
"Ma, sakit!" ujar Gladys sambil menyentuh perutnya.
"Iya Sayang, bertahanlah," timpal Mama Aura seraya mengusap peluh yang mengenang di kening putrinya.
"Nak Joe, cepat lajukan mobilnya. Kasihan Adikmu sudah kesakitan," teriak Bunda Meta dari kursi penumpang.
Mendapat desakan dari kedua wanita yang sedang duduk di kursi penumpang membuat Joe semakin nekad menambah kecepatan mobil berwarna putih milik orang tuanya. Ia seperti orang kesetanan, menyalakan bunyi klakson berkali-kali tatkala kendaraan di depan sana menghalangi.
Saat berada di persimpangan jalan, lampu lalu lintas menunjukan warna merah.
Seorang pria bule menghentikan kendaraan, posisi mobilnya tepat berada di depan mobil yang dikendarai oleh Joe.
Ia melirik ke arah kekasihnya yang duduk di samping, melihat tubuh sexy sang kekasih membuat nalurinya sebagai seorang laki-laki bangkit.
"Sayang, kamu cantik sekali," ujarnya sambil menyentuh benda kenyal berwarna merah.
Kemudian ia mencium dan ******* daging kenyal berwarna merah ranum itu dengan rakus.
Mereka larut dalam suasana hingga tak menyadari lampu lalu lintas sudah menunjukan warna hijau.
Joe menyalakan bunyi klakson berkali-kali, membuat pria bule dalam mobil itu terlonjak dari kursi kemudi setelah mendengar bunyi klakson yang bersumber dari mobil berwarna putih.
"F*ck you!" umpat pria bule itu sambil mengangkat jari tengah ke luar jendela mobil saat kendaraan Joe menyalip.
Untung saja Joe tidak terpancing, ia tetap melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Pria itu tidak memedulikan lagi makian dan aturan kendaraan yang berlaku di Negara Kanguru tersebut.
Yang menjadi prioritasnya kini hanya Gladys. Dulu sewaktu masih kecil ia hanya bisa diam menyaksikan kobaran api menyambar bangunan biskop, namun untuk sekarang Joe akan melakukan apapun demi keselamatan Adiknya.
Sebagai seorang pria satu-satunya di keluarga Kurniawan, ia memiliki tanggung jawab dan tugas menggantikan sang Papa. Untuk itulah Joe akan berkorban demi Mama dan Adik tercinta.
"Suster!" teriak Joe sambil menggendong tubuh mungil Gladys.
Mendengar suara teriakan dari arah pintu masuk, dua orang perawat yang bertugas bergegas membawa brankar dan membantu Joe membaringkan pasien ke brankar.
"Argh, sakit!" erang Gladys.
Bunda Meta, Mama Aura dan Joe berlari di sisi brankar yang membawa tubuh Gladys ke ruang pemeriksaan.
Melihat banyak darah di mana-mana membuat tubuh Joe merinding, karena ini kali pertama ia menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan seorang ibu untuk bisa melahiran buah hati tercinta ke dunia fana ini.
Celana, kaos casual yang dikenakan sudah tak berwarna. Bau anyir darah di telapak tangan, lantai rumah sakit membuatnya semakin menggigil. Kepalanya terasa berat namun Joe tetap berusaha tersadar karena hanya ialah satu-satunya pria yang bisa diandalkan dalam situasi genting seperti ini.
"Bu, Gladys," tangis Mama Aura dalam dekapan Ibu angkat putrinya.
__ADS_1
"Aku takut terjadi hal buruk pada Gladys dan kandungannya."
"Bu Aura tidak boleh berkata begitu. Kita berdo'a saja semoga Tuhan menyelamatkan putri kita."
Dada wanita itu terasa sakit melihat anak tercinta terbaring lemah menahan sakit dengan kondisi yang cukup mengkhawatirkan.
Jauh di lubuk hati Bunda Meta, sebenarnya ia pun cemas dengan keselamat Gladys dan janinnya tapi wanita itu pura-pura tegar dan menyembunyikan raut wajah cemas di hadapan Mama Aura.
"Sialan, seharusnya tadi aku tidak memasang volume televisi terlalu keras," teriak Joe sambil memukuli kepalanya.
"Aku benar-benar payah menjadi seorang Kakak. Tidak bisa melindungi Gladys. Bodoh... Kamu bodoh Joe!"
Pria itu terus berteriak, memaki dirinya sendiri. Padahal ia sudah berjanji dalam hati akan menjaga Gladys selamanya.
"Keluarga pasien," ucap salah satu Dokter yang bertugas.
"Dokter, bagaimana kondisi pasien?" tanya Joe seraya beranjak dari kursi.
"Apakah Anda suaminya?"
"Bukan, saya Kakak pasien."
"Keadaan Adik Anda kritis, Tuan. Pasien mengalami benturan cukup keras pada kandungannya, ditambah pernah mengalami insiden yang sama beberapa bulan lalu. Selain itu, Nyonya Gladys juga banyak kehilangan darah."
"Apa? Gladys!" pekik Mama Aura tak percaya.
Tubuh Mama Aura merosot dalam dekapan Bunda Meta. Ia benar-benar shock, kini tubuh mungil putrinya tengah berjuang antara hidup dan mati demi melahirkan bayi tercinta.
"Dokter, jika operasi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan Ibu dan anak, tolong segera lakukan. Saya sebagai wali pasien bersedia bertanggung jawab. Sebab, Gladys seorang single parent."
"Baiklah, Anda bisa ke bagian admimistrasi untuk menanda tangani formulir. Sementara saya dan tim akan mulai membawa pasien ke ruangan operasi."
Tak perlu menunggu lama, Joe langsung mengurus semua administrasi. Sementara Dokter yang bertugas menyiapkan semua kebutuhan selama proses operasi berlangsung.
Setelah membubuhkan tanda tangan di atas formulir bermaterai, pria itu kembali duduk di depan ruang operasi. Dua wanita paruh baya duduk sambil berpelukan, menggenggam tangan dan saling menguatkan satu sama lain.
Baik Mama Aura, Bunda Meta maupun Joe, mereka semua berdo'a dalam hati memohon agar operasi yang dilakukan berjalan lancar.
"Tuhan, tolong selamatkan Gladys."
Di dalam ruangan operasi, semua tim medis sudah bersiap dengan tugas masing-masing. Mereka memakai perlengkapan operasi lengkap dengan masker, penutup kepala dan sarung tangan berbahan latex.
Jarum infus menancap di punggung tangan Gladys, selang oksigen terpasang di hidung.
__ADS_1
Dengan mata telanjang, Gladys bisa menyaksikan secara langsung bagaimana menyeramkannya ruangan itu. Seumur hidup ia tak pernah menyangka akan masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan peralatan medis, dikelilingi Dokter dan Perawat berseragam hijau lengkap dengan alat tempur mereka.
Tubuh gadis itu merinding saat hembusan pendingin ruangan menyentuh kulitnya, dengan keadaan setengah sadar ia melihat seorang Dokter menyuntikan cairan ke dalam tubuh.
Gladys mulai merasa mengantuk, matanya terasa berat dan perlahan-lahan ia memejam mata.
Tubuhnya kini tak terasa sakit namun sebelum kesadarannya hilang, gadis itu memanggil sebuah nama yang sangat berarti dalam hidupnya, "Kak Mark," ucap Gladys lirih dan detik berikutnya ia tak sadarkan diri.
***
Di luar ruang operasi, Mama Aura tak henti-hentinya meneteskan air mata. Sejak tadi sore hingga detik ini entah berapa banyak butiran kristal itu jatuh dan membasahi pakaian. Bunda Meta dengan setia memeluk dan menenangkan wanita itu.
Joe bersandar di tembokan, menatap kosong ke arah pintu ruangan operasi yang tertutup rapat. Padahal baru beberapa jam lalu ia masih sempat menggoda sang Adik dan memberikan ciuman hangat sebagai seorang Kakak.
"Gladys, kamu harus bertahan Dek. Kakak janji akan mengabulkan apapun untukmu, asalkan kamu dan Alpukat selamat."
Dari arah utara, dua orang pria paruh baya, seorang gadis bermata sipit dan wanita berusia hampir lima puluh tahun berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruang operasi.
"Aura," ucap Dokter Firman.
"Firman..."
Wanita itu langsung berlari ke arah mantan kekasihnya, ia memeluk erat pria itu.
"Firman... Gladys dalam keadaan kritis," ucapnya ditengah isak tangis.
Pria itu menepuk-nepuk punggung Mama Aura, "iya, anakmu pasti selamat. Ia gadis kuat."
"Di, bagaimana kamu tahu kami di sini?" tanya Bunda Meta setelah melihat sosok sahabatnya datang bersama suami dan Dokter kepercayaan keluarga Kurniawan.
"Aku diberitahu suamimu. Setelah semua pekerjaan di rumah sakit selesai, aku dan Dokter Firman langsung menuju landasan. Kebetulan Joe sudah menyiapkan pilot untuk kami terbang ke sini."
Terjadi perbincangan diantara semua orang, sedangkan Joe hanya terduduk lemas di kursi tunggu. Pandangan matanya tak pernah teralihkan dari ruangan di depan sana.
"Pria itu, bukan kah dia..." ucap gadis pemilik mata sipit.
Bersambung
.
.
.
__ADS_1