
|| Mansion Keluarga Pieter ||
Malam semakin larut, Mark baru saja tiba di mansion. Ia sengaja melambatkan kendaraannya dan menunggu hingga jarum jam menunjukan pukul 11 malam. Pria itu tak ingin berpapasan dengan istrinya.
Namun author malah dengan tega mempertemukannya kembali dengan Stevanie, wanita yang selama 3 tahun belakangan menemani pria itu menjalani bahtera rumah tangga.
Stevanie merasa bosan dan kesepian tinggal sendirian di mansion tersebut, dulu saat ia masih menjadi model ketika rasa bosan melanda wanita itu bisa langsung meminta asisten, manager maupun rekan sesama model menemaninya berbelanja, liburan atau hanya sekedar minum kopi sambil menikmati waktu break disela-sela rutinitasnya menjalankan pekerjaannya sebagai seorang model.
Akan tetapi semuanya berubah sejak ia memutuskan rehat dari dunia model, rekan-rekannya sibuk dengan pekerjaan, manager dan asistennya pun tidak memiliki waktu luang untuk menemaninya dengan terpaksa ia hanya bisa menghubungi Martha meminta sahabatnya menghabiskan waktu bersama.
Saat ini Stevanie berada di kamar utama, ruangan itu berukuran sangat luas bernuansa seperti ruangan kamar tidur putri raja begitu indah dan sangat memukau. Ranjangnya berbentuk ukiran, motifnya hampir sama dengan meja rias, lemari dan meja nakas di samping ranjang. Lantainya dilapisi karpet berbulu senada dengan tema ruang kamar tersebut yaitu coklat dan emas.
Sesekali ia melirik jam dinding yang terpasang di atas meja televisi suasana hening hanya terdengar detak jarum jam yang terus berputar. Wanita itu merasa kesepian karena Mark sudah hampir 3 hari tidak pulang ke mansion, ia merindukan belaian mesra pria itu tanpa sadar bening kristal jatuh di kedua pipinya.
Secara perlahan-lahan, ia turun dari atas ranjang.
"Apakah itu Mark?" gumamnya saat mendengar suara pintu kamar tamu terbuka.
Di lantai 2 terdepat 3 kamar, 1 kamar utama dan 2 kamar tamu. Hanya kamar utama saja yang terisi sehingga Stevanie yakin bahwa suaminyalah yang membuka pintu kamar tersebut.
"Mark!"
Suara itu membuat Mark terkejut, pria itu pikir tidak akan bertemu istrinya jika ia pulang larut malam.
"Apa?" tanya Mark kesal.
"Kamu dari mana saja? Aku merindukanmu."
Wanita itu memeluk suaminya dari belakang, membenamkan kepala di punggung pria itu.
"Sudah 3 hari kamu tidak pulang, aku sungguh mencemaskanmu!" tangannya semakin erat memeluk pinggang suaminya.
"Jangan mencemaskanku, aku baik-baik saja." Mark mencoba melepaskan diri dari pelukan istrinya.
"Bagaimana tidak mencemaskanmu, kamu berada di sisi gadis itu. Dia pasti menggunakan kesempatan untuk menghasutmu agar semakin membenciku."
__ADS_1
"Setelah itu, dia dan keluarganya bisa leluasa menguasai kekayaan keluarga Pieter, mengeruk semuanya dan pada akhirnya kalian akan jadi gembel."
Mark memejamkan mata seraya menghela napas panjang. Lagi-lagi Stevanie berprasangka buruk tentang Ameera dan keluarganya. Ia tahu betul bagaimana sifat mereka meskipun baru mengenal dalam hitungan bulan namun pria itu yakin istri dan mertuanya bukan keluarga matrealistis yang tega mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Buktinya selama menikah tak sedikitpun kedua orang tua Ameera menengadahkan tangan keatas meskipun mereka memiliki menantu kaya dan bergelimang harta namun Ayah Reza lebih memilih bekerja keras mencari nafkah daripada harus menyusahkan menantunya.
"Vanie, aku minta maaf karena sudah membuatmu cemas tapi tolong jangan berprasangka buruk tentang Ameera dan keluarganya."
"Aku tahu kamu khawatir jika kekayaan Papa jatuh ke tangan yang salah tapi mereka bukan orang yang patut dicurigai," ujar Mark mencoba menjelaskan.
"Kamu dibayar apa sih sampai bersikeras membela mereka!"
"Semakin hari sikapmu semakin berubah. Lihat, kamu bukan lagi Mark yang kukenal dulu."
"Jangan-jangan, kamu sudah diguna-guna mereka sampai rela menentang keluargamu sendiri!"
"Cukup, Vanie! Mereka keluarga yang tahu agama dan tak mungkin melakukan hal konyol seperti kamu ucapkan," bentak Mark membuat Stevanie terdiam seketika.
"Asal kamu tahu, selama menikahi Ameera, kedua orang tua gadis itu tidak sedikitpun menyusahkanku bahkan saat tinggal di sana Ayah Reza lebih memilih mengambil lembur untuk memperbaiki mesin cucinya yang rusak."
"Aku tahu persis siapa Ameera dan keluarganya."
"Jadi tolong, jangan pernah kamu menjelek-jelekan mereka lagi. Jika tidak, aku tak kan segan-segan pindah dari mansion ini selamanya."
Stevanie terperanjat, tatapannya mengarah pada tubuh Mark yang menghilang dibalik pintu kamar tamu. Wanita itu tak menyangka bahwa kini Mark semakin hari semakin tegas dan tak segan-segan membentaknya.
Dulu, untuk berkata kasar pun pria itu tak berani namun kini semua berubah semenjak kehadiran Ameera dalam pernikahan mereka.
"Baiklah, untuk kali ini kalian menang tapi tunggu saja akan ada waktunya di mana aku membalas semua kejahatan kalian!" Stevanie mengepalkan tangan di samping, berjalan masuk ke dalam kamar dan membanting pintu. Melempar semua produk kecantikan yang ada di atas meja rias, mengobrak abrik isi lemari dan berteriak histeris meluapkan kekesalannya.
"Ameera, dasar ja*ang! Akan kubunuh kamu dan anak itu karena sudah merebut Mark dari sisiku."
Stevanie mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Meraih ponselnya di atas nakas kemudian menghubungi nomor seseorang.
"Halo, aku butuh bantuanmu. Jika misi kali ini sukses akan kuberikan imbalan yang sangat besar!" ucap wanita itu pada seseorang di seberang sana.
__ADS_1
***
"Bi, Tuan Mark semalam pulang pukul berapa?" tanya Ameera pada Bi Mirna saat ia pergi ke dapur mengambil air minum.
Di dapur Bi Mirna tampak sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk dua majikan plus sahabat majikannya.
"Dini hari Nona, sekitar pukul 2 pagi. Tuan pulang dalam keadaan sangat mengkhawatirkan, raut wajahnya penuh kemarahan. Saya tidak berani bertanya apapun."
Ameera menghela napas dalam, ia sedikit mengkhawatirkan keadaan suaminya. Meskipun nanti mereka bercerai namun hati nuraninya sebagai seorang manusia masih berfungsi dengan baik, gadis itu tak kan bahagia diatas penderitaan orang lain.
"Ya sudah, Bibi lanjutkan pekerjaan, saya akan kembali ke kamar," Ameera masuk ke dalam kamar dengan membawa 2 gelas air putih.
"Meer, aku sarapan di kantor saja. Tidak enak jika harus 1 meja dengan Tuan Mark," ucap Naomi setelah menghabisan 1 gelas air putih.
"Kamu serius?"
"Serius Meer. Aku berangkat dulu. Sampai jumpa." Naomi mengecup pipi sahabatnya sebelum pergi meninggalkan rumah kontrakan Ameera.
Tepat pukul 8 pagi, Mark sudah bersiap untuk berangkat kerja. Ia terpaksa meninggalkan Ameera karena perusahaan sedang membutuhkannya. Semua karyawan perusahaan sedang bahu membahu merevisi proposal dan power point untuk menenangkan proyek kerjasama.
"Kamu di rumah hati-hati, jika ada tamu tak dikenal jangan pernah membuka pintu!"
"Oke, kamu tenang saja aku akan mendengarkan semua perkataanmu." Ameera mencium punggung tangan Mark sebelum pria itu berangkat kerja.
"Untung saja Mas Mark ke kantor, jadi aku bisa leluasa berbicara dengan Bunda dan Tante Aura."
Semoga saja ini awal yang baik untuk hubungan kami. Aku akan mencoba menguatkan hati saat bertemu Tante Aura nanti dan setelah itu tidak ada lagi kesalahpahaman diantara kami semua.
Bersambung
.
.
.
__ADS_1
Mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan (typo) harap dimaklumi. Jangan lupa likenya ya Kak. ❤