BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
MUTIARA DAN PENYEJUK HATI MAMA


__ADS_3

Happy reading 🤗


|| Mansion Keluarga Pieter ||


Stevanie baru saja tiba di mansion. Tadi siang, ia pergi mengunjungi sahabatnya di sebuah studio yoga di daerah Jakarta Pusat. Wanita itu ingin memberikan kabar bahagia pada Martha bahwa kondisi tubuhnya dalam keadaan sehat sehingga peluang memiliki anak mencapai sembilan puluh sembilan persen.


Ia melirik ke arah jarum jam, waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Ketika ia memasuki aula utama mansion, tatapan matanya mengarah ke lantai dua namun keadaan di sana gelap gulita seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Wanita itu bertanya pada salah satu pelayan yang sedang berjalan ke arah dapur.


"Tunggu, apa suamiku sudah pulang?"


"Belum Nyonya," ucap salah satu pelayan, ia membungkuk hormat dan menundukan kepala kebawah.


"Oh! Baiklah, kamu boleh kembali ke dapur. Aku akan istirahat di kamar, jika sudah selesai jangan lupa periksa semua pintu dan jendela sebelum kamu tidur!" ucap Stevanie dengan sikap angkuh.


Stevanie menaiki lift yang terus bergerak ke atas menuju lantai dua mansion tempat ia dan suami beristirahat. Wanita itu berjalan, membuka pintu kamar kemudian meletakan tas serta beberapa paper bag berisi sepatu, pakaian dan dasi untuk suaminya.


Setiap kali wanita itu pergi berbelanja bersama asisten, sahabat maupun rekan sesama model, ia tak pernah lupa membelikan buah tangan berupa dasi, kemeja ataupun pakaian casual untuk Mark.


Stevanie berdiri di depan cermin memandangi pantulan tubuhnya di sana, ia mengusap perutnya yang masih rata tanpa sadar ujung bibirnya terangkat.


"Semoga kamu secepatnya hadir di sini, Nak. Kita akan berjuang bersama untuk menghalangi wanita sialan itu merebut Papi dan kekayaan Keluarga Pieter!"


Setelah puas memandangi pantulan tubuhnya di cermin, ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Tubuhnya terasa lelah hampir setengah hari menghabiskan waktu bersama sahabatnya, Martha. Mereka berkeliling mall membeli pakaian, sepatu dan tas model terbaru serta tak lupa membeli baju perang berupa gaun haram super sexy yang akan dipakai Stevanie saat menghabiskan malam bersama sang suami.


Stevanie menyalakan kran air, mengisi bathtub dengan air hangat, sambil menunggu wadah besar tersebut penuh ia membuka ponsel dan menghubungi nomor seseorang namun tidak tersambung.


"Aneh, kenapa nomornya tidak aktif. Pergi ke mana dia?" gumamnya.


Ia mencoba menghubungi asisten suaminya karena hanya Joe saja yang dapat dihubungi saat Mark tidak ada di rumah.


"Halo Joe, apakah kamu bersama suamiku?" tanya Stevanie setelah sambungan telpon terhubung.


Di seberang sana, Joe menerima panggilan telpon dengan mata setengah terpejam. Ia baru saja merebahkan tubuhnya setengah jam lalu namun kini harus terbangun karena suara dering ponsel mengganggu istirahatnya.


"Halo, ini siapa?" tanya Joe tanpa melihat nama yang tertera di layar ponsel.

__ADS_1


"Istri bosmu!" jawab Stevanie.


"Istri yang mana? Tuan Mark memiliki dua istri," Joe bertanya dengan tingkat kesadaran hanya empat puluh persen.


Stevanie memutar bola matanya dengan ekspresi kesal "istri sah bosmu!" teriak wanita itu.


Seketika Joe menjauhkan ponselnya dari telinga karena suara wanita itu begitu menggelegar bagaikan suara gemuruh petir. Pria itu langsung tersadar dan membuka kedua mata.


Sial, ternyata Nyonya Stevanie! Kenapa wanita ini selalu saja mengganggu, tidak bisakah dia membiarkanku beristirahat sejenak! Aku lelah seharian mengurus pekerjaan di kantor, belum lagi memikirkan cara memperpanjang kontrak magang kelima mahasiswa itu ditambah Mama terus menerus merengek memaksaku mencari keberadaan Gladys, bisa pecah kepala ini!


Joe mendekatkan kembali ponselnya ke telinga " iya Nyonya Vanie, ada yang bisa saya bantu?" tanya Joe setelah tingkat kesadarannya mencapai seratus persen.


"Suamiku di mana? Apa dia bersamamu?" tanya Stevanie.


"Maaf, Tuan Mark tidak bersama saya. Sejak sore tadi beliau sudah meninggalkan kantor."


"Kamu jangan membohongiku!" bentak Stevanie.


"Terserah Nyonya mau percaya atau tidak, saya sudah berbicara sejujurnya!"


Joe mengakhiri panggilan telpon secara sepihak karena pria itu kesal waktu istirahatnya diganggu Stevanie dan ia juga dituduh pembohong oleh wanita itu.


Stevanie meletakan ponselnya kembali di atas rak dan menceburkan diri ke dalam bathtub.


"Aku yakin, Mark malam ini berada di rumah wanita itu!"


"Besok pagi, akan kutemui Mark di sana. Sekalian memanas-manasi wanita itu, pasti dia cemburu," senyum smirk tersungging di bibirnya.


***


|| Rumah Orang Tua Ameera ||


Keesokan harinya, Bunda Meta sudah bangun saat suara adzan subuh berkumandang, ia sedang mempersiapkan bahan makanan untuk dimasak. Wanita itu mengeluarkan tiga bonggol sawi putih, satu bungkus bakso, minyak wijen, kecap asin, kecap ikan, saos tiram dari dalam lemari es dan mengeluarkan rempah-rempah kemudian meletakannya ke atas meja makan.


Tangannya sangat lihai memotong semua bahan masakan menjadi potongan tipis, ia memasukan rempah-rempah yang telah diiris ke dalam sebuah wajah berisi minyak panas kemudian menumisnya hingga tercium aroma wangi. Hampir satu jam bergelut di dapur dan tepat pukul enam pagi semua hidangan sudah tersaji di meja makan.

__ADS_1


"Ameera, bangun Nak!" Bunda Meta mengguncangkan lengan putrinya.


"Eugh!" Ameera menggeliat di samping bundanya.


"Meera masih mengantuk, Bunda." Gadis itu merubah posisi membelakangi Bunda Meta.


"Astaga, anak ini disuruh bangun malah tidur lagi. Cepat bangun!" Bunda Meta menarik selimut dan menyingkirkannya dari tubuh Ameera.


Ameera bangun dan duduk di tepi ranjang, mengusap wajahnya dengan tangan. Perlahan-lahan kedua matanya mulai terbuka.


"Bunda, kenapa membangunkan Meera sepagi ini!"


"Kamu lupa dengan kewajibanmu," Bunda Meta menyingkap gorden dan membuka jendela kamar. Wanita itu menghirup udara segar di pagi hari seraya mengucap syukur atas nikmat umur panjang yang telah diberikan Tuhan kepadanya.


"Kewajiban apa Bun?"


"Melayani suamimu!" ucap Bunda Meta, ia masih berdiri di depan jendela.


"Dia bukan lagi suami, Meera!"


"Nak Mark masih suamimu, setidaknya dalam lima bulan kedepan. Selama itu, kamu masih berkewajiban melayaninya."


"Sudah, mandi dulu sana setelah itu kamu siapkan sarapan untuk Nak Mark."


"Ya sudah Bun, Ameera mandi dulu." Ameera bangkit dan berjalan secara perlahan menuju kamar mandi, ia melirik pintu kamar utama namun masih tertutup rapat.


"Sepertinya Tuan Mark belum bangun. Baguslah, aku bisa leluasa keluar masuk kamar tanpa harus melihat wajah pria itu!"


Ameera berjalan ke arah dapur, membuka pintu kamar mandi dan mulai menanggalkan pakaian. Di dalam kamar mandi ia bersenandung seraya mengusap lembut perutnya yang mulai membuncit "Nak, walaupun seluruh dunia membencimu karena terlahir sebagai anak di luar nikah namun harus ingat satu hal, Mama akan selalu berada di sampingmu selamanya."


"Apapun yang terjadi, kamu tetap anak Mama mutiara dan penyejuk hati."


.


.

__ADS_1


.


Yuhu, kira-kira Stevanie akan melakukan apa di rumah orang tua Ameera? Penasaran, tunggu kelanjutan ceritanya besok sore ya Kak! Jangan lupa likenya agar author semangat update. ❤


__ADS_2