
"Beberapa hari lalu, Ameera dirawat di rumah sakit dan aku mendengar bahwa ada seorang pria misterius hendak membunuhnya menggunakan pisau. Apakah pria itu adalah orang suruhanmu?"
Wanita itu tersedak, tangannya terulur mengambil air putih di dalam gelas yang di letakan di samping jus jeruk.
"Sial, bagaimana Mark bisa tahu akulah orang yang menyuruh pria itu membunuh Ameera."
"Setahuku, saat dia kabur tidak ada jejak tertinggal di sana. Mungkinkah CCTV menangkap sosoknya sesaat sebelum kejadian?" batin wanita itu.
"Kenapa kamu terdiam, apakah dugaanku benar?" tanya pria iu penuh selidik.
Kini tatapan pria itu beralih pada istrinya. Ia mengamati setiap gerak gerik wanita itu, menatap matanya.
"Kamu jangan ngaco deh! Aku, mana mungkin tega membunuh pelakor itu!" ucap Stevanie berbohong.
Wanita itu memalingkan wajah ke arah lain, ia khawatir jika terus menatap mata Mark maka kejahatannya terbongkar. Tidak menutup kemungkinan pria itu melapor polisi dan menjebloskannya ke balik jeruji besi.
"Lantas tadi kenapa wajahmu terlihat pucat! Bukankah itu artinya..."
"Gila! Jadi sekarang kamu menuduhku!" bentak Stevanie.
Wanita itu berdiri dan langsung bertolak pinggang.
"Demi gadis itu kamu tega menuduhku!"
"Tiga tahun kita menikah, hanya dalam hitungan bulan saja kamu sudah berubah!"
"Dengan santainya kamu menuduhku. Oh astaga Mark, buka mata dan hatimu." Stevanie tampak frustasi, tangannya menyentuh pundak pria itu.
"Sayang, dia ingin rumah tangga kita hancur jadi mengarang cerita agar kamu membenciku!" wanita itu mulai merendahkan nada bicaranya.
"Bagaimana mungkin aku tidak curiga padamu. Di dunia ini orang yang sangat membenci Ameera hanya kamu seorang jadi tersangka utamanya adalah kamu!" Mark menunjuk wajah istrinya.
Stevanie mematung di tempat, ia tak menyangka Mark akan membela gadis itu habis-habisan.
Dulu sebelum Ameera hadir dalam pernikahannya, sikap pria itu begitu romantis, penyayang, penuh sabar bahkan tidak pernah membentak namun kini Mark berubah menjadi sosok yang menyeramkan. Ia tak segan-segan berkata kasar jika lawan bicaranya berusaha menyinggung istri keduanya.
"Kamu berubah Mark semenjak menikahi gadis itu!"
Tanpa sadar air mata wanita itu menetes, hatinya hancur melihat suami tercinta membela madunya di depan matanya sendiri.
Baginya ini merupakan hal paling menyakitkan selain kabar pernikahan siri yang dilakukan oleh pria itu secara diam-diam.
"Vanie, seharusnya kamu bercermin, di sini siapa yang berubah, aku atau kamu!"
"Jangan salahkan orang lain jika rumah tanggamu hancur tapi instrospeksi diri dan belajarlah menerima kenyataan," ujar pria itu sebelum meninggalkan Stevanie.
"Argh!"
__ADS_1
Wanita itu berteriak histeris, meraung dan memaki Ameera hingga tubuhnya lunglai dan terjatuh di lantai.
Tubuhnya bergetar, suara isak tangis wanita itu terdengar sampai di mana posisi suaminya berdiri.
"Kamu yang menghancurkan rumah tangga kita Vanie, dan karena kamu juga rasa cinta dalam hatiku perlahan-lahan memudar," gumam Mark.
Pria itu berjalan melajukan kendaraannya menuju perusahaan.
Setelah kepergian Mark, wanita itu bangkit dan memakai kimono. Ia berlari ke dalam mansion, tangannya meraih ponsel yang tergeletak di samping meja rias.
"Halo, kita ketemuan di Club Diva sore nanti!" ucap wanita itu pada mantan managernya.
"Oke, aku akan datang sedikit terlambat. Kamu tunggu saja di sana. Sampai ketemu nanti," jawab wanita di seberang sana.
Setelah meluapkan kekesalannya dengan cara menangis dan membanting semua barang-barang yang ada di kamar, wanita itu tertidur.
Kini ia sudah berada di sebuah club terkenal di kota Jakarta. Ini merupakan kedua kalinya wanita itu mengunjungi tempat yang biasa digunakan para pria hidung belang mencari kepuasan duniawi.
Gemerlap lampu disko yang dilatari musik dan dimainkan oleh seorang DJ.
Hingar bingar kota Jakarta seolah tak mampu menembus dentuman musik disko di tempat tersebut. Beberapa pelayan wanita sibuk mondar mandi membawa nampa berisi gelas atau sebotol minuman beralkohol dengan pakaian sangat minim mempertontonkan paha mulus dan bagian dada yang terbuka.
Berbagai jenis manusia berkumpul menjadi satu, tua-muda, laki-laki dan perempuan larut dalam kesenangan duniawi.
Mereka tertawa terbahak-bahak sambil meneguk minuman beralkohol.
Seorang wanita cantik tengah duduk di dekat meja bar, beberapa kali ia terlihat meneguk minuman yang dipesan dari seorang bartender. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri seirama dentingan musik DJ.
"Selama 3 tahun aku setia mendampingimu namun malah kau balas kesetiaanku dengan sebuah pengkhianatan!"
Ia kembali meneguk minuman beralkohol tersebut.
"Berikan aku segelas red wine lagi," pintanya pada bartender.
"Maafkan saya, Nyonya tapi Anda sudah terlalu banyak minum," tolak pria itu secara halus.
"Heh, kamu pikir aku tak sanggup membayar semua minuman yang sudah dipesan!" ucap Stevanie penuh emosi, ia sudah terlalu mabuk hingga kesadarannya hampir hilang.
"Maaf Nyonya, saya tidak bermaksud seperti itu," pria itu membungkuk hormat.
"Cih, dasar rakyat jelata. Berani-beraninya kamu menentangku!" wanita itu bangkit dari kursi bar.
"Aku ini orang kaya, hartaku di mana-mana bahkan kalau mau tempat ini bisa dibeli saat ini juga," ia membanting gelas itu ke atas meja.
Kemudian ia berjalan sempoyongan menuju meja kosong di sebelah meja bar.
"Lihat itu, ada wanita cantik duduk sendirian di sana, sepertinya ia sedang mabuk berat."
__ADS_1
"Aku akan ke sana, siapa tahu bisa kuajak bercinta walau hanya 15 menit," ujar pria itu pada teman rombongannya.
Teman rombongan pria itu tertawa mendengar ucapannya.
"Sudah sana, buktikan pada kami apakah kamu berhasil meniduri wanita itu."
"Oke, akan kubuktikan pada kalian semua!" kemudian ia berjalan menghampiri meja Stevanie.
"Halo Nona cantik, sendirian saja? Apakah aku boleh bergabung denganmu?"
"Terserah!" jawab wanita itu sekedarnya. Ia masih menyenderkan kepalanya di sandaran sofa.
"Nona, jika kuperhatikan sepertinya Anda sedang memiliki beban hidup yang begitu berat. Kalau kamu mau, aku bisa membantumu," bisiknya di telinga Stevanie.
"Enyah kau dari hadapanku!" Wanita itu menjauhkan tubuhnya dari pria asing. Ia beringsut dan memberi jarak.
Stevanie memukul kepalanya berkali-kali berusaha mengembalikan kesadarannya, ia menatap sinis ke arah pria itu.
"Aku peringatkan padamu, jangan coba-coba mendekatiku. Jika tidak..."
"Jika tidak apa, Nona?"
"Kamu pikir orang-orang di sini akan membantumu heh?" pria itu semakin mengikis jarak diantara mereka.
Meskipun kesadaran Stevanie hanya beberapa persen saja, namun indera penciumannya masih berfungsi dengan baik. Ia bisa mencium bau alkohol yang menyengat dari mulut pria asing itu.
"Kamu..."
Stevanie mengarahkan jari telunjuk namun pria itu menepisnya.
Ia malah menyentuh dagu wanita itu dan mencengkramnya erat.
"Dasar wanita sombong, pantas saja hidupmu begitu menyedihkan!"
"Aku akan memberikanmu pelajaran karena berani berkata kasar padaku!"
Tanpa menunggu lama pria itu mendorong tubuh Stevanie hingga ia terlentang di sofa.
Pria itu tersenyum sinis, memandangi tubuh Stevanie mulai dari ujung kaki hingga kepala.
"Nona, aku janji akan bermain lembut asalkan kamu patuh!"
Bersambung
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa beri dukungan untuk author ya Kak. Terima kasih.