BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU

BERBAGI CINTA : MENJADI ISTRI KEDUA BOSKU
BONUS CHAPTER 10


__ADS_3

~Lima Tahun Kemudian~


Di akhir tahun, biasanya semua orang tengah disibukkan oleh rencana liburan untuk menyambut tahun baru. Begitu pun dengan keluarga kecil Gladys. Wanita cantik berusia dua puluh tujuh tahun itu sedang mengemasi pakaian ke dalam koper. Dia berencana akan menghabiskan malam tahun baru bersama keluarga tercinta.


"Sweetheart, jangan terlalu capek. Ingat kandunganmu!" Mark melingkarkan tangan di pinggang Gladys, lalu menciumi leher jenjang sang istri.


Gladys terlonjak kala Mark mendaratkan ciuman di titik paling sensitif bagi wanita itu. Seketika tubuhnya meremang. Irama jantung mulai memompa lebih kencang. Sekuat tenaga dia menghalau kabut ga*rah yang muncul dengan tiba-tiba.


"Jangan cemas, aku akan menjaganya dengan baik," ucap Gladys dengan suara parau.


Mark membalikkan tubuh sang istri hingga kini posisi mereka saling berhadapan. "Tentu saja aku cemas karena saat ini usia kandunganmu sudah memasuki 9 bulan. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada anak kita."


Gladys tersenyum karena sikap suaminya semakin protektif. Semenjak dokter Dianka memberikan lampu hijau pada pasangan suami istri itu, Mark segera melancarkan aksinya. Hampir tiap malam dia menjamah Gladys hingga akhirnya Tuhan memberikan kepercayaan lagi pada mereka untuk memiliki momongan yang hadir dalam sebuah ikatan pernikahan yang sah. Bukan lagi hamil di luar nikah.


"Sepertinya Kakak lupa bagaimana dulu aku menjaga Alpukat hingga dia tumbuh menjadi anak sehat, cerdas dan tampan mirip Papanya," ucap Gladys sambil menangkup wajah Mark. "Aku berjanji, tidak akan terjadi hal buruk pada si kecil. Sebab, ada Papa dan Kakak yang menjaganya." Setelah itu, dia mengecup bibir Mark.


Mark mematung, mendapat serangan tiba-tiba dari wanitanya. Namun, sedetik kemudian, dia larut dalam permainan yang diciptakan oleh Gladys.


"I want you, Sweetheart. Bolehkah aku menjenguk anak kita di sini?" tanya Mark seraya mengelus perut buncit sang istri.


"Tentu saja. Namun, sebelum itu Kakak harus meminta izin terlebih dulu padanya."


Pria jangkung berambut pirang kecoklatan itu membungkukkan badan, mengecup perut Gladys. "Izinkan Papa menjengukmu malam ini ya, Nak. Papa janji akan memberikan kelembutan padamu dan juga Mama."


Akhirnya malam itu Mark melakukan tugasnya sebagai seorang suami. Gladys hanya bisa pasrah ketika Mark memberikan ciuman yang memabukkan hingga membuat wanita itu hanyut dan terbuai.


Keesokan harinya, Mark bangun terlebih dulu. Satu hal yang sangat dinanti ketika pria itu terbangun dari mimpi panjang yaitu, melihat wajah damai Gladys ketika tertidur. Tanpa riasan make up tebal, wanita bermata almond itu terlihat lebih seksi dan menggoda.

__ADS_1


"Terima kasih Sweetheart, karena kamu masih berada di sisiku hingga detik ini," ujar Mark. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh.


Sementara itu, Gladys baru saja terbangun. Dia mengucek lembut kedua matanya.


Wanita itu tidak langsung beranjak dari kasur, melainkan duduk di tepian ranjang menanti Mark keluar dari kamar mandi sambil memeriksa akun sosial media miliknya.


"Ehm, followerku setiap hari semakin bertambah. Kalau sudah begini, aku harus meminta Naomi mencarikan asisten untuk mengurusi akunku!" gumamnya.


Beberapa saat kemudian, Mark sudah selesai mandi. Dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang.


"Kamu sedang apa?" tanya Mark ketika melihat Gladys begitu sibuk dengan benda pipih berukuran 6.5 inci yang ada di genggaman.


Alih-alih menjawab pertanyaa Mark, Gladys hanya mendelik seraya berkata, "Kepo!" pungkas wanita itu.


Gladys langsung meletakan ponsel di atas nakas, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi tanpa menoleh ke arah suaminya.


***


Setelah menghabiskan waktu satu jam di dalam kamar, Gladys dan Mark turun ke lantai dua. Ketika menyusuri lorong dari arah belakang seorang anak kecil berlari menghampiri mereka.


"Mama ... Papa ....!" seru Alpukat.


Mark segera mengangkat tubuh sang putra ke udara. "Jagoan Papa rupanya sudah bangun."


"Of course, Papa. Hari ini Andra akan liburan, jadi harus bangun pagi." Bocah kecil berusia enam tahun yang wajahnya sangat mirip dengan Mark begitu antusias.


"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya," sapa Bi Mirna, pengasuh Alpukat.

__ADS_1


"Selamat pagi. Bibi sudah menyiapkan semua kebutuhan Andra?"


"Sudah, Nyonya. Semua pakaian dan barang keperluan Tuan Muda sudah masuk ke dalam koper. Termasuk robot Spiderman kesukaannya."


"Terima kasih." Gladys tersenyum lebar. Wanita cantik dalam balutan dress hamil bermotif bunga-bunga kecil mengelus perutnya yang terasa mengeras.


"Perutmu sakit?"


"Hu'um. Sedikit."


" Ya sudah, ayo kita makan dulu! Andra pasti sudah lapar 'kan, Sayang?"


Andra mengangguk. Tubuh mungil itu seperti melayang di udara tatkala tangan kekar Mark menerbangkan kemudian menurunkannya ke lantai. Bocah kecil itu berjalan, tangannya digandeng oleh Mark dan Gladys.


Tiba di ruang makan, kepala pelayan dibantu dua orang pelayan yang lain sedang sibuk menata hidangan di atas meja makan. Dengan perlahan, Gladys duduk di kursi.


"Kak, apakah Kak Joe sudah menghubungimu?" tanya Gladys. Tangan wanita itu meraih centong nasi, lalu menuangkan nasi goreng di atas piring suami.


"Sudah. Pukul dua dini hari pria menyebalkan itu menghubungiku dan memberitahu bahwa mereka sudah tiba di Australia."


Kini Gladys bisa bernapas lega. Sebab, Mama Aura, orang tua angkat, mertua beserta Joe-Kirana dan Dave, keponakan wanita itu mendarat dengan selamat di landasan jet pribadi milik keluarga Kurniawan. Joe berencana menghabiskan malam tahun baru bersama keluarga karena lelah mengurusi pekerjaan yang tidak ada henti-hentinya. Selain itu, dia juga tidak ingin mengganggu Mark dan Gladys untuk menikmati pesta kembang api yang akan diadakan di Bukit Sentul.


"Lebih baik kita sarapan. Nanti kamu ikut aku dulu ke kantor untuk menghadiri rapat penting, setelah itu pergi ke Sentul!"


Kemudian mereka menikmati sarapan dengan penuh khidmat.


TBC

__ADS_1


__ADS_2