
Setelah Dokter Raihan memeriksan dan memastikan keadaan Stevanie baik-baik saja pasca operasi, ia sudah diperbolehkan pulang.
"Nyonya Stevanie, hari ini Anda sudah boleh pulang. Kondisi tubuh Anda akan pulih dalam 4-6 minggu ke depan."
"Selama proses pemulihan ada beberapa macam pantangan yang harus dhindari seperti jangan melakukan olahraga berat, puasa berhubungan intim selama 6 minggu kedepan, jangan mengkonsumsi makanan yang protein dengan lemak tinggi dan lebih penting adalah hindari stres."
Dokter Raihan nampak serius memberikan wejangan pada Stevanie sambil sesekali merapikan kacamatanya yang bertengger di hidungnya yang bangir.
"Selama proses penyembuhan, Anda harus banyak di rumah dan bila membutuhkan sesuatu boleh menghubungi saya kapanpun dan dimanapun. Saya akan standby 24 jam khusus untuk Nyonya Stevanie."
"Baik, aku mengerti."
"Jika tidak ada hal yang ditanyakan, saya permisi dulu. Semoga Anda lekas sembuh," ucap Dokter Raihan sebelum meninggalkan ruangan rawat inap kamar presidential suite yang dikhususkan untuk seluruh anggota keluarga Pieter.
Setelah Dokter Raihan meninggalkan ruangan, Stevanie mengeluarkan alat catok dari dalam koper. Ia sedang sibuk mencatok rambutnya menggunakan alat catok rambut agar terlihat lebih bergelombang (curly) sedangkan semua pakaian dan barang-barangnya dirapikan oleh salah satu pelayan yang bekerja di mansion kediaman keluarga Pieter.
"Nyonya, obat-obatan ini mau ditaruh di mana?" ujar kepala pelayan.
"Semua obat-obatan masukan saja ke dalam kotak berwarna putih, nanti akan aku masukan ke dalam tas agar lebih mudah mencarinya ketika dibutuhkan."
Stevanie masih sibuk mempercantik diri, menurutnya meskipun ia dalam keadaan sakit tapi penampilan harus tetap menarik karena sebagai seorang model kunci dari sebuah keberhasilan dalam dunia modeling adalah penampilan.
"Baik Nyonya."
Setelah merapikan semua pakaian dan barang-barang ke dalam koper, Stevanie sudah duduk manis di atas kursi roda. Wanita itu dibantu pelayan mansion, menyusuri lorong rumah sakit menuju lift.
Bola matanya yang indah, dari kejauhan menangkap dua sosok pria beda generasi berjalan ke arahnya. Mereka adalah suami dan mertua Stevanie.
"Papa hari ini juga pulang? Maafkan Stevanie tidak sempat membesuk."
Namun pria paruh baya itu bersikap acuh bahkan terkesan enggan menanggapi lawan bicaranya.
Stevanie hanya memutar bola mata karena mendapatkan perlakukan tidak biasa dari mertuanya. "Kenapa sikap Papa berubah? Apakah ini ada hubungannya dengan operasiku beberap hari lalu?" tanyanya dalam hati.
Tak mau ambil pusing, wanita itu memutar musik menggunakan headset, memejamkan mata sambil menunggu pintu lift terbuka.
"Kalian ikut denganku, kita akan pulang bersama-sama ke mansion."
"Ya, terserah kamu saja," sahut Steanie.
Wanita itu tidak begitu jelas mendengar ucapan suaminya karena ia sedang memutar musik relaksasi dengan volume cukup keras namun sayup-sayup terdengar bahwa Mark memintanya bergabung ke dalam mobil yang sama.
"Silakan, Nyonya," supir itu membukakan pintu untuk Stevanie.
Wanita itu dibantu pelayan duduk di kursi penumpang. Sementara Mark membantu sang Papa, ia dibantu Pak supir dan dua orang security mengangkat tubuh Tuan Ibrahim dan mendudukannya di kursi.
Setelah memastikan ketiga majikannya duduk dengan aman, supir itu menyalakan mesin mobil dan meninggalkan pekarangan rumah sakit menuju mansion.
Sepanjang perjalanan tidak ada satu orang pun yang berani membuka suara, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Setengah jam berlalu, kini mobil berwarna putih itu sudah berada sekitar 5 meter di depan pintu masuk mansion. Di atas sana para pelayan berdiri hendak menambut Mark, Tuan Ibrahim dan Stevanie.
__ADS_1
"Pa, untuk sementara waktu tinggal di sini dulu agar Mark bisa memantau kesehatan Papa," bisik Mark di telinga Tuan Ibrahim.
Pria paruh baya itu hanya menganggukan kepala.
Tepat berada di anak tangga teratas, kepala pelayan dan pelayan yang lain membungkuk hormat.
"Selamat datang kembali di mansion Tuan dan Nyonya," ujar para pelayan hampir bersamaan.
Mark mengangkat tangan memberikan isyarat pada salah satu pelayan wanita untuk mendekat.
"Kamu, tolong antarkan Papa ke kamar tamu persis di samping kamarku."
"Baik, Tuan." Pelayan itu membungkuk dengan hormat dan mengambil alih tugas mendorong kursi roda Tuan Ibrahim, "saya antar Anda ke kamar."
Setelah meminta pelayan membawa Tuan Ibrahim naik ke lantai atas, Mark berjalan meninggalkan Stevanie yang mash berada di belakang.
"Mark, tunggu!" Baru saja berjalan lima langkah kedepan, suara panggilan Stevanie menghentikan langkahnya.
Pelayan mansion lantas mendorong kursi roda hingga posisi mereka kini saling berhadapan.
"Kalian tinggalkan aku dan suamiku," titah Stevanie.
"Mark, apakah Papa akan tinggal selamanya bersama kita di sini?" tanya Stevanie sambil menatap suaminya.
"Benar, memang kenapa? Kamu keberatan jika Papa tinggal bersama kita?"
"Mark, kamu kan tahu aku tidak leluasa jika ada orang lain tinggal bersama kita."
"Vanie, pria yang sedang kau bicarakan itu adalah mertuamu sendiri. Beliau bukan orang lain dan apakah kamu lupa mansion ini dibelikan oleh Papaku jadi dia juga berhak atas mansion ini. Aku harap kamu bisa menerima keputusanku."
"Jika kamu keberatan, pintu mansion terbuka lebar untukmu."
Tak terima, wanita itu menggenggam tangan suaminya.
"Kamu mengusirku?" tanyanya dengan tatapan mengintimidasi.
"Jika kamu berpikiran seperti itu, silakan," ujar Mark acuh.
Ia menghempaskan tangan istrinya, kemudian berjalan menuju lift.
Stevanie menggelengkan kepala, ia tak menyangka sikap mertua dan suaminya kini berubah 180°.
"Apa-apaan ini, mengapa Mark mengambil keputusan tanpa meminta pendapatku. Sungguh menjengkelkan!"
"Pelayan!" ucap Stevanie setengah berteriak.
Dengan tergopoh-gopoh, seorang pelayan yang bertugas mendampingi Stevanie menghampiri sang majikan.
"Ada apa, Nyonya?"
"Temani aku menemui Mr. Lee di perusahaannya."
__ADS_1
"Aku benar-benar merasa sudah tak dianggap di mansion ini. Posisiku sebagai Nyonya rumah sudah hilang."
***
|| PT Glory ||
Siang itu, seperti biasa Mr. Lee kembali sibuk dengan tumpukan berkas di atas meja kerjanya. Semenjak memenangkan proyek dari Mr. Tamada, ia semakin sibuk bahkan pria itu tidak memiliki waktu untuk membesuk Stevanie di rumah sakit.
Saat ia sibuk membuka lembaran berkas, sekilas wajah Stevanie terlintas di kepalanya.
"Ehm, aku harus secepatnya menyelesaikan semua pekerjaan ini agar bisa membesuk Stevanie di rumah sakit."
Kemudian, pria itu kembali melanjutkan pekerjaannya dengan penuh semangat. Ia berharap semua berkas dan laporan bisa selesai tepat waktu.
Sementara itu, di tempat yang sama, seorang wanita ditemani pelayan tengah masuk ke dalam lobi perusahaan. Ia menghampiri meja resepsionis.
"Aku ingin bertemu dengan bosmu!" ujar Stevanie tanpa basa basi.
"Maaf Nyonya, apakah Anda sudah buat janji dengan bos kami?"
"Belum, tapi dia bilang padaku jika ingin menemuinya bisa langsung datang tanpa harus membuat janji."
"Tetap tidak bisa Nyonya, aturan di kantor ini memang mengharuskan semua tamu untuk membuat janji terlebih dulu."
Ucapan resepsionis itu sukses membuat Stevanie marah, kemudian ia berkacak pinggang dan berseru, "kamu tidak tahu siapa aku heh? Berani-beraninya melarangku bertemu atasanmu!"
"Maaf Nyonya, tapi ini sudah menjadi aturan perusahaan. Saya hanya menjalankan tugas saja."
"Oke, kalau begitu aku pastikan kamu akan menerima balasan karena sudah berbuat tidak sopan padaku!"
"Mr. Lee pasti memecatmu karena sudah mempersulitku menemuinya," ucap Stevanie angkuh.
"Nyonya, sebaiknya kita kembali. Ingat pesan Dokter Raihan, Anda diminta banyak istirahat dan tidak boleh stres," seorang pelayan yang berdiri di belakang kursi roda memperingatkan Stevanie.
"Ya, kamu tidak usah cerewet. Aku masih ingat semua perkataan pria itu!"
"Namun sebelum pulang, aku akan menelepon Mr. Lee dan meminta dia memecat wanita itu," ujar Stevanie sambil melirik sinis ke arah resepsionis yang bertugas di balik meja kerja.
Resepsionis itu tersadar dari kekeliruannya, ia segera menegakan tubuh dan berucap, "saya tidak takut jika harus dipecat karena semua informasi yang disampaikan sesuai aturan yang berlaku!" ucapnya tak kalah sinis.
"Kamu..."
Situasi sudah mulai tidak kondusif, sehingga pelayan itu mengambil inisiatif untuk membawa kursi roda majikannya keluar.
"Mari, Nyonya. Kita kembali ke parkiran."
Pelayan itu langsung mendorong kursi roda, meninggalkan lobi kantor menuju parkiran mobil.
Bersambung
.
__ADS_1
.
.