
Perawat tersebut meminta Ameera melepaskan pakaian dari bagian pinggang ke bawah, kemudian ia diminta menekuk kedua kaki sehingga bagian bawahnya terbuka lebar (mengangkang).
Dingin!
Itulah yang Ameera rasakan saat ini. Sekujur tubuhnya terasa dingin, entah pengaruh suhu ruangan terlalu rendah atau memang rasa cemas menghinggapinya. Berkali-kali ia menarik napas panjang dan dalam serta menghembuskan secara perlahan. Jantungnya berdegup kencang, tidak biasanya ia merasakan gugup seperti ini.
‘Mengapa kali ini aku begitu gugup, apakah ada hubungannya dengan bayiku?’ tanyanya dalam hati.
“Nyonya, jika Anda gugup sebaiknya menarik napas panjang agar tubuh lebih rileks,” ujar perawat berseragam kuning.
“Ameera, kita mulai pemeriksaannya ya!” kini Dokter Diana mulai memasukan sebuah alat bernama transducer ke bagian inti gadis itu yang telah diolesi gel sebelumnya kemudian menggerakkannya ke seluruh organ dalam hingga tidak ada terlewatkan.
Mata Dokter Diana fokus menatap sebuah monitor di depan, sesekali membenarkan posisi kacamatanya yang terpasang di hidung mancung.
“Meera, apakah nyeri dada, bahu dan nyeri punggung sering kamu rasakan?”
“Jarang Dokter, kalau tidak salah hanya sekali saja.”
“Saya akan memeriksa denyut jantung bayi dulu,” kali ini Dokter Diana memeriksa denyut jantung si kecil.
“Sudah selesai, kamu boleh merapikan pakaianmu.”
“Suster, tolong dibantu,” pinta Dokter Diana.
Dokter Diana meninggalkan Ameera dan duduk kembali di kursi. Di ruang terpisah yang hanya dibatasi oleh gorden Bunda Meta menunggu hasil pemeriksaan putrinya.
“Di, bagaimana hasilnya?” tanya Bunda Meta.
“Tunggu sampai Ameera kembali, baru aku sampaikan hasilnya.”
Tak berselang lama, Ameera muncul dan duduk di kursi.
“Dari semua pemeriksaan yang dilakukan, keadaan janin baik-baik saja karena terjadi perdarahan aku curiga Ameera mengalami kasus plasenta previa.”
“Plasenta previa merupakan kondisi plasenta berada di bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan rahim.”
“Untung saja perdarahan yang dialami Ameera ringan sehingga ia hanya perlu istirahat di rumah, banyak berbaring, hindari berolahraga dan berpuasa dulu berhubungan seksual,” Dokter Diana memberikan penjelasan secara jelas dan terperinci.
Ameera hanya tertunduk malu dan wajahnya memerah.
Bunda Meta melirik sang putri yang sedang tertunduk menutupi wajah merahnya seperti kepiting rebus.
“Kita akan melihat selama beberapa minggu kedepan, apakah kamu akan melahirkan secara caesar atau normal.”
__ADS_1
“Meskipun kamu tidak dirawat di rumah sakit namun harus waspada jika terus menerus mengalami perdarahan dan kram perut.”
“Jika sewaktu waktu terjadi lagi maka harus segera ke rumah sakit.”
Ameera dan Bunda Meta terlihat memperhatikan setiap penjelasan yang diberikan oleh Dokter Diana.
“Aku akan memberikan vitamin dan penguat kandungan untuk Ameera,” kemudian Dokter Diana menuliskan resep.
“Oh iya, akhir tahun ini aku mengajukan cuti selama beberapa hari jika terjadi hal genting kalian bisa menghubungi Dokter Maria.”
“Sementara waktu dia akan menggantikanku.”
“Baik Dokter,” ucap Ameera.
“Ada yang ingin ditanyakan lagi?” tanya Dokter Diana sebelum memberikan resep.
“Tidak ada, terima kasih banyak Di,” ucap Bunda Meta setelah Ameera menerima resep obat yang diberikan wanita paruh baya itu.
“Terima kasih, Dokter.”
“Kalau begitu, kita pamit dulu. Sampai ketemu lagi, Di. Salam untuk anak dan suamimu," kemudian Ameera dan bundanya meninggalkan ruang pemeriksaan.
Bunda Meta memapah Ameera duduk di kursi tunggu, setelah nyaman wanita itu menuju kasir melakukan pembayaran.
Di tempat yang sama namun berbeda ruangan, Stevanie pun tengah berbaring di sebuah ranjang. Seorang perawat membantu wanita itu menutupi bagian kaki hingga batas pinggang dengan selimut dan menyibakan pakaian hingga dada.
Kemudian Dokter Maria menuangkan gel di atas perut dan memulai melakukan pemeriksaan.
Ini merupakan pemeriksaan kedua bagi Stevanie selama menjalankan program hamil.
Dokter Maria meminta wanita itu melakukan check up ulang setelah menjalankan pemeriksaan HSG (Histerosalpingografi) merupakan sebuah prosedur x-ray yang dilakukan untuk mengetahui keadaan rahim atau tuba falopi.
Meskipun organ kewanitaan Stevanie dalam keadaan sehat namun untuk memastikan rahimnya baik-baik saja maka Dokter Maria merekomendasikan wanit itu untuk menjalankan prosedur pemeriksaan HSG.
Kini Dokter Maria sedang merubah posisi transducer pada bagian perut Stevanie, sementara dia menatap langit-langit rumah sakit.
"Sampai berapa lama aku terbaring di sini? Tubuhku sudah pegal, ranjang ini terasa keras dan membuat tak nyaman," gerutu Stevanie.
Seorang perawat yang membantu Dokter Maria hanya memutar bola mata, ia muak dengan sikap nyonya muda Pieter. Sikap angkuh dan arogan wanita itu sudah tersebar hingga hampir seluruh perawat di poli kandungan mengetahui namun mereka tidak secara terang-terangan menunjukan ketidak sukaannya pada wanita tersebut.
"Sebentar lagi selesai Nyonya, biarkan saya berkonsentrasi agar bisa memberikan treatment terbaik agar keluarga Pieter segera diberikan pewaris," ucap Dokter Maria lembut.
"Baiklah tapi cepat ya, aku sudah tidak tahan berada di sini," lanjut Stevanie.
__ADS_1
"Sudah selesai, suster tolong dibantu," pinta Dokter Maria pada seorang perawat yang sedari tadi berdiri di samping wanita itu.
Dokter Maria kembali duduk di kursi dan membuka kembali hasil pemeriksaan HSG milik Stevanie.
"Hasil HSG dan USG kali ini semuanya dalam keadaan normal."
"Anjuran untuk berhubungan saat masa subur apakah sudah dijalankan?" tanya Dokter Maria, ia menatap wajah kedua pasiennya.
"Sudah Dok, kami langsung melakukan setelah mendapatkan saran dari Anda," jawab Stevanie dengan sikap angkuh.
"Kalau begitu, jika dilihat dari semua hasil pemeriksaan, saya yakin dalam waktu dekat kalian bisa langsung diberikan momongan asalkan Nyonya Stevanie menghindari stres dan banyak mengkonsumsi vitamin E."
Stevanie melirik ke arah Mark dan tatapan matanya beradu dengan manik coklat milik pria itu. Mereka berdua tersenyum bahagia.
Yeah, akhirnya impian memiliki anak akan segera terkabul dan semakin dekat langkahku untuk menyingkirkan gadis itu! Lihat saja, akan ada waktunya kamu hengkang dari Keluarga Pieter selamanya.
"Oh iya, untuk posisi berhubungan sebaiknya Tuan Mark berada di atas agar memudahkan cairan sp*rma langsung menuju saluran tuba."
"Baik Dokter, akan saya ingat semua saran Anda," ucap Mark.
"Apakah ada yang ingin ditanyakan?" tanya Dokter Maria sebelum menyerahkan berkas pemeriksaan HSG pada Stevanie.
"Jika aku membutuhkan informasi seputar kehamilan, apakah bisa menghubungi Anda?"
"Tentu saja, Nyonya Stevanie. Kapanpun Anda membutuhkan say akan selalu siap menerima sambungan telpon."
"Baik, aku rasa cukup."
"Ayo Sayang, kita pulang."
"Kalau begitu, kami permisi dulu Dokter, terima kasih," ucap Mark sebelum meninggalkan ruang pemeriksaan.
Stevanie sudah lebih dulu berada di koridor rumah sakit, ia pergi meninggalkan ruang pemeriksaan tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Dokter Maria, jangankan mengucapkan terima kasih menatap wajah wanita itu saja enggan dilakukan.
Untung saja Dokter Maria bersikap santai mendapatkan perlakuan seperti itu karena menurutnya tugas membantu pasien lebih penting daripada mementingkan ego. Wanita itu hanya ingin melaksanakan sumpah profesi yang telah diambil saat ia memutuskan mengambil pekerjaan di bidang kedokteran.
.
.
.
Semua adegan di atas berdasarkan pengalaman author dalam menjalankan serangkaian pemeriksaan dalam mengikuti program kehamilan jika ada pendapat berbeda mohon dimaklumi.
__ADS_1
Author akan usahakan double update, episode selanjutnya Insha Allah malam ya Kak. Siang nanti akan diketik dulu. Jangan lupa like agar semakin semangat. 😊