BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
ITU HANYA MIMPI


__ADS_3

Jam menunjukan pukul sembilan malam. Saat mobil mewah keluaran terbaru warna hitam masuk ke parkiran basement. Pria itu memarkirkan kendaraannya tepat di depan pintu masuk lift menuju apartemen. Mr. Lee turun dari mobil, lalu berjalan masuk ke dalam lift.


Sudah hampir satu minggu dia lembur karena mengurusi perusahaan yang sedang dalam masalah. Dia kehilangan proyek dengan nominal yang cukup besar. Semua dipertaruhkan oleh Mr. Lee tapi ternyata Dewi Fortuna enggan berpihak kepadanya.


Saat tiba di depan pintu apartemen, dia memasukan kata sandi lalu meraih gagang pintu dan membukanya. Sepi! Itulah yang dirasakan oleh pria asal Negeri Gingseng. Sebuah negara bagian Asia Timur yang terkenal unggul di beberapa bidang salah satunya yaitu musik K-Pop dan drama yang banyak digemari masyarakat tanah air terutama kaum hawa dan remaja putri.


Pria itu berjalan masuk ke dalam apartemen dengan badan lemah dan lesu. Dia menghempaskan tubuh di sofa, lalu melempar jas serta dasi ke sembarang tempat.


"Selamat malam, Mister. Apakah ada yang Anda butuhkan?" tanya seorang pelayan wanita. Dia berdiri di samping sofa panjang yang ada di ruang tamu.


Semenjak Stevanie meninggalkan Mr. Lee, pelayan itu melaksanakan tugasnya kembali sama seperti dulu ketika wanita bertubuh sintal mantan model tanah air sebelum tinggal bersama kekasihnya di apartemen mewah di kawasan Jakarta Pusat.


Rosi, nama pelayan di apartemen Mr. Lee mengambil alih semua tugas Stevanie untuk mengurusi pria bermata sipit itu. Mulai dari bangun hingga tidur kembali, dia akan standby 24 jam melayani sang majikan.


"Tidak ada, Rosi. Kamu boleh kembali ke kamar," ucap Mr. Lee seraya menyenderkan punggung ke belakang. Mata pria itu menengadah dan menatap langit-langit ruang tamu.


"Tunggu." sergah Mr. Lee sebelum pelayan itu berlalu. "Apakah kekasihku tidak datang lagi ke sini?"


Rosi menggelengkan kepala. "Tidak, Tuan. Semenjak pertengkaran itu, Nyonya sudah tidak pulang ke apartemen ini. Mungkin beliau kembali ke apartemennya."


Mr. Lee menarik napas dalam-dalam. Bayangan wajah Stevanie saat dia terluka masih membekas jelas di ingatannya. Bagaimana wanita itu berteriak, menangis dan pergi meninggalkannya sendirian tanpa mengucapkan selamat tinggal, membuat pria itu menyesal karena sudah menghina kekasih yang amat dicintai melebihi apapun di dunia ini.


"Kamu benar-benar pergi dari hidupku, Vanie," ucap Mr. Lee lirih.


"Aku ingin istirahat. Kamu kembalilah ke kamar," titah pria itu pada pelayannya.


Mr. Lee berjalan masuk ke dalam kamar. Terdengar suara pintu di buka. Dia menyalakan saklar lampu lalu memperhatikan keadaan kamar. Lagi-lagi bayangan diri Stevanie terlintas di benaknya.


Pria itu mendengus kesal. "Aku tahu letak kesalahanku di mana tapi seharusnya kamu tidak pergi dari sini!" ucap Mr. Lee seraya berdiri tegak memandangi gemerlap lampu bangunan di seberang sana dari jendela apartemen.


Mr. Lee membalikan tubuh, menatap sebuah figura foto yang terletak di atas nakas. Terlihat sepasang pria dan wanita tengah berciuman dengan background Menara Eiffel, mengenakan pakaian couple terlihat romantis dan serasi.

__ADS_1


Dia tertegun, tatkala netranya menangkap segurat kebahagiaan terlukis di wajah kedua insan manusia yang tengah dimabuk cinta. "Di foto itu, kita terlihat seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. Namun nyatanya, kamu tidak pernah mencintaiku!" teriak Mr. Lee.


"Di hatimu hanya ada Mark seorang. Dia sudah mencampakanmu, tapi mengapa kamu masih mengejar-ngejarnya?" Pria itu melempar figura foto yang ada di atas nakas, ke samping ranjang. Lalu merebahkan tubuh di atas kasur empuk.


Mata Mr. Lee terpejam, mengatur kembali napasnya yang sempat terengah-engah. Dia meraih ponsel di atas nakas, menggeser layar ponsel dengan lemas. Pria itu membuka link yang dikirimkan oleh asistennya. Video itu mulai menampilkan seorang wanita yang amat dirindukan oleh Mr. Lee berdiri dengan anggun di depan para wartawan.


"Brengsek!" makinya. "Ternyata dia benar-benar masih mencintai pria itu!"


"Lihat saja, aku akan buat perhitungan pada kalian semua!" Setelah itu, dia mencari nomor seseorang dan melakukan panggilan.


"Aku punya tugas untukmu!" ucap Mr. Lee.


Pria di seberang sana menjawab, "katakan saja, Tuan, saya bersedia membantumu."


"Culik anak Mark dan bawa bayi itu ke sebuah gedung di daerah Tangerang Selatan. Tepat pukul dua belas siang, kamu sudah ada di sana. Jangan sampai orang curiga!"


"Siap, Tuan. Sesuai permintaan Anda."


"Lagipula, bayi itu tidak layak hidup di muka bumi ini. Dia akan menjadi beban untukmu." Seulas senyum smirk tersungging di bibirnya.


***


"Tidak, jangan bunuh anakku!" teriak Gladys.


"Sweetheart, apa yang terjadi padamu?" Mark mengguncang tubuh istrinya.


Gladys membuka mata, napasnya terengah-engah. Tubuh wanita itu dibanjiri peluh sebesar biji jagung. Dia memeluk erat tubuh Mark.


"Kamu mimpi buruk?" tanya Mark seraya menyeka keringat di kening sang istri.


"Kak, Alpukat. Dia..." Tubuh wanita itu gemetar. Peluh masih membasahi keningnya.

__ADS_1


"Aku bermimpi dia dibunuh orang. Anak kita meninggal ditangan penjahat, Kak."


"Anakku..." Gladys menyingkap selimut lalu beranjak dari ranjang.


"Tunggu!" Mark mencekal lengan wanita itu. "Itu hanya mimpi, tidak akan jadi kenyataan."


"Tapi itu seperti nyata, Kak. Aku melihat sendiri bagaimana wajah menyeramkan pria itu saat membunuh putraku." Air mata jatuh membasahi wajah Gladys. Tubuh dan bibirnya gemetar. Dia menangkup wajah dengan kedua tangan.


Mark segera menyibak selimut, lalu membawa tubuh istrinya dalam pelukan. "Itu hanya bunga tidur. Tak kan jadi kenyataan, Sweetheart. Aku sudah mempekerjakan bodyguard terlatih untuk menjaga Alpukat." Mark mencium puncak kepala sang istri.


Mark melepaskan pelukan, menatap lekat mata indah milik istrinya. Mata yang selalu memberikan kehangatan, kedamaian dan ketenangan bila memandangi bola mata itu. "Percayalah padaku, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuh putraku!"


"Kamu janji, Kak, akan melindungi anak kita?"


Kedua mata itu saling bertatapan. Perlahan, Mark mencondongkan wajah ke depan. Dia menyatukan keningnya dengan kening Gladys. "I promise, Sweetheart. Buah cinta kita akan selama ada aku di sisi kalian."


Melihat bibir Gladys setengah terbuka, membuat Mark ingin mencicipi manisnya madu di dalam sana. Bibir mungil itu bagaikan candu, yang membuat pria berdarah campuran itu ketagihan dan ingin selalu mencecapnya. Bahkan dia merasa, sehari saja tidak menjelajah isi di dalamnya, dunia akan hancur.


"Tatap mataku, apakah ada kebohongan di sana?" tanya Mark seraya menyentuh dagu Gladys.


Gladys menggelengkan kepala secara perlahan. "Tidak ada. Di sana hanya ada kejujuran saja, Sweetheart."


Bersambung


.


.


.


Episode selanjutnya diperkirakan akan update malam hari. Nantikan terus kelanjutan ceritanya ya Kak. Terima kasih. 🙏

__ADS_1


__ADS_2