
🚫 Warning! Area 21+. Harap bijak dalam membaca.
Suara derit pintu kamar terbuka, Mark baru saja tiba di rumah. Semenjak memenangkan proyek baru, dia sering lembur dan pulang larut malam hingga melewatkan makan malam bersama keluarga dan istri tercinta. Namun, pria itu masih menyempatkan diri menelepon atau mengirimkan pesan singkat kepada sang istri.
Dengan menenteng tas kerja, pria itu berjalan perlahan mendekati ranjang. Mark mendekat lalu menatap wajah istrinya yang sedang tertidur pulas. Tubuh sexy Gladys hanya bisa dipandang tapi tidak bisa dinikmati.
Ya, sejak penghulu menyatakan mereka sah menjadi suami istri hingga pindah ke rumah baru, sama sekali dua sejoli itu belum melakukan hubungan yang hanya dilakukan oleh pasangan suami istri. Gladys belum siap bila melayani suaminya di atas ranjang. Untung saja Mark bisa memaklumi dan menahan hasratnya ketika berduaan dengan wanita itu.
"Maafkan aku, Sweetheart, harus pulang larut dan membiarkanmu mengurusi rumah sendirian. Namun aku janji, setelah semua pekerjaan selesai, kita akan berlibur bersama. Aku ingin memberikan hadiah sebagai ucapan terima kasih karena sudah bekerja keras mengatur rumah tangga, menemani Papa dan mendidik anakku," ucap Mark seraya menyingkirkan rambut kecoklatannya yang menutupi sebagian wajah Gladys.
Setelah mengucapkan kalimat terakhir, Mark masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri sebelum menyusul istrinya ke alam mimpi.
Tiga puluh menit berlalu, pria itu keluar kamar mandi. Dia berjalan menuju ruangan kecil yang disulap menjadi walk in closet, lalu mencari celana boxer di dalam lemari.
Dalam kesunyian, dia merangkak naik ke atas ranjang. Ditatapnya Gladys dengan intens. Seperti ada gelombang magnet, membuat pria itu mendekatkan diri dan mencium benda kenyal yang membangkitkan hasrat terpendam dalam diri Mark sebagai seorang lelaki.
Lama kelamaan ciuman itu berubah menjadi pangutan. Mark semakin rakus mencium bibir Gladys hingga membuat sang empunya terbangun dari tidur.
"Kak..." ucap Gladys. Wanita itu tersentak karena suaminya memberikan ciuman panas di saat dia tengah tertidur lelap.
Mark menjauhkan diri, lalu menyenderkan kepala di sandaran ranjang. Pria itu memejamkan mata, menetralkan pikirannya yang sempat kacau. Matanya memerah. Hawa panas mulai menjalar ke seluruh tubuh, membuat Mark kehilangan kendali.
"Maaf... Tadi aku benar-benar khilaf. Tidak seharusnya menciummu di saat kamu sedang tertidur."
Dalam keadaan gelap gulita, hanya ada pantulan sinar rembulan menerobos masuk lewat jendela, Gladys menatap wajah suaminya. Terpancar raut sedih, kecewa dan frustasi di sana, membuat hati wanita itu sakit. Bagaimana dia bisa membiarkan suaminya menahan hasrat begitu lama sementara mereka sudah sah menjadi suami istri dan berkewajiban melayaninya di atas ranjang.
"Sebaiknya kamu istirahat, aku akan tidur di sofa. Selamat malam," ujar Mark. Dia segera bangkit dari ranjang lalu merebahkan tubuh di sofa, membelakangi Gladys.
Gladys berjalan menghampiri suaminya. Lalu dia berjongkok mensejajarkan posisi dengan Mark
Ayolah, Gladys, apa yang kamu takutkan lagi. Dia suamimu dan kalian sudah sah menjadi suami istri. Kak Mark pantas mendapatkan haknya. Kamu akan berdosa bila terus memintanya untuk berpuasa," batin Gladys.
__ADS_1
Dengan tangan gemetar, dia mengusap rambut Mark lembut. Mendekatkan tubuh dan menciumi leher pria itu.
Hangat! Itulah yang dirasakan oleh Mark. Selama hampir satu tahun dia merindukan kehangatan Gladys. Hanya lewat mimpi pria itu mencumbu, mencium dan bercinta dengan wanita yang begitu dicintai olehnya. Namun malam ini, wanita itu berinisiatif memberikan belaian yang sudah sangat dia nantikan.
"Sweetheart, hentikan! Jangan membangkit hasratku yang sudah padam." Mark masih membelakangi istrinya tapi dia tetap merasakan sentuhan lembut yang diberikan oleh Gladys.
"Bukankah ini yang kamu inginkan, Sweeatheart!" ucap Gladys dengan gaya sesensual mungkin. Lalu, dia menghembuskan napasnya di belakang telinga Mark.
Pria itu merinding karena hembusan napas istrinya menerpa telinga dan leher. Mark kembali menutup mata, tatkala jemari lembut Gladys merayap ke depan, menyentuh perut dan berhenti tepat di atas bagian intim tubuhnya.
Menyadari gerakan lembut Gladys berhenti, Mark segera membalikan tubuh. Kini posisi mereka saling berhadapan. Pria itu bisa melihat rona kemerahan di wajah istrinya.
"Aku tidak akan memaksamu, jika kamu belum siap," ujar Mark lembut.
Tanpa diduga, Gladys mendekat, memeluk tubuh Mark dengan erat. Aroma khas tubuh pria itu menyeruak mengelitik indera penciumannya.
"Lakukan malam ini, aku siap melayanimu, Kak," ucap Gladys lirih, hampir tidak terdengar.
"Kamu yakin?" tanya Mark seraya melepaskan pelukan. "Aku tidak menjamin akan melepaskanmu malam ini." Pria itu tersenyum smirk.
Mark tersenyum. "Tentu saja. Aku akan menuruti keinginanmu. Kalau perlu, besok aku akan membeli semua alat pengaman agar leluasa berhubungan denganmu," goda Mark.
Gladys mengerucutkan bibir ke depan. "Dasar mesum!"
Tiba-tiba saja tubuhnya terangkat ke udara. Tangan kekar Mark melingkar di pinggang wanita itu.
Detik berikutnya Mark sudah mengungkung tubuh istrinya dengan bertumpu pada siku. Dia mencium kening, kelopak mata, hidung dan terakhir bibir Gladys.
"Apakah aku boleh melakukan penasan terlebih dulu?" Mark berbisik lembut di telinga Gladys.
"Boleh." Gladys memalingkan wajah ke arah lain, menyembunyikan rona kemerahan di wajah. Dia begitu malu bertatapan dengan pria pemilik mata biru di depannya.
__ADS_1
Tidak ingin menunggu lama, Mark merundukan wajah, mencium benda kenyal itu dengan lembut. Kedua bibir itu saling me*umat dan saling memberikan kenikmatan. Suara erangan halus meluncur dari bibir Gladys.
Perlahan, ciuman itu berubah menjadi ciuman panas. Membuat Gladys semakin gelisah. Dia meremas rambut Mark, memaksa pria itu untuk memperdalam ciuman. Percikan api gairah semakin membara, membakar tubuh keduanya.
Mark melepaskan ciumannya. Kini dia beralih ke leher jenjang sang istri, memberikan tanda kepemilikan di sana. Pria itu menatap mata Gladys dengan tatapan sayu.
Perlahan, Mark melepaskan gaun malam dan melemparkan ke sembarang tempat. Dia terkesiap menatap pemandangan indah di sana. Gladys memejamkan mata saat pria itu menatap dua bukit kembar dengan penuh hawa napsu.
"Buka mataku, Sweetheart. Aku ingin melihat mata almond itu di saat kita bercinta," ujar Mark dengan suara parau.
Wanita itu mengalah dan menuruti keinginan suaminya. Tangan kekar Mark mulai bergerilya, menyentuh setiap inci bagian tubuh Gladys. Mereka saling mencumbu dan meninggalkan jejak percintaan di mana-mana.
Di saat keduanya sudah saling diselimuti kabut gairah, Mark segera melepaskan penutup tubuh yang tersisa. Dengan lembut, dia melakukan penyatuan. Hentakan lembut itu membuat seluruh tubuh Gladys terbang melayang ke udara. Wanita itu menegang saat mencapai puncak kenikmatannya berkali-kali.
Mark menaikan tempo permainan ketika merasakan sebuah gelombang menerjang inti tubuhnya.
"Bertahanlah, Sweetheart, sebentar lagi aku... Aku... Ah..."
Mark memeluk erat tubuh Gladys. Tubuh Gladys seperti candu baginya, membuat pria itu khilaf dan melupakan permintaan istrinya sebelum mereka bercinta.
"Maaf. Tidak seharusnya aku mengeluarkannya di dalam," ucap Mark dengan penuh penyesalan. Dia tidak berani menatap wajah istrinya di bawah sana.
Gladys mengalungkan tangan di leher Mark. "Tidak apa-apa, besok aku akan meminta pil kontrasepsi pada Dokter Diana. Yang terpenting saat ini, kamu sudah puas karena bisa menyalurkan pada tempat dan orang yang tepat," godanya seraya mengerlingkan mata.
"Terima kasih, Sweetheart."
Bersambung
.
.
__ADS_1
.
Episode selanjutnya diperkirakan akan update sore atau malam hari.