Rafandra artinya tampan dan jantan, sementara Avocado berasal dari kata buah alpukat tapi dalam Bahasa Inggris."


"Mama lihatlah, wajah bayi ini sangat tampan. Itulah mengapa Gladys memberinya nama Rafandra. Kelak aku ingin dia tumbuh menjadi sosok pria tampan, penuh tanggung jawab dan selalu bisa menghormati wanita. Meskipun kelahirannya tidak diharapkan oleh siapapun tapi Andra harus menjadi anak baik."


"Aamiin, semoga Tuhan mengabulkan harapan Anda, Nyonya," timpal Suster Kirana seraya tersenyum manis.


Mama Aura memandangi wajah bayi mungil dalam dekapan sang anak, ia memperhatikan wajah cucunya dengan seksama. Mulai dari mata, hidung dan beralih ke bibir.


Deg!


Indera penglihatan wanita itu menangkap keganjalan di wajah cucunya.


"Astaga, mengapa wajah dan hidung bayi ini mirip sekali dengan Mark. Oh Tuhan, apakah ini petanda bahwa aku harus menyatukan kembali mereka?" batin wanita itu.


"Pantas saja anakku mengatakan bayi ini tampan. Rupanya ia melihat pantulan wajah pria tak tahu diri itu pada cucuku!" dengus Mama Aura kesal tapi ia hanya mengomel di dalam hati.


Setelah puas menyusu, Baby Andra menjauh dari dada Mamanya dan menatap mata wanita yang sudah berjuang mempertaruhkan hidup dan mati untuk melahirkannya ke dunia ini.


"Mama, sayang kamu, Nak," ucapnya sambil memainkan ujung hidung si kecil dengan lembut.


Ajaibnya, bayi itu justru tersenyum hingga membuat mata almondnya menyipit.


"Mari Nyonya, saya bantu membaringkan Baby Andra ke dalam box."


Kemudian gadis itu membawa Baby Andra ke sebuah box yang tak jauh dari ranjang.


Setelah membaringkan dengan telaten, ia menepuk-nepuk bayi itu dan menina bobokan. Suster Kirana mencurahkan kasih sayangnya pada seorang bayi mungil dan menggemaskan. Gadis itu tersenyum, sesekali mencium kening sang bayi.


Dari celah jendela pintu ruangan, nampak seorang pria memperhatikan gerak gerik gadis itu. Sudut bibirnya terangkat sambil berkata, "memang calon istri idaman. Jika aku mengutarakan keinginan untuk mendekatinya, apakah ia bersedia?"


"Lebih baik aku bahas lagi jika kondisi Gladys sudah membaik," ucapnya sambil meninggalkan rumah sakit.


***

__ADS_1


Jam dinding sudah menunjukan pukul lima sore waktu setempat. Di dalam ruang rawat inap, Gladys baru saja selesai menyusui Baby Andra.


Hari ini, si bayi mungil nan menggemaskan itu tak membiarkan sang Mama tidur pulas. Ia menjadi lebih sering merengek meminta makan langsung dari pabrik. Mungkin Baby Andra merasa minum ASI lebih nikmat daripada susu formula, untung saja produksi ASI Gladys melimpah ruah dan langsung keluar saat pertama kali wanita itu memberikan susu untuk anaknya.


"Baru beberapa jam dekat Anda tapi tubuh Baby Andra semakin berisi," ucap Suster Kirana seraya mengangkat bayi itu dengan sangat hati-hati dan membaringkannya ke dalam box bayi. Kemudian duduk di kursi dekat Gladys.


"Kamu benar, Suster. Baby Andra bahkan tidak membiarkanku tidur dalam jangka waktu yang lama."


Terlihat wanita muda itu memijat pundak untuk merilekskan anggota tubuh, namun dengan gesit Suster Kirana membantu Gladys. Ia memberikan pijatan ringan di bagian pundak, leher dan tangan secara lembut karena tidak ingin wanita itu merasa kesakitan akibat luka jahitan yang belum kering.


"Suster, kalau boleh tahu mengapa kamu ada di sini?"


"Oh itu, Dokter Firman mendapatkan kabar bahwa Anda melahirkan secara caesar akibat terjatuh dan banyak mengeluarkan darah. Untuk itulah mengapa beliau membawa saya ke sini."


"Kata beliau, jasa saya akan sangat berguna apabila membantu Anda selama menjalankan proses recovery pasca operasi. Selain itu, upah yang diberikan pun sangat menggiurkan."


"Upah?" tanya Gladys sambil memicingkan mata ke arah Suster Kirana.


Kini Suster Kirana terdiam, tatapannya nanar dan Gladys dapat melihat kesedihan tengah menyelimuti gadis di sampingnya itu.


"Saat ini saya sangat membutuhkan uang banyak untuk..."


"Untuk membayar hutang Papa tiri saya di meja judi, Nyonya," ucapnya lirih.


Sontak perkataan terakhir gadis itu membuat mata Gladys terbelalak. Hatinya merasa diremas oleh tangan tak kasat mata.


"Sejak kecil, Ayah kandung saya sudah meninggal dunia akibat kecelakaan. Saat itu usai saya masih sekitar lima tahun. Lama menjanda membuat perekonomian keluarga berantakan sehingga membuat Mama harus bekerja tanpa mengenal waktu."


"Tepat di usia sepuluh tahun, datang seorang pria melamar Mama. Ia mengiming-imingi kehidupan layak bagi kami, karena terbuai oleh bujuk rayu akhirnya Mama setuju dan menikahinya."


"Selama tiga belas tahun pria itu tidak menepati janji. Ia malah menebar hutang di mana-mana membuat hidup saya dan Mama semakin menderita."


"Untung saja, ada salah satu Dosen Bedah di kampus tempat saya menimba ilmu, mau membantu. Beliau memberikan pekerjaan sampingan sebagai perawat homecare di sela kegiatan kampus dan tugas menumpuk."


"Entah bagaimana ceritanya, biaya kuliah saya gratis padahal sebelumnya harus membayar setengah ke pihak kampus."

__ADS_1


"Apakah Dosen itu adalah Dokter Firman?" tanyanya di saat Suster Kirana membawakan segelas air putih untuk Gladys.


Gadis itu mengangguk pelan seraya menyerahkan gelas bening untuk Gladys.


"Anda benar, Nyonya. Pria itu adalah Dokter Firman. Saya merasa berhutang budi padanya. Meskipun beliau tak meminta imbalan apapun tapi sebagai manusia, naluri saya berkata untuk membalasnya."


Alis Glayds nampak bertaut, ia tampak terkejut mendengar kisah masa lalu gadis itu.


Ternyata Suster Kirana memiliki masa lalu yang kurang baik. Sejak kecil sudah menjadi yatim. Dididik dan dibesarkan oleh seorang penjudi dan memiliki hutang di mana-mana. Dunia ini sungguh kejam bagi orang biasa seperti kami.


Aku seharusnya lebih bersyukur karena memiliki orang tua angkat yang begitu baik dan sahabat yang selalu ada di saat sulit.


"Oh... Aku jadi merindukan Nomnom Badas. Bagaimana kabarnya dia saat ini, apakah sudah memiliki sahabat lain selain aku? Awas saja dia kalau ketahuan punya sahabat lain selain aku maka akan kutimpuk menggunakan popok berisi kotoran Baby Andra," ucapnya dalam hati.


"Anda pasti terkejut setelah mendengar kisah masa lalu saya 'kan, Nyonya?"


"Saya tidak heran kalau Anda berpikiran begitu karena semua orang akan mengira bahwa kehidupan saya jauh lebih baik dari orang lain. Namun nyatanya tidak."


"Terkadang saya iri melihat teman-teman kampus memiliki keluarga yang utuh, kasih sayang dari orang tua, teman dekat bahkan pacar yang selalu ada di saat dibutuhkan."


Tak terasa air mata gadis itu jatuh berlinang membasahi pipi. Ia mengusap cairan itu menggunakan ibu jari.


"Kita sering menongok rumput tetangga lebih hijau daripada milik sendiri," ujarnya dengan suara sedikit sengau.


"Kamu benar Suster, orang lain selalu melihat dari luar saja tanpa tahu isi hati kita sebenarnya."


"Suster, memangnya Anda tidak punya pacar?" tanya Gladys mengalihkan pembicaraan.


Dengan malu-malu, gadis itu menganggukan kepala seraya berkata, "belum Nyonya, setiap pria yang mendekati saya selalu mundur setelah tahu Papa tiri saya seorang penjudi dan banyak hutang di mana-mana." Ia tersenyum kecut.


"Ehm... Kalau saya jodohkan dengan Kak Joe, bagaimana?"


Bersambung


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2