
Jakarta
Mark keluar dari dalam mobil setelah sampai di parkiran gedung kantor. Di depan pintu masuk sudah ada dua security yang bertugas menjaga keamanan berpakaian seragam dinas berwarna putih dan biru gelap lengkap dengan perlengkapan security dan atribut.
"Selamat pagi, Tuan Mark," sapa kedua security sambil membungkuk dengan hormat.
Pria bertubuh kekar, atletis dengan otot di bagian anggota tubuh tertentu hanya melambaikan tangan dan sebuah senyuman kaku.
Memasuki lobi kantor, Mark juga disambut oleh tiga orang kepercayaannya yaitu Winda, Barra dan Naomi.
Mark berjalan dengan langkah panjang, tersenyum kaku namun semua karyawan perusahaan tetap terpesona oleh penampilan pria itu yang sebentar lagi akan menyandang gelar status duren alias duda keren.
"Tuan, hari ini ada dua agenda yang harus saya bacakan. Pertama, pukul sebelas siang nanti Anda harus ke pengadilan untuk menghadiri keputusan final dari sidang perceraian. Setelah pembacaan keputusan, Anda akan bertemu klien penting membahas rencana kerjasama dan semua keperluan selama berada di Negara Kangguru sudah disiapkan," papar Barra dengan langkah tergesa-gesa mengimbangi langkah atasannya.
"Tunggu, memang klien kita ini merupakan orang asing sampai saya harus menemuinya di luar negeri?" pria itu menghentikan langkah sambil menunggu pintu lift terbuka.
"Dia masih berdarah Indonesia, sama seperti saya namun sudah hampir satu tahun menetap di sana."
"Anda bisa melakukan negosiasi untuk mencapai kesepakatan kerja. Ya, walaupun klien itu meminta syarat agar perusahaan memberikan saham 30% sebagai imbalan atas kerjasama yang akan terjalin tapi ini merupakan peluang emas bagi keluarga Pieter untuk mengembangkan sayap dalam bisnis berlian."
"Keuntungannya sangat besar apabila Tuan berhasil membujuknya agar bekerjasama dengan PT Indah Sentosa. Kita bisa unjuk gigi di hadapan Mr. Lee, pria licik mirip seekor belut."
Barra masih mengeluarkan trik dan rayuan maut, berharap pria berdarah blasteran itu tertarik dan bersedia bertolak ke negeri tetangga.
Mark menatap pria dengan setelan jas berwarna biru tua yang sedang berdiri di sisi kanan. Ia memperhatikan penampilan Barra, mulai dari atas kepala hingga ujung kaki. Semakin hari penampilannya semakin keren dan kemampuannya dalam menganalisa sebuah peluang untuk perusahaan bisa diacungi jempol.
Ia bukan lagi Barra yang dulu. Seorang pria pemalu, selalu gugup bila bertemu dengan atasan dan kemampuan verbalnya masih dibawah Naomi ataupun Emon.
Namun siapa sangka, kini ia malah menonjol dan mampu bersaing dengan karyawan senior di perusahaan.
"Kamu atur saja, saya percayakan semuanya padamu."
__ADS_1
Barra tersenyum, "pasti Tuan, saya tidak akan mengecewakan Anda," sambil melirik sekilas ke arah Naomi.
Setelah menyelesaikan rapat bulanan membahas kinerja karyawan, Mark ditemani Barra masuk ke dalam mobil menuju pengadilan.
Sebagai asisten Mark, pria berusia 23 tahun itu membukakan pintu mobil untuk Bosnya. Ia keluar dari mobil setelah kendaraan berwarna silver itu terparkir rapi di depan gedung pengadilan. Kebetulan Stevanie juga baru sampai dan keluar dari dalam mobilnya.
Wanita itu berlari dan meraih tangan suaminya yang sebentar lagi berubah status menjadi mantan suami.
"Mark, tidak bisakah kita memulai kembali hubungan ini. Aku sungguh benar-benar menyesal sudah berkata kasar pada Papa. Tolong maafkan aku."
Pria itu menepis secara kasar tangan Stevanie, "sudah tidak ada kesempatan untuk memulai kembali sebuah hubungan yang sudah retak, Vanie. Kalau aku mau, saat pengadilan memberikan kesempatan untuk mediasi, sudah kumanfaatkan kesempatan itu."
"Perbuatanmu terhadap Papa tidak bisa kutoleransi. Kamu seharusnya tahu, di dunia ini hanya beliau yang kumiliki. Ia juga sangat mencintaimu, Vanie."
"Apakah kamu lupa, Papa bahkan mendukungmu untuk menjauhkanku dari Ameera. Beliau mati-matian menyusun rencana agar kita bisa tinggal bersama di mansion itu. Berbohong, bersekongkol dengan Dokter untuk menipuku, merekayasa tentang penyakitnya!" ucap Mark geram.
Stevanie mengulurkan tangannya lagi, menyentuh lengan pria itu. "Kumohon, tolong maafkan aku."
"Aku sudah memaafkanmu tapi untuk menjalin hubungan kembali, maaf. Selamanya kita hanya akan menjadi mantan suami dan mantan istri," ujar pria itu sambil berlalu begitu saja.
Hati wanita itu sakit bagaikan dihujani ribuan anak panah tepat di jantung. Setelah ia kehilangan rahim, harapan untuk memiliki keturunan sirna dan kini Stevanie harus kehilangan seorang pria yang amat dicintai.
Siang itu, Mark ditemani Barra dan Om Arga selaku pengacara sudah berada di dalam ruang sidang. Hakim beserta jajaran yang bertugas sedang menyiapkan diri.
Stevanie masih meneteskan air mata saat kaki jenjang itu berjalan menuju ruang sidang. Ketika berada di ambang pintu, tubuhnya membeku dan sulit beranjak dari tempatnya berdiri.
Dari jarak tak begitu jauh, Stevanie melihat suaminya duduk tenang tanpa ada kesedihan sedikit pun menghiasi wajah tampan pria itu.
"Apakah kamu memang sudah tidak mencintaiku lagi, Mark? Sudah hilangkah cinta dan kasih sayangmu padaku?" ucapnya lirih.
"Masuklah, hakim sudah menunggumu. Kamu tidak usah risau, ada aku yang akan menemanimu."
__ADS_1
Wanita itu tersenyum getir seraya menoleh ke arah samping, "terima kasih, karena kamu selalu ada di saat aku membutuhkanmu."
Kemudian Stevanie masuk ke dalam ruangan yang didomonasi warna coklat dan terdapat sedikit warna hijau dibagian sandaran kursi dan meja, ia ditemani Mr. Lee memilih kursi di barisan kedua dari depan.
"Jangan gugup, ada aku di sini," bisik Mr. Lee saat melihat jemari lentik wanita itu saling meremas.
Tak berselang lama, acara persidangan di mulai. Setelah memakan waktu hampir enam bulan dan melalui proses yang panjang akhirnya sidang putusan perceraian antara Mark dan Stevanie berlangsung.
Kubu Stevanie bersikeras mempertahankan pernikahan yang sudah retak, layaknya sebuah vas bunga yang telah hancur menjadi serpihan kecil tapi Om Arga selaku pengacara dari pihak Mark berjuang keras membela klien sekaligus putra dari temannya. Hingga akhirnya kini mereka berdua duduk dalam ruangan yang sama.
Hakim membacakan hasil keputusan dan mengabulkan keinginan Mark untuk bercerai dari Stevanie. Pria paruh baya berpakaian toga lengkap dengan atributnya mengetuk palu.
"Dengan ini, pengadilan menyatakan bahwa Mark Pieter dan Stevanie Hendrawan sudah resmi bercerai!" ucap hakim itu secara tegas dan lantang.
Tubuh Stevanie melorot di kursi, tubuhnya bergetar dan air mata kembali jatuh diantara pipi dan hidung. Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
"Kini aku benar-benar kehilanganmu, Mark," ucapnya lirih.
"Mark, kamu yang tabah. Semoga ini adalah jalan terbaik untuk kalian," Om Arga menepuk pundak putra dari teman lamanya itu.
"Tuan, saya turut prihatin atas perpisahan ini," ujar Barra.
Mark melengang pergi setelah bacaan keputusan selesai, pria itu berjalan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Stevanie.
"Selamat tinggal Vanie," batin Mark.
Bersambung
.
.
__ADS_1
.
Untuk part ini mohon maaf apabila ada kesalahan. Author hanya bermodalkan referensi karya auhtor lain dan sedikit bertanya pada Mbah Google. Mohon dimaklum apabila ada kesalahan. 🙏